Bahasa Ibu, Bahasa Sunda

“Eh, ari kamu teh kemarin sondah sama saha?”

“Teu aku mah da kemarin ga main sondah, main ucing sumput.”

Pernah denger ga percakapan anak-anak kecil sekitar tempat tinggalmu? Coba deh perhatikan, campur aduk belepotan. Daerah saya, sunda, hampir hilang kesundaannya, terutama penggunaan bahasa sundanya. Geli ga sih denger anak kecil, di kampung lah katakan, main sama temannya mencampur bahasa Indonesia dengan bahasa sunda?

Pengen ketawa karena geli, sekaligus miris. Keseharian anak-anak sekarang lebih banyak pakai bahasa Indonesia. Salahkah? Tentu tidak. Bahasa Indonesia juga bahasa kita sebagai warga Indonesia, bahasa nasional. Bahkan sudah banyak dipelajari di beberapa negara di luar negeri. Tapi, sebagai seorang keturunan asli sunda, ya miris saja sehari-hari bukan percakapan bahas sunda yang terdengar di telinga saya. Lah ini nulis blog kok pake bahasa Indonesia? Blog ini kan yang baca bukan cuma orang sunda, biar bisa dibaca seluruh Indonesia yang saya rasa punya keresahan yang sama mengenai bahasa daerah.

Berangkat dari keresahan itu, sekarang ketika saya sudah dititipi seorang anak, saya sedang berupaya untuk mengajarkan bahasa sunda kepada anak saya. Dalam setiap percakapan dan mengajarkan hal apa pun lebih mengutamakan bahasa sunda. Beruntungnya, saya pun mendapat dukungan dari keluarga. Baik keluarga saya dan keluarga istri saya. Mengajarkan anak bahasa sunda menjadi tantangan sendiri, karena saya pun akhirnya harus menggali lagi kemampuan bahasa saya. Terutama untuk pemilihan kata yang baik. Bukan kata yang agak kasar yang biasa digunakan dalam pergaulan. Pencarian kata-kata bahasa sunda yang halus agar anak pun memiliki tutur bahasa yang baik.

Tantangan lain adalah anak saya akan menjadi sedikit berbeda dengan anak-anak lainnya. Kenapa? Karena yang saya perhatikan di sekitar saya lebih banyak orang tua yang berkomunikasi dengan anaknya memakai bahasa Indonesia. Jadi, terkadang ketika anak saya berkumpul dengan anak yang lainnya menjadi sedikit lebih pendiam. Mungkin karena ya tadi diajarinnya lebih banyak bahasa sunda. Tak apa-apa, siapa tahu malah jadi dorongan buat yang lainnya mengajarkan bahasa sunda juga.

Sering juga kalau anak sama ketemu orang lain, entah itu tetangga, atau bahkan keluarga, mereka mengajak bicara anak saya dengan bahasa Indonesia. Dan menjadi bagian saya dan istri saya untuk menjawab atau membantu menjawab anak saya dengan bahasa sunda. Ya supaya lawan bicara anak saya mengerti kalau kami sedang mengajarkan anak bahasa sunda sebagai bahasa komunikasi sehari-harinya.

Bahasa sunda itu sudah tidak diajarkan lagi di sekolah kan? Jadi sudah sewajarnya rumah dan keluarga sebagai tempat pertama anak belajar. Bahasa Indonesia anak nanti juga belajar di sekolah lebih dalam. Ya sekarang juga bukan sama sekali tidak dikenalkan dengan bahasa Indonesia, tapi bahasa sunda lebih menjadi prioritas. Karena kalau bukan kita sendiri yang melestarikan ya siapa lagi? Masa mau bule?

Minimal kita tidak meninggalkan bahasa Ibu, bahasa sunda. Agak aneh jika nanti di kampung yang katanya Jawa Barat, tanah pasundan, tatar sunda, tapi tidak ada yang bicara bahasa sunda. Bahkan sekarang pun banyak juga kan, orang sunda tidak bisa bahasa sunda. Bisanya sunda yang kasar. Bahasa sunda kasar mah ga perlu diajarin juga bisa nanti.

Hayu ah urang mimitian nyarios ku basa sunda!!!

Advertisements

First Born: Welcome to The World, Baby! 

Hello, balik lagi. Eh, ada yang nungguin ga seri first born ini? Hehehe… Lama ini lanjutannya ya karena sok sibuk dengan hal lain. Kita lanjut ceritanya ya. Jadi abis pendarahan kemarin itu, tentunya saya dan istri jadi lebih hati-hati dan waspada. Selektif sama makanan, ngikutin mitos-mitos, ya percaya atau engga kita ambil positifnya aja. Istri kadang jadi bingung, karena banyak ga bolehnya.

Periksa lagi ke dokter, ternyata habis pendarahan kemarin posisi plasenta masih di bawah. Tapi, masih bisa naik dengan asupan makanan dan banyak gerak. Dan satu lagi, rajin-rajin ajak ngobrol calon bayi dalam perut. Minta dia biar bawa plasentanya naik. Mungkin aneh, tapi itu ya semacam latihan komunikasi sama bayinya. 

Soal plasenta ini unik, jadi setelah pendarahan masih di bawah. Periksa selanjutnya udah naik normal di atas dan ga ngalangin jalan lahir. Terus di usia kehamilan 30 mingguan, dokter bilang plasentanya ke bawah lagi, dan ngalangin jalan lahir. Dokter udah bilang cuma bisa lewat operasi lahirannya. Istri sempet down denger kabar itu. Saya pun cuma bisa meyakinkan buat terus berdoa, lakuin posisi sujud lebih sering, makan protein lebih banyak. Nah, menjelang pulang ke Garut. Istri kontrol lagi ke dokter. Alhamdulillah, ternyata plasentanya udah naik lagi ga ngalangin jalan lahir. Dokter pun ga komen apa-apa. Cuma bilang kandungannya bagus. Dokter juga bisa keliru kan. 

Akhir November 2016, istri sudah mulai cuti. Saya pun ambil cuti lebih awal. Cuti reguler. Belum bisa ambil cuti melahirkan, karena regulasinya cuti melahirkan bisa diambil pas harinya. HPL alias hari perkiraan lahir bayinya menurut itungan HPHT (hari pertama haid terakhir) itu jatuh di tanggal 26 Desember. Masih 2 minggu dari cuti yang saya ambil. Cuma firasat istri kalau lahirnya bakalan sebelum itu. Dan supaya saya bisa stand by nemenin. Sebagai suami siaga, saya ikutin kemauan istri. Toh saya juga bisa rehat lebih lama dari kerjaan hehe. 

Dua minggu sudah saya di Garut, cuti tinggal seminggu lagi. Dan istri belum ada tanda-tanda mau lahir. Tiap ditanya, udah mules belum? Ada kontraksi ga? Jawabannya engga. Heran. Dan temen-temennya yang barengan hamil, udah pada lahiran. Kok, ini tanda-tandanya ga ada juga. Agak khawatir, soalnya kalo belum lahir pas cuti habis saya harus balik lagi ke Riau. Kalo pas saya balik, istri lahiran ya berabe bolak-balik. 

Tiap pagi saya dan istri jalan-jalan. Ya keliling komplek lah. Katanya kan itu bisa merangsang kontraksi. Nah, pagi itu kita jalan lah ke depan komplek mau cari sarapan. Sampai di gerbang istri ngerasain kayak ada cairan keluar. Kayak pipis gitu lumayan banyak. Sempat nerusin jalan, sampai numpang dulu ke toilet mesjid buat ngecek. Dia bilang cairanya bening kayak keputihan, tapi lebih kental. Ya udah, akhirnya kita balik lagi ke rumah buat ngecek ke bidan. Kebetulan ada bidan di komplek rumah. 

Kita berangkat ke bidan. Kata mertua sekalian aja bawa tas yang udah disiapin buat lahiran. Baju bayi dan lain-lain. Sampai diperiksa di bidan, katanya udah ada pembukaan. Tapi, baru pembukaan 2. Disaranin buat cek ke dokter kandungan aja, mastiin cairan yang keluar. Yang kemungkinannya air ketuban. Jadi, langsung tancap gas ke klinik bersalin Bunda Alya, yang memang dari kemarin kontrolnya ke sini. Diperiksa dokter udah masuk ke pembukaan tiga, dan cairan yang keluar tadi memang air ketuban yang pecah/ rembes. Dokter langsung ngasih rujukan buat tindakan persalinan. Karena istri ga ngerasain kontraksi dan mules, jadinya dikasih tindakan induksi buat merangsang kontraksinya. Jadi, induksi yang dilakuin itu istri diinfus dan dikasih obat entah apa namanya buat merangsang kontraksi. 

Mulai diinduksi dari jam 11 siang dan baru pembukaan tiga. Sampai jam 3 sore udah masuk ke pembukaan 8. Termasuk cepet. Dan ga kayak orang kontraksi lainnya yang pake teriak-teriak, jerit-jerit, istri saya termasuk sholehah. Sakit pun dia cuma meringis tanpa suara. Ya sesekali mencengkram tangan saya. Ga sampe ada adegan pukul memukul, jambak menjambak, karena rambut saya lagi botak. 

Jam setengah 4 sudah masuk ke pembukaan 9. Proses persalinan segera dilakukan. Dan yang boleh tinggal di dalam cuma satu orang. Sepertinya mamah saya akan lebih banyak membantu di dalam daripada saya. Jadi akhirnya saya menunggu di luar dengan cemas dan deg-degan. Walaupun saat itu sedang ada siaran langsung sepak bola, tapi mana bisa konsen nonton bola kalau pikiran ada di ruang bersalin. Di ruang tunggu selain saya ada juga mamah mertua, kakak saya, kakak ipar, bapak saya. Semua ikutan cemas. Setengah jam kemudian, mamah saya yang di dalam keluar. Katanya harus dibantu vacuum karena istri kelelahan dan ga kuat ngeden. Ya apa pun yang penting istri dan bayinya selamat. 

Jam 16:40 terdengar tangisan bayi yang menggelegar memecah keheningan klinik. Tangis itu begitu nyaring dan kencang. Seketika saya berucap syukur. Bayi saya, anak pertama saya sudah lahir. Saya masuk untuk melihat bayinya. Ia begitu mungil. Perempuan jenis kelaminnya. Beratnya 2500 gram, panjangnya 47 cm. Setelah suster membersihkan dan membedonginya, saya mau mengadzaninya. Ada beda pendapat soal ini, tapi saya ngambil baiknya biar suara pertama yang dia kenal adalah lantunan adzan dari ayahnya. Sempat kikuk antara mau gendong atau engga, karena mungil sekali jadi ragu. Akhirnya saya biarkan dia berbaring dan mengadzaninya di telinga kanan, lalu iqomah di telinga kiri. Selamat datang di dunia, anakku! 

Istri masih di dalam ruang bersalin. Dia masih harus menuntaskan proses persalinan. Dijahit tepatnya dan lama sekali. Dari setelah bayi lahir baru selesai jam 6 lebih. Katanya menghabiskan 2 rol benang. Luar biasa. Waktu proses lahiran seperti biasa dia ga teriak dan menjerit, tapi waktu proses jahit teriakannya kencang. Alhamdulillah istri selamat, bayi selamat. Nikmat Tuhan mana yang kau dustakan. Bimbing kami jadi orang tua yang bisa menjaga dan mendidik titipan-Mu dengan baik dan benar, ya Allah. 

Perpanjangan SIM C di Polres Garut

Udah masuk Februari, cek dompet dan liat SIM C mau habis masa berlakunya. Mumpung lagi libur kerja dan ada di Garut, ya sudah hari ini saya mau ngurus perpanjangan SIM. Karena kalau SIM sudah lewat dari masa berlaku yang tertulis, ga bisa diperpanjang lagi. Harus ikut prosedur pembuatan SIM baru, yang artinya menambah keribetan. Gimana proses perpanjangan SIM? Yang perlu disiapin sih cuma KTP sama SIM C yang mau diperpanjang. 

Saya sampai di Polres Garut sekitar jam 9:30. Tapi ga langsung masuk ke dalam, buat yang baru tahu mendingan ke tempat cek kesehatan. Tempatnya di seberang Polres Garut. Di sana sampingan dengan tukang foto kopi. Jadi, urutannya foto kopi dulu KTP. Kasihin aja sama tukangnya udah ngerti dia. Foto kopi dibikin 4, dan harganya 2000 rupiah saja. Terus masuk ke ruang sebelahnya, tempat cek kesehatan. 

Kasihin dua lembar foto kopi KTP dan nanti bakal ditanyain buat SIM apa dan baru atau perpanjangan. Kalau perpanjangan diminta SIM yang lama. Di kursi pertama diukur berat badan, tekanan darah, sama tes buta warna. Lanjut ke kursi berikutnya buat dapet surat keterangan sehat dan bayar biayanya 30.000 rupiah. Surat keterangan sehat disatuin sama foto kopi KTP dan SIM lama, langsung distaples sama petugasnya. 

Nah, abis itu barulah nyebrang ke Polres-nya. Cari parkiran dulu. Karena tadi saya pake mobil, lumayan jauh tempat parkirnya. Carilah tempat yang bertuliakn Pelayanan SIM. Kalau dari gerbang masuk tadi lurus aja udah kelihatan kok. Masuk ke tempat pelayanan, ada polisi yang jaga dan ditanyain perpanjangan atau baru. Kasihin surat keterangan sehat tadi, plus foto kopi KTP yang sisa dua lagi. Kita bakal dikasih map sama kartu pass masuk ke area pelayanan SIM. 

Karena saya ngurus perpanjangan jadi disuruh langsung ke loket 2. Sebelah kanan dari pintu masuk. Loket 2 memang tulisannya buat pendaftaran perpanjangan. Masukin berkas yang ada di map tadi. Cek sebentar sama polisinya, terus disuruh lanjut ke loket 3 di sebelahnya. Loket 3 itu loket BRI, buat pembayaran urusan SIM. Biaya perpanjangan SIM C itu 75.000 rupiah. Habis bayar, disuruh lanjut ke loket 7 penyerahan berkas. Kasihin map dan tunggu dipanggil. 

Menungu panggilan ini yang bikin kesel. Ada 5 menit baru dipanggil. Udah dipanggil lalu dikasih formulir buat diisi. Isi aja yang kita pahami. Kalau bingung ya tanya pak polisi. Tapi, disitu ada bapak-bapak bukan polisi yang bantu ngasih tahu. Bapak itu kayaknya sih nyewain pulpen, buat orang yang ga bawa pulpen. Untung saya bawa. Abis ngisi formulir, balilin lagi ke loket 7, eh ga deh ke loket sebelahnya, loket 6. Terus ya nunggu dipanggil lagi nama kita. 

Entah berapa lama saya nunggu, baru dipanggil buat masuk ke loket 8. Loket buat pengambilan foto. Di dalem ruangan ini pun nunggu lagi buat dipanggil giliran foto. Sebelum dipanggil, dikasih secarik kertas buat kita tanda tangan dan disimpen sampai giliran foto. Ini buat cetak tanda tangan kita di SIM nanti, atau bisa buat disimpan di database pak polisi. 

Foto udah beres dan nunggu lagi. Buat nerima SIM yang udah jadi. Dan ini lamaaaaaa lagi. Oke, kebanyakan a itu. Tapi, emang lama nunggu dipanggil. Berapa menitnya saya ga merhatiin jam. Dipanggil terus nerima SIM yang baru, selesai proses perpanjangan jam 11 siang. Oke, dari jam 09:30 sampai 11:00, satu jam setengah ya. Lamanya di proses menunggu panggilan. Mungkin ya bapak dan ibu polisi perlu waktu buat verifikasi data,  ga tau juga deh. 

Jadi, perpanjangan SIM ini lebih gampang daripada bikin baru. Bikin baru sih ribet di ujian praktek aja. Total biaya buat perpanjangan SIM, fotokopi KTP 2.000, surat keterangan sehat 30.000, biaya SIM C 75.000, semuanya jadi 107.000 rupiah. Murah dan gampang kan, ga perlu jalur calo segala. Akan lebih enak lagi kalo online yah, tinggal upload data, bayar, SIM jadi. Mesin cetaknya ini sih yang PR. Tapi, tadi ada tulisan SIM Mobile berupa aplikasi. Nanti deh cari tahu dulu….