Sampai Kapan?

Tulisan kali ini bakalan penuh emosional. Pasalnya berkaitan dengan tragedi yang baru terjadi, yaitu meninggalnya seorang suporter sepak bola. Haringga Sirilla seorang suporter tim Persija, dikabarkan meninggal karena dikeroyok oleh suporter dari tim Persib sebelum laga kedua tim itu dimulai pada Minggu sore tanggal 23 September 2018. Kabar itu meluas justru setelah pertandingan usai dan menyebarnya video tentang penganiayaan suporter itu. Apa yang ada dalam video tersebut bukan hal yang patut ditonton. Buat saya kata yang tepat untuk menggambarkan hal itu adalah menjijikan.

Menjijikan ulah sebagian suporter Persib yang tidak punya rasa malu, rasa kemanusiaan. Menjijikan ulah suporter yang melakukan penganiayaan, menjijikan ulah suporter yang membiarkan penganiayaan itu terjadi di depan matanya, dan didokumentasikan entah untuk tujuan apa. Menjijikan melihat segerombolan orang menganiaya satu orang dan berbahagia atasnya.

Suporter Persib bisa berdalih, kenapa dia berani datang ke Bandung sedangkan sudah ada larangan dari kepolisian dan bahkan ada himbauan juga dari petinggi Persija? Hal itu tidak lantas menjadikan alasan bahwa kita boleh melakukan kekerasan terhadap suporter Persija bila ada yang datang ke stadion untuk menyaksikan pertandingan klub kesayangannya. Karena beberapa orang dari kita sebagai bobotoh Persib pun pasti punya keinginan yang kuat untuk menonton Persib jika berlaga di Jakarta.

Untuk apa melakukan penganiyaan seperti itu, toh tidak ada untungnya bagi kita sebagai suporter. Apalagi dilakukan kepada suporter lawan yang hanya sendirian. Sedangkan bobotoh ada ribuan jumlahnya di sana. Sungguh perbuatan orang-orang pengecut. Dan tak perlu ragu menyebut para pelaku itu sebagai suporter Persib, tidak ditambah embel-embel oknum. Karena dengan menyebut oknum ada penyangkalan bahwa hal yang dilakukan pelaku adalah tanggung jawab kita. Tidak semua bobotoh seperti mereka, toh saya pun bobotoh. Saya bukan bobotoh yang rajin ke stadion memang, dan sepertinya yang datang ke stadion pun ya bobotoh yang beberapa sebenarnya tidak tahu soal sepakbola. Karena ya saya tahu beberapa orang yang seperti itu.

Sampai kapan akan terus begini? Sampai kapan jatuh korban terus? Mau sampai kapan mau berhenti? Jangan menunggu berhenti sampai kamu sendiri yang berhenti punya nyawa. Rivalitas dalam olah raga bukan rivalitas yang negatif. Tidak ada gunanya sepak bola kalau harus ada nyawa yang dikorbankan. Tak penting fanatisme jika kamu kehilangan nyawamu.

Kejadian ini adalah tanggung jawab kita sebagai pecinta sepak bola. Bangun rivalitas yang positif, saling adu kehebatan di lapangan untuk pemain, dan saling adu kegembiraan untuk para suporter. Bukankah kita mencintai sepak bola karena kita bahagia karenanya?

Sekarang saatnya para petinggi klub suporter, dalam hal ini Jakmania dan Bobotoh untuk benar-benar serius berdamai. Dijaga setiap akun akun media sosial fanbase yang sering menyebarkan kebencian dan provokasi. Tidak akan mudah, tapi insya allah bisa. Rivalitas hanya 90 menit di pertandingan. Pemain di lapangan dan kita suporter di tribun. Adu chant, adu koreo, adu kreativitas. Keluar dari stadion kembali lagi berpelukan. Karena kita saudara.

Salah satu esensi sepak bola ada kebersamaan. Silaturahmi. Tak perlu adu otot. Friksi-friksi kecil antar pemain di lapangan itu hal wajar karena tensi pertandingan dan adrenalin. Pun suporter pasti ada friksi. Tapi, biarkan itu berlalu di pertandingan, setelahnya kita kembali menjadi saudara.

Hilangkan pemikiran bahwa kalau bobotoh dan jakmania tidak ribut, tidak seru. Itu bego namanya. Suporter yang sudah berumur jadilah dewasa, beri contoh dan bimbingan yang baik buat suporter yang masih muda, yang masih labil, karena mereka belum paham dunia ini. Mereka hanya ikut-ikutan.

Sekarang bukan waktunya buat mencari siapa yang salah. Sekarang bagaimana caranya menyelesaikan masalah. Kita semua pasti tidak mau sepak bola di Indonesia mati cuma karena ulah beberapa suporter yang goblok. Semua klub suporter di Indonesia harus rembug bareng, menyamakan pendapat, mensatusuarakan tujuan. Bisa jadi semacam jambore nasional klub suporter yang diisi acara-acara yang positif. Biar sepak bola Indonesia menjadi tontonan yang lebih menarik, membahagiakan, dan mempersatukan.

SADARLAH SUPORTER SEPAK BOLA INDONESIA. JANGAN BIARKAN SEPAK BOLA INDONESIA MATI!!!

Advertisements

Bahasa Ibu, Bahasa Sunda

“Eh, ari kamu teh kemarin sondah sama saha?”

“Teu aku mah da kemarin ga main sondah, main ucing sumput.”

Pernah denger ga percakapan anak-anak kecil sekitar tempat tinggalmu? Coba deh perhatikan, campur aduk belepotan. Daerah saya, sunda, hampir hilang kesundaannya, terutama penggunaan bahasa sundanya. Geli ga sih denger anak kecil, di kampung lah katakan, main sama temannya mencampur bahasa Indonesia dengan bahasa sunda?

Pengen ketawa karena geli, sekaligus miris. Keseharian anak-anak sekarang lebih banyak pakai bahasa Indonesia. Salahkah? Tentu tidak. Bahasa Indonesia juga bahasa kita sebagai warga Indonesia, bahasa nasional. Bahkan sudah banyak dipelajari di beberapa negara di luar negeri. Tapi, sebagai seorang keturunan asli sunda, ya miris saja sehari-hari bukan percakapan bahas sunda yang terdengar di telinga saya. Lah ini nulis blog kok pake bahasa Indonesia? Blog ini kan yang baca bukan cuma orang sunda, biar bisa dibaca seluruh Indonesia yang saya rasa punya keresahan yang sama mengenai bahasa daerah.

Berangkat dari keresahan itu, sekarang ketika saya sudah dititipi seorang anak, saya sedang berupaya untuk mengajarkan bahasa sunda kepada anak saya. Dalam setiap percakapan dan mengajarkan hal apa pun lebih mengutamakan bahasa sunda. Beruntungnya, saya pun mendapat dukungan dari keluarga. Baik keluarga saya dan keluarga istri saya. Mengajarkan anak bahasa sunda menjadi tantangan sendiri, karena saya pun akhirnya harus menggali lagi kemampuan bahasa saya. Terutama untuk pemilihan kata yang baik. Bukan kata yang agak kasar yang biasa digunakan dalam pergaulan. Pencarian kata-kata bahasa sunda yang halus agar anak pun memiliki tutur bahasa yang baik.

Tantangan lain adalah anak saya akan menjadi sedikit berbeda dengan anak-anak lainnya. Kenapa? Karena yang saya perhatikan di sekitar saya lebih banyak orang tua yang berkomunikasi dengan anaknya memakai bahasa Indonesia. Jadi, terkadang ketika anak saya berkumpul dengan anak yang lainnya menjadi sedikit lebih pendiam. Mungkin karena ya tadi diajarinnya lebih banyak bahasa sunda. Tak apa-apa, siapa tahu malah jadi dorongan buat yang lainnya mengajarkan bahasa sunda juga.

Sering juga kalau anak sama ketemu orang lain, entah itu tetangga, atau bahkan keluarga, mereka mengajak bicara anak saya dengan bahasa Indonesia. Dan menjadi bagian saya dan istri saya untuk menjawab atau membantu menjawab anak saya dengan bahasa sunda. Ya supaya lawan bicara anak saya mengerti kalau kami sedang mengajarkan anak bahasa sunda sebagai bahasa komunikasi sehari-harinya.

Bahasa sunda itu sudah tidak diajarkan lagi di sekolah kan? Jadi sudah sewajarnya rumah dan keluarga sebagai tempat pertama anak belajar. Bahasa Indonesia anak nanti juga belajar di sekolah lebih dalam. Ya sekarang juga bukan sama sekali tidak dikenalkan dengan bahasa Indonesia, tapi bahasa sunda lebih menjadi prioritas. Karena kalau bukan kita sendiri yang melestarikan ya siapa lagi? Masa mau bule?

Minimal kita tidak meninggalkan bahasa Ibu, bahasa sunda. Agak aneh jika nanti di kampung yang katanya Jawa Barat, tanah pasundan, tatar sunda, tapi tidak ada yang bicara bahasa sunda. Bahkan sekarang pun banyak juga kan, orang sunda tidak bisa bahasa sunda. Bisanya sunda yang kasar. Bahasa sunda kasar mah ga perlu diajarin juga bisa nanti.

Hayu ah urang mimitian nyarios ku basa sunda!!!

First Born: Welcome to The World, Baby! 

Hello, balik lagi. Eh, ada yang nungguin ga seri first born ini? Hehehe… Lama ini lanjutannya ya karena sok sibuk dengan hal lain. Kita lanjut ceritanya ya. Jadi abis pendarahan kemarin itu, tentunya saya dan istri jadi lebih hati-hati dan waspada. Selektif sama makanan, ngikutin mitos-mitos, ya percaya atau engga kita ambil positifnya aja. Istri kadang jadi bingung, karena banyak ga bolehnya.

Periksa lagi ke dokter, ternyata habis pendarahan kemarin posisi plasenta masih di bawah. Tapi, masih bisa naik dengan asupan makanan dan banyak gerak. Dan satu lagi, rajin-rajin ajak ngobrol calon bayi dalam perut. Minta dia biar bawa plasentanya naik. Mungkin aneh, tapi itu ya semacam latihan komunikasi sama bayinya. 

Soal plasenta ini unik, jadi setelah pendarahan masih di bawah. Periksa selanjutnya udah naik normal di atas dan ga ngalangin jalan lahir. Terus di usia kehamilan 30 mingguan, dokter bilang plasentanya ke bawah lagi, dan ngalangin jalan lahir. Dokter udah bilang cuma bisa lewat operasi lahirannya. Istri sempet down denger kabar itu. Saya pun cuma bisa meyakinkan buat terus berdoa, lakuin posisi sujud lebih sering, makan protein lebih banyak. Nah, menjelang pulang ke Garut. Istri kontrol lagi ke dokter. Alhamdulillah, ternyata plasentanya udah naik lagi ga ngalangin jalan lahir. Dokter pun ga komen apa-apa. Cuma bilang kandungannya bagus. Dokter juga bisa keliru kan. 

Akhir November 2016, istri sudah mulai cuti. Saya pun ambil cuti lebih awal. Cuti reguler. Belum bisa ambil cuti melahirkan, karena regulasinya cuti melahirkan bisa diambil pas harinya. HPL alias hari perkiraan lahir bayinya menurut itungan HPHT (hari pertama haid terakhir) itu jatuh di tanggal 26 Desember. Masih 2 minggu dari cuti yang saya ambil. Cuma firasat istri kalau lahirnya bakalan sebelum itu. Dan supaya saya bisa stand by nemenin. Sebagai suami siaga, saya ikutin kemauan istri. Toh saya juga bisa rehat lebih lama dari kerjaan hehe. 

Dua minggu sudah saya di Garut, cuti tinggal seminggu lagi. Dan istri belum ada tanda-tanda mau lahir. Tiap ditanya, udah mules belum? Ada kontraksi ga? Jawabannya engga. Heran. Dan temen-temennya yang barengan hamil, udah pada lahiran. Kok, ini tanda-tandanya ga ada juga. Agak khawatir, soalnya kalo belum lahir pas cuti habis saya harus balik lagi ke Riau. Kalo pas saya balik, istri lahiran ya berabe bolak-balik. 

Tiap pagi saya dan istri jalan-jalan. Ya keliling komplek lah. Katanya kan itu bisa merangsang kontraksi. Nah, pagi itu kita jalan lah ke depan komplek mau cari sarapan. Sampai di gerbang istri ngerasain kayak ada cairan keluar. Kayak pipis gitu lumayan banyak. Sempat nerusin jalan, sampai numpang dulu ke toilet mesjid buat ngecek. Dia bilang cairanya bening kayak keputihan, tapi lebih kental. Ya udah, akhirnya kita balik lagi ke rumah buat ngecek ke bidan. Kebetulan ada bidan di komplek rumah. 

Kita berangkat ke bidan. Kata mertua sekalian aja bawa tas yang udah disiapin buat lahiran. Baju bayi dan lain-lain. Sampai diperiksa di bidan, katanya udah ada pembukaan. Tapi, baru pembukaan 2. Disaranin buat cek ke dokter kandungan aja, mastiin cairan yang keluar. Yang kemungkinannya air ketuban. Jadi, langsung tancap gas ke klinik bersalin Bunda Alya, yang memang dari kemarin kontrolnya ke sini. Diperiksa dokter udah masuk ke pembukaan tiga, dan cairan yang keluar tadi memang air ketuban yang pecah/ rembes. Dokter langsung ngasih rujukan buat tindakan persalinan. Karena istri ga ngerasain kontraksi dan mules, jadinya dikasih tindakan induksi buat merangsang kontraksinya. Jadi, induksi yang dilakuin itu istri diinfus dan dikasih obat entah apa namanya buat merangsang kontraksi. 

Mulai diinduksi dari jam 11 siang dan baru pembukaan tiga. Sampai jam 3 sore udah masuk ke pembukaan 8. Termasuk cepet. Dan ga kayak orang kontraksi lainnya yang pake teriak-teriak, jerit-jerit, istri saya termasuk sholehah. Sakit pun dia cuma meringis tanpa suara. Ya sesekali mencengkram tangan saya. Ga sampe ada adegan pukul memukul, jambak menjambak, karena rambut saya lagi botak. 

Jam setengah 4 sudah masuk ke pembukaan 9. Proses persalinan segera dilakukan. Dan yang boleh tinggal di dalam cuma satu orang. Sepertinya mamah saya akan lebih banyak membantu di dalam daripada saya. Jadi akhirnya saya menunggu di luar dengan cemas dan deg-degan. Walaupun saat itu sedang ada siaran langsung sepak bola, tapi mana bisa konsen nonton bola kalau pikiran ada di ruang bersalin. Di ruang tunggu selain saya ada juga mamah mertua, kakak saya, kakak ipar, bapak saya. Semua ikutan cemas. Setengah jam kemudian, mamah saya yang di dalam keluar. Katanya harus dibantu vacuum karena istri kelelahan dan ga kuat ngeden. Ya apa pun yang penting istri dan bayinya selamat. 

Jam 16:40 terdengar tangisan bayi yang menggelegar memecah keheningan klinik. Tangis itu begitu nyaring dan kencang. Seketika saya berucap syukur. Bayi saya, anak pertama saya sudah lahir. Saya masuk untuk melihat bayinya. Ia begitu mungil. Perempuan jenis kelaminnya. Beratnya 2500 gram, panjangnya 47 cm. Setelah suster membersihkan dan membedonginya, saya mau mengadzaninya. Ada beda pendapat soal ini, tapi saya ngambil baiknya biar suara pertama yang dia kenal adalah lantunan adzan dari ayahnya. Sempat kikuk antara mau gendong atau engga, karena mungil sekali jadi ragu. Akhirnya saya biarkan dia berbaring dan mengadzaninya di telinga kanan, lalu iqomah di telinga kiri. Selamat datang di dunia, anakku! 

Istri masih di dalam ruang bersalin. Dia masih harus menuntaskan proses persalinan. Dijahit tepatnya dan lama sekali. Dari setelah bayi lahir baru selesai jam 6 lebih. Katanya menghabiskan 2 rol benang. Luar biasa. Waktu proses lahiran seperti biasa dia ga teriak dan menjerit, tapi waktu proses jahit teriakannya kencang. Alhamdulillah istri selamat, bayi selamat. Nikmat Tuhan mana yang kau dustakan. Bimbing kami jadi orang tua yang bisa menjaga dan mendidik titipan-Mu dengan baik dan benar, ya Allah.