Pulang

Sesosok pria dengan langkah gontai menyeret koper sambil kepalanya tertegun menghadap lantai.

Kakinya melangkah pergi bergerak melaju, pikirannya kosong jauh terbang meninggalkan raganya.

Dia tak menoleh ke belakang walau ada yang tertinggal. Bukan melupakan, hanya menguatkan diri.

Air mata tak deras mengalir bukan tak ingin menangis, hanya agar kuat orang yang dalam pelukannya.

Hatinya tersiksa, batinnya meronta, dia berteriak dalam diamnya. Anak lelakinya belum kembali.

Emmeril Kahn Mumtadz, pulanglah! Ayahmu menanti untuk memeluk dengan senyum.

3 Juni 2022

CAMPIONI D’ITALIA 2021/2022: AC MILAN

Penasbihan juara liga Italia serie A harus ditentukan sampai giornata ke-38, giornata terkahir, dua klub sekota AC Milan dan Inter Milan yang terpaut 2 poin dalam klasemen harus menentukan nasib mereka masing-masing. Milan melawan tim yang kerap menyulitkan Milan, Sassoulo, sementara Inter menghadapi Sampdoria. Pertandingan yang digelar bersamaan pada hari Minggu malam tanggal 22 Mei 2022 pukul 22:00 WIB itu sangat ditunggu oleh kedua supporter dengan begitu antusias. Fans Milan apalagi, Milan yang berada dalam puncak klasemen hanya perlu hasil imbang untuk memastikan juara. Tentu saja Milan tidak akan puas hanya dengan imbang. Menang adalah target utama ketika bertandang ke Mapei Stadium, kandang Sassoulo.

Sejak peluit sepak mula babak pertama, pemain Milan langsung menyerang pertahanan Sassoulo. Para pemain langsung cover pemain lawan jika kehilangan bola. Serangan Milan lebih banyak dari sisi kiri, Leao menjadi kreator yang mengobrak-abrik sisi kanan pertahanan Sassoulo. Hal ini tidak mengejutkan, karena musim ini Leao bermain sangat luar biasa. Milan terus menekan sehingga banyak peluang tercipta pada menit-menit awal pertandingan. Akhirnya pada menit ke-17, serangan Leao yang memanfaatkan kelengahan lawan berhasil mengirimkan umpan pada Giroud, dan diselesaikan dengan manis melewati kaki pemain bertahan Sassoulo dan menggetarkan jala gawang Sassoulo. Gol pertama ini pun melecut semangat pemain Milan dan terus menggempur Sassoulo.

Menit ke-32 kembali lagi aksi dari Giroud mencetak gol kedua untuk Milan. Sekali lagi permainan impresif Leao yang memberikan assist kedua. Gol ketiga tercipta pada menit ke-36 kali ini melalui sepakan keras Kessie setelah mendapatkan umpan matang dari the one and only, Rafael Leao, yang beroperasi di sisi kanan Milan kali ini. Luar biasa di babak pertama Milan mengungguli Sassoulo dengan tiga gol tanpa balas. Lini serang Milan menggila, lini pertahanan semakin kokoh. Duet Tomori dan Kalulu menjadi sangat solid, Maignan selalu hadir dengan melakukan aksi penyelematannya yang gemilang.

Pada babak kedua Milan masih terus kuat melancarkan ancaman ke pertahanan lawan. Serangan Sassoulo pun terkadang merepotkan, angkat topi untuk lini bertahan. Area tengah lapangan pun solid, kerja sama antara Tonali, Kessie, dan Krunic saling mengisi dan melengkapi. Akhirnya babak kedua berakhir tanpa gol tambahan. Sempat Ibrahimovic menjebol gawang Sassoulo dengan sundulan, lagi dan lagi umpan silang dari Leao. Sayangnya gol itu dianulir karena Leao sudah dalam posisi offside sebelumnya. Kemenangan tiga gol ini memastikan AC Milan sebagai juara liga Italia serie A 2021/2022. Scudetto Milan yang ke-19.

Scudetto ke-19 setelah sebelas tahun lamanya Milan puasa juara. Scudetto terakhir diraih tahun 2011. Penantian yang panjang untuk Milan. Perjalanan yang begitu menguras banyak emosi. Mulai dengan banter era di mana Milan banyak pemain gratisan, pemain antah-berantah yang bahkan tidak dikenal. Sebut saja era Bakaye Traore, Kevin Constant, Djamel Mesbah, dan lain-lain. Tahun 2013 tersingkir dari kompetisi bergengsi Liga Champions, yang baru kembali lagi setelah 7 tahun. Sejak scudetto 2011 itu Milan praktis tidak menjuarai kompetisi apa pun, bahkan berlaga di Liga UEFA pun tidak bisa berbicara banyak, Coppa Italia hanya mampu dua kali runner up dikalahkan Juventus.

Pergantian kepemilikan pun tidak banyak mengubah Milan. Selepas duo Berlusconi dan Galliani, Milan dimiliki pengusaha tiongkok, Yonghong Li. Dengan CEO Marco Fassone Milan membeli banyak pemain karena suntikan dana baru. Tetapi, hal itu malah menjadi masalah baru pasalnya Yonghong Li tidak mampu membayar hutang sehingga akhirnya Elliot Management mengambil alih kepemilikan AC Milan. Berganti-gantinya kepemilikan ini pun sejalan dengan silih bergantinya pelatih. Mulai dari care taker Tassoti, Seedorf, Inzaghi, Mihajlovic, Brocchi, Montella, Gattuso, Giampolo, dan Stefano Pioli.

Berganti pelatih berimbas pada pemain yang datang dan pergi. Sejak mulai banter era hanya segelintir pemain yang memuaskan. Tidak ada nama-nama pemain bintang, bahkan bintang baru pun tidak. Milan sempat disebut tim medioker karena pemainnya dan raihan prestasinya yang tidak sampai 4 besar. Selain pemain baru yang dibeli dengan gratis, atau dengan pinjaman, dan atau dengan harga murah, Milan mengandalkan pemain-pemain jebolan akademi yang dipromosikan ke tim utama. Nama-nama seperti De Sciglio, Locatelli, Cutrone, Cristante, Calabria, dan yang menjadi perhatian besar tentu saja Donnarumma.

Pada tahun 2019 Milan mulai berbenah digawangi CEO, Ivan Gazidis, memboyong legenda Milan, Paolo Maldini, sebagai direktur teknik. Milan mulai merekrut pemain-pemain baru. Pada awalnya seperti pada banter era, banyak nama rekrutan baru yang tidak familiar seperti Hernandez, Saelemakers, Kalulu, Messias, dan lain-lain. Rekrutan baru ini menjadi pondasi Milan membentuk karakter tim yang baru. Musim 2020/2021 Milan merasakan hasil dari pondasi ini, memuncaki klasemen dan menjadi juara paruh musim. Sayangya, sampai akhir musim Milan mulai melemah dan akhirnya harus rela melepaskan scudetto yang diboyong Inter dan menjadi juara dua.

Tahun 2022 akhirnya Milan menjuarai Liga Italia Serie A musim 2021/2022. Scudetto ke-19 setelah penantian sebelas tahun. Bagi para pecinta Milan hal ini menjadi puncak emosi yang luar biasa, tak sedikit milanisti yang menitikan air mata, tidak terkecuali saya. Dari saya masih lajang, sampai saat ini saya sudah punya dua anak, akhirnya euforia juara bisa dirasakan lagi. Kemenangan ini menjadi titik bahwa Milan sebenarnya bisa bangkit dengan berbagai macam polesan, kerja sama di semua lini baik manajemen, staff, pelatih, dan tentu pemain itu sendiri. Kita sebagai milanisti hanya bisa mendukung, berdoa.

Scudetto ini menjadi harapan agar Milan lebih konsisten lagi, lebih baik lagi ke depannya. Saat ini kita nikmati saja…

CAMPIONE! CAMPIONE! CAMPIONE!

MILAN CAMPIONE!

FORZA MILAN!!!

%d bloggers like this: