Jalan-Jalan ke Situ Bagendit

Secara harafiah memang jalan-jalan kok. Niatnya hari ini mau olahraga pagi dengan berlari. Lari di trek lari kerkof rasanya bosan dan monoton. Jadi kenapa tidak lari ke Bagendit saja yang memang tidak jauh dari rumah. Cek google maps jaraknya kurang lebih 5 km dengan waktu tempuh sekitar 1 jam lebih dengan jalan kaki. Lumayan lah patut kita coba, lari pagi ke Situ Bagendit. Semangat olahraga, jaga badan hahaha. Jam setengah tujuh sudah siap pakai celana pendek gaya joger, pakai jaket sporty, pakai sepatu lari, mari kita lari.

Lari ke Bagendit keputusan tepat karena udara yang sangat segar, di sepanjang jalur lari yang saya lewati masih banyak sawah-sawah hijau yang luas. Sungguh pemandangan yang memanjakan mata. Jalanan pun masih bisa dibilang sepi. Memang sekarang sudah banyak kendaraan bermotor lalu lalang, tapi ya itu konsekuensi kemajuan jaman toh. Tadinya saya pikir lari lima kilometer buat saya tidak akan kuat dan ternyata saya benar hahaha. Jadi saya siasati dengan melakukan kombinasi lari dan jalan santai. Sekian meter lari, sekian meter jalan. Kalau diingat-ingat kayaknya banyakan jalannya ini mah. Jadi judul tulisan ini masih relevan kan. Jalan-jalan.

Jam setengah delapan lebih sedikit saya sudah sampai di Situ Bagendit. Sesuai dengan estimasi yang diberikan google maps. Bagi yang belum tahu apa itu Situ Bagendit, saya kasih penjelasan sedikit mengutip dari laman wikipedia. Situ Bagendit terletak di desa Bagendit, Kecamatan Banyuresmi Kabupaten Garut, Jawa Barat, Indonesia. Situ Bagendit merupakan objek wisata alam berupa danau dengan batas administrasi di sebelah utara berbatasan dengan Desa Banyuresmi, di sebelah selatan berbatasan dengan Desa Cipicung, di sebelah timur berbatasan dengan Desa Binakarya, dan di sebelah barat berbatasan dengan Desa Sukamukti.

Setahu saya Situ Bagendit merupakan danau alami bukan danau buatan, koreksi kalau saya salah ya. Orang Garut pasti sudah mengenal legenda Situ Bagendit yang bercerita tentang asal muasal terjadinya situ tersebut. Kalau yang belum tahu, sudah pakai smartphone semua coba itu google-nya dipakai dengan bijak.

Gerbang Utama Objek Wisata Situ Bagendit

Ini pertama kali lagi saya menginjakan kaki di Bagendit yang sudah banyak mengalami perubahan. Saya tidak ingat terakhir kali saya ke sini entah tahun berapa, yang jelas lama sekali dan Bagendit tidak seperti sekarang. Yang paling membedakan sih lebih tertata, fasilitas dilengkapi, dan ditambah ada sarana hiburan lainnya. Spot untuk foto-foto pun ada lumayan banyak dan bagus.

Objek Wisata Situ Bagendit
Situ Bagendit

Dulu di sini hiburannya selain untuk menikmati pemandangan danau yang luas dengan latar belakang gunung, kalau tidak salah itu Gunung Halimun, di sini juga bisa menaiki rakit tradisional untuk melintasi danau, juga ada wahana bebek air alias sepeda air yang berbentuk bebek. Kedua hal itu masih dipertahankan. Sekarang ditambah dengan adanya wahana kereta mini. Walau pun kalau saya lihat kondisi keretanya sudah jelek, seperti tidak dirawat. Entah masih difungsikan atau tidak. Fasilitas tambahan lainnya adalah adanya kolam renang. Cuma sayang sepertinya terbengkalai dan tidak dipakai. Kondisinya kotor, airnya keruh. Lagi-lagi sepeti tidak ada perawatan khusus untuk fasilitas yang ada di sini. Satu lagi yang dulu tidak ada seingat saya adalah yang mereka sebut sebagai taman hutan. Letaknya disamping situ itu sendiri dan untuk menuju ke sana melalui sebuah jembatan yang cukup bagus untuk spot foto, istilah sekarang mah instagramable.

Wahana Kereta Mini Situ Bagendit
Jembatan Menuju ke Taman Hutan
Taman Hutan Bagendit

Dengan tiket masuk untuk dewasa dibandrol Rp. 5000 dan untuk anak-anak seharga Rp. 3000 masih cukup terjangkau untuk liburan keluarga. Kita bisa membawa bekal sendiri atau beli jajanan yang memang ada di objek wisata ini. Disediakan juga tempat untuk makan, sepertinya bayar sih. Kondisi sekarang warung-warung jajan ini lebih banyak daripada yang saya ingat. Bagusnya sekarang lebih ditata dan difasilitasi tempatnya. Dulu hanya warung begitu saja yang dibuat dari bambu atau kayu. Posisinya pun disesuaikan jadi tidak terlihat semrawut. Untuk harga jajanan saya tidak survey karena masih pagi dan belum pada buka. Dan ini hari kerja jadi sepi. Disediakan juga toilet dan mushola, cuma tadi saya tidak lihat kondisinya. Sepertinya akan sama dengan yang saya bayangkan.

Kios Dagangan di Objek Wisata
Warung-Warung Jajanan
Fasilitas Kolam Renang Situ Bagendit
Bunga Teratai di Situ Bagendit
Kondisi Kolam Renang
Kolam Renang yang Terbengkalai
Wahana Sepeda Air
Rakit Tradisional Situ Bagendit

Satu hal memang yang kurang, pemeliharaannya. Banyak fasilitas yang sudah tidak layak dibiarkan saja. Ya seperti tadi contohnya, kereta api dan fasilitas kolam renang yang terbengkalai. Saya juga jarang menemukan tempat sampah. Ada baiknya di jalur yang dilalui pejalan kaki disediakan juga tempat sampah, selain tempat sampah di dekat kios-kios jualan. Agak mengherankan objek wisata yang dikelola oleh pemerintah kondisinya seperti ini padahal kantor Kecamatan Banyuresmi berada tepat di seberang objek wisata. Kalau bicara dana ya seharusnya ada dan pasti ada alokasi dana untuk pariwisata. Miris saja kondisinya seperti ini, padahal baru beberapa bulan lalu Situ Bagendit didatangi Presiden Indonesia Joko Widodo dalam kunjungan kerjanya.

Semoga saja pemerintah daerah Garut punya perhatian terhadap objek wisata yang ada di Garut. Karena selain mendatangkan pendapatan daerah juga sebagai kebanggaan. Para wisatawan yang datang ke Garut membicarakan tentang pengalamannya yang indah, bukan kekurangannya.

Advertisements

Pilih 1 atau 2?

Satu atau dua, pilih aku atau dia yang engkau suka…

Familiar tidak dengan penggalan lirik dari lagu di atas? Lagu dari band Gamma 1 sepertinya memang terdengar asing bagi sebagian orang, apalagi yang tidak begitu mengikuti musik beraliran pop melayu. Lirik itu menggelitik saya karena berkenaan dengan yang sedang panas saat ini. Pemilihan presiden alias pilpres. Cocok karena calon presiden kita cuma dua. Kontestasi politik ini memang memuakan, sejak pilpres lima tahun lalu di mana calonnya pun cuma ada dua. Ada banyak hal yang membuat muak dalam pemilu ini, lebih banyak disebabkan oleh pergerakan di media sosial yang isinya lebih banyak hal negatif. Saling hina, saling tuduh, saling menyebarkan kebohongan, menyebarkan kebencian, dilakukan oleh kedua kubu. Oleh para fanboy kedua pasangan calon yang diperparah dengan elit-elit politik yang melakukan pembiaran hal itu terjadi, malah ada yang memfasilitasi.

Padahal slogan pemilu itu kan LUBERJURDIL alias langsung umum bebas rahasia jujur adil. Eh masih itu ga slogannya? Ada dua poin yang saya soroti; bebas dan rahasia. Bebas artinya kan pemilih diberikan kebebasan untuk memilih sesuai dengan apa yang dia yakini. Tidak perlu adanya intimidasi apalagi sampai memaksa untuk memilih kandidat tertentu. Poin yang ke dua yang sekarang sudah hilang itu rahasia. Rahasia artinya hanya pemilih saja yang tahu pilihannya. Sekarang kan lain, orang berama-ramai menunjukkan siapa yang dipilihnya bahkan sebelum pemilihan berlangsung. Ini sebenarnya yang sering menimbulkan friksi diantara para pemilih. Orang tahu siapa milih siapa, kemudian jika pilihannya berbeda jika orangnya tidak berpikiran terbuka maka akan terjadi perselisihan. Padahal kalau beda pilihan ya sudah, karena pasti punya alasan masing-masing kan kenapa memilih yang itu.

Perbedaan pilihan ini kemudian diperparah dengan adanya kabar-kabar yang kebenarannya diragukan. Disebarkan hanya untuk menjatuhkan salah satu calon. Isu yang tak benar dibuat seolah-olah benar, dibantu narasi yang sangat bisa dipercayai oleh sebagian orang, disampaikan dengan menggunakan figur yang bisa menggerakan massa. Orang-orang itulah yang bertanggung jawab terjadinya friksi di kalangan pemilih awam yang bukan praktisi politik.

Kampanye yang seharusnya jadi ajang untuk menyampaikan visi misi, menyampaikan program apa saja yang akan dilakukan jika terpilih. Malah jadi ajang menyebar hoaks, menyebarkan kebencian, menyebarkan kampanye hitam. Program-program yang harusnya diutamakan cuma jadi tempelan. Kalau pun bicara program, kadang saya tidak paham bagaimana bisa muncul ide seperti itu yang sulit sekali mewujudkannya. Kampanyenya sekarang lebih kepada bagaimana caranya menjelekkan calon lainnya. Saya bicara mengenai kedua kubu, bukan salah satunya. Ya kedua kubu itu melakukan hal yang serupa sebenarnya. Terutama lagi-lagi di dunia maya atau media sosial. Gerakannya sangat kencang. Mengkhawatirkan, karena banyak yang termakan isu yang dilempar para pembuat gaduh itu. Bahkan kalangan yang saya anggap lebih pintar dari saya bisa dengan mudah kemakan isu tidak benar.

Lalu saya akankah memilih? Tentu saja saya akan memilih. Yang mana? 1 atau 2? Seperti lagu tadi, saya akan memilih yang saya suka. Hasil berbagai macam pertimbangan dan penilaian. Siapa? Saya tetap memegang prinsip RAHASIA. Sebenarnya apa esensi dari kita mengetahui pilihan capres orang lain? Kalau sama jadi teman, kalau beda jadi lawan, begitu? Suram kan, cuma karena pilihan jadi musuhan. Jika dengan tahu pilihan orang lain kita jadi musuhan, saya mending tidak usah tahu dan tidak usah memberi tahu pilihan saya.

Dan kalau pun saya tahu pilihan orang lain, kalau sama ya syukur, kalau beda ya paling awalnya saya akan berpikir: kok bisa? Selanjutnya ya saya tidak akan membahas apa pun, toh dia sama seperti saya punya pemikiran dan penilaian sendiri.

Pesan saya sih, saatnya nanti pemilu datanglah ke TPS, pilihlah siapa yang menurutmu lebih baik. Dan berdoalah pilihan kita adalah pilihan yang bijak untuk kebaikan negara. Semoga yang terbaik yang memimpin negara kita.

Sampai Kapan?

Tulisan kali ini bakalan penuh emosional. Pasalnya berkaitan dengan tragedi yang baru terjadi, yaitu meninggalnya seorang suporter sepak bola. Haringga Sirilla seorang suporter tim Persija, dikabarkan meninggal karena dikeroyok oleh suporter dari tim Persib sebelum laga kedua tim itu dimulai pada Minggu sore tanggal 23 September 2018. Kabar itu meluas justru setelah pertandingan usai dan menyebarnya video tentang penganiayaan suporter itu. Apa yang ada dalam video tersebut bukan hal yang patut ditonton. Buat saya kata yang tepat untuk menggambarkan hal itu adalah menjijikan.

Menjijikan ulah sebagian suporter Persib yang tidak punya rasa malu, rasa kemanusiaan. Menjijikan ulah suporter yang melakukan penganiayaan, menjijikan ulah suporter yang membiarkan penganiayaan itu terjadi di depan matanya, dan didokumentasikan entah untuk tujuan apa. Menjijikan melihat segerombolan orang menganiaya satu orang dan berbahagia atasnya.

Suporter Persib bisa berdalih, kenapa dia berani datang ke Bandung sedangkan sudah ada larangan dari kepolisian dan bahkan ada himbauan juga dari petinggi Persija? Hal itu tidak lantas menjadikan alasan bahwa kita boleh melakukan kekerasan terhadap suporter Persija bila ada yang datang ke stadion untuk menyaksikan pertandingan klub kesayangannya. Karena beberapa orang dari kita sebagai bobotoh Persib pun pasti punya keinginan yang kuat untuk menonton Persib jika berlaga di Jakarta.

Untuk apa melakukan penganiyaan seperti itu, toh tidak ada untungnya bagi kita sebagai suporter. Apalagi dilakukan kepada suporter lawan yang hanya sendirian. Sedangkan bobotoh ada ribuan jumlahnya di sana. Sungguh perbuatan orang-orang pengecut. Dan tak perlu ragu menyebut para pelaku itu sebagai suporter Persib, tidak ditambah embel-embel oknum. Karena dengan menyebut oknum ada penyangkalan bahwa hal yang dilakukan pelaku adalah tanggung jawab kita. Tidak semua bobotoh seperti mereka, toh saya pun bobotoh. Saya bukan bobotoh yang rajin ke stadion memang, dan sepertinya yang datang ke stadion pun ya bobotoh yang beberapa sebenarnya tidak tahu soal sepakbola. Karena ya saya tahu beberapa orang yang seperti itu.

Sampai kapan akan terus begini? Sampai kapan jatuh korban terus? Mau sampai kapan mau berhenti? Jangan menunggu berhenti sampai kamu sendiri yang berhenti punya nyawa. Rivalitas dalam olah raga bukan rivalitas yang negatif. Tidak ada gunanya sepak bola kalau harus ada nyawa yang dikorbankan. Tak penting fanatisme jika kamu kehilangan nyawamu.

Kejadian ini adalah tanggung jawab kita sebagai pecinta sepak bola. Bangun rivalitas yang positif, saling adu kehebatan di lapangan untuk pemain, dan saling adu kegembiraan untuk para suporter. Bukankah kita mencintai sepak bola karena kita bahagia karenanya?

Sekarang saatnya para petinggi klub suporter, dalam hal ini Jakmania dan Bobotoh untuk benar-benar serius berdamai. Dijaga setiap akun akun media sosial fanbase yang sering menyebarkan kebencian dan provokasi. Tidak akan mudah, tapi insya allah bisa. Rivalitas hanya 90 menit di pertandingan. Pemain di lapangan dan kita suporter di tribun. Adu chant, adu koreo, adu kreativitas. Keluar dari stadion kembali lagi berpelukan. Karena kita saudara.

Salah satu esensi sepak bola ada kebersamaan. Silaturahmi. Tak perlu adu otot. Friksi-friksi kecil antar pemain di lapangan itu hal wajar karena tensi pertandingan dan adrenalin. Pun suporter pasti ada friksi. Tapi, biarkan itu berlalu di pertandingan, setelahnya kita kembali menjadi saudara.

Hilangkan pemikiran bahwa kalau bobotoh dan jakmania tidak ribut, tidak seru. Itu bego namanya. Suporter yang sudah berumur jadilah dewasa, beri contoh dan bimbingan yang baik buat suporter yang masih muda, yang masih labil, karena mereka belum paham dunia ini. Mereka hanya ikut-ikutan.

Sekarang bukan waktunya buat mencari siapa yang salah. Sekarang bagaimana caranya menyelesaikan masalah. Kita semua pasti tidak mau sepak bola di Indonesia mati cuma karena ulah beberapa suporter yang goblok. Semua klub suporter di Indonesia harus rembug bareng, menyamakan pendapat, mensatusuarakan tujuan. Bisa jadi semacam jambore nasional klub suporter yang diisi acara-acara yang positif. Biar sepak bola Indonesia menjadi tontonan yang lebih menarik, membahagiakan, dan mempersatukan.

SADARLAH SUPORTER SEPAK BOLA INDONESIA. JANGAN BIARKAN SEPAK BOLA INDONESIA MATI!!!