Membuat Akta Kelahiran di Disdukcapil Kab. Garut

Sudah terlalu lama rasanya tidak menulis di sini. Kebetulan sekali ada tema yang ingin saya bagikan kepada teman-teman pembaca. Alhamdulillah baru saja saya diberikan kepercayaan lagi oleh Tuhan untuk memiliki anak kedua, seorang bayi laki-laki yang lahir melalui persalinan section caesare karena posisi bayi tidak berada di jalan lahir. Kelahiran ini tentu saja harus segera saya urus dokumennya supaya anak saya tercatat oleh negara. Saya harus mengurus akta kelahiran anak. Akta ini sangat penting untuk anak kita ke depannya. Akta selalu diminta dalam setiap pengurusan administrasi dalam hal apa pun, seperti daftar sekolah, buka rekening bank, melamar pekerjaan, pembuatan KTP, dan lain-lain. Untuk anak kedua ini saya berencana untuk mengurusnya oleh saya sendiri.

Untuk membuat akta kelahiran tentunya ada beberapa dokumen yang perlu disiapkan. Saya kutip dari persyaratan dukcapil yang saya unduh di pandu-online.garutkab.go.id, dokumen yang diperlukan antara lain;

  • Surat keterangan kelahiranya dari rumah sakit/ puskesmas/ fasilitas kesehatan/ dokter/ bidan atau surat keterangan kelahiran dari nahkoda kapal laut/ kapten pesawat terbang, atau dari kepala desa/ lurah jika lahir di rumah/ tempat lain, antara lain: kebun, sawah, angkutan umum.
  • Buku nikah/ kutipan akta pernikahan/ bukti lain yang sah.
  • Kartu Keluarga di mana anak akan didaftarkan sebagai anggota keluarga.

Sekarang bagaimana urutannya untuk membuat akta kelahiran anak baru lahir? Jadi setelah saya mengantri berjam-jam di disdukcapil Garut, untuk membuat akta kelahiran anak harus update kartu keluarga (KK) dengan memasukan data anak yang baru lahir ke dalam KK sehingga anak itu memiliki Nomor Induk Kependudukan (NIK). Saya tadinya ingin satu hari saja menyelesaikan urusan dukcapil ini, tetapi ternyata harus ada Surat Keterangan Lahir dari kelurahan atau lazim disebut komsen. Selain itu, saya juga harus mengisi formulir F-2.01 yang harus ada tanda tangan dan cap dari kelurahan. Formulir F-2.01 ini kemarin saya dapatkan dari kantor dukcapil, jika saja saya bisa mendapatkan secara online akan lebih mudah. Dan jika saja penjelasan tentang urutan pembuatan ini saya ketahui lebih dulu akan efesien.

Agar teman-teman yang membaca ini bisa mengikuti alur yang benar menurut saya, akan saya paparkan urutan yang seharusnya dilakukan.

  1. Siapkan dan lengkapi formulir F-2.01.
  2. Buat komsen/ surat keterangan lahir dari keluharan, sekaligus pengesahan formulir F-2.01 yang sudah diisi.
  3. Di kantor dukcapil update KK dengan memasukan nama dan data kelahiran anak agar mendapatkan NIK.
  4. Setelah data anak masuk dalam KK yang baru, lakukan proses pembuatan akta kelahiran anak.

Satu hal lagi mengenai formulir F-2.01 akan saya coba terangkan beberapa poin yang harus di isi.

  • Data bayi/anak. Pada bagian ini isi data anak yang baru lahir dengan lengkap sesuai form yang ada.
  • Data ibu. Pada bagian ini isi data ibu dari anak yang baru lahir dengan lengkap sesuai form yang ada.
  • Data ayah. Pada bagian ini isi data ayah dari anak yang baru lahir dengan lengkap sesuai form yang ada.
  • Data pelapor. Pada bagian ini isi data dari pelapor pembuatan anak yang baru lahir dengan lengkap sesuai form yang ada. Jika yang melapor ayahnya, isikan kembali data ayahnya.
  • Data saksi. Pada bagian ini isi data saksi-saksi (ada 2 saksi) kelahiran anak yang baru lahir dengan lengkap sesuai form yang ada.

Lengkapi formulir F-2.01 dengan lengkap dan jelas, ditanda-tangani oleh pelapor dan lurah. Sertakan juga fotokopi KTP dari Ibu, Ayah, Pelapor, dan Saksi untuk diserahkan di kantor dukcapil. Heran, sudah KTP-el masih saja perlu fotokopi ya. Seperti itu lah langkah untuk membuat akta kelahiran anak yang baru lahir. Setiap dokumen yang disiapkan, usahakan untuk fotokopi minimal 2 lembar untuk jaga-jaga jika diminta oleh petugas dukcapil.

Tadinya saya ingin membuat ini melalui online, apa daya situs dukcapil Garut pandu-online.garutkab.go.id sudah saya akses tetapi malah membingungkan. Entah ada kesalahan pada server-nya atau pada algoritma situsnya. Ketika meminta nomor antrian tidak ada tombol yang bisa diklik selain TUTUP. Berbeda dengan situs-situs dukcapil di kota lain yang saya cari di mesin pencari Google, sangat lancar, informasi lengkap, bahkan formulir yang diperlukan bisa diunduh langsung di sana. Semoga saja ada perbaikan, repot soalnya kalau harus langsung ke dukcapil. Saya harus mengantri panjang sampai mengular untuk mendapatkan nomor antrian, yang kemudian antri lagi untuk mendapatkan pelayanan sesuai nomor antrian yang didapat, lalu nanti antri lagi dipanggil untuk menerima hasil dari pelayanan. Melelahkan.

Itu saja, semoga bermanfaat.

formulir F-2.01 bisa diunduh di

http://dukcapil.sragenkab.go.id/download_formulir/16-formulir-f-201

Saga Drama Donnarumma

Gianluigi Donnarumma kiper timnas Italia yang akrab disapa Gigio sedang menjadi perbincangan panas di media sosial. Pada laga semi final UEFA Nations League antara timnas Italia melawan timnas Spanyol (07/10/2021) yang digelar di Stadion San Siro, Milan terjadi sebuah insiden yang melibatkan tifosi Italia, khususnya tifosi AC Milan yang melakukan ‘booing‘ kepada mantan kiper AC Milan tersebut. Hal ini pun memicu banyak perdebatan di media sosial, terutama tifosi Gli Azzuri yang juga tifosi Milan dan tifosi Gli Azzuri di luar tifosi Milan. Banyak yang mengkambinghitamkan booing itu menjadi salah satu penyebab Italia kalah 1-2 dari Spanyol.

Tifosi Italia di luar Milanisti banyak yang menyayangkan perlakuan Milanisti pada insiden di San Sirotersebut. Mereka berpendapat bahwa Gigio sedang berlaga membela timnas tidak sepantasnya dicemooh seperti itu. Banyak yang menyebut fans Milan kekanak-kanakan jika hanya karena Gigio hengkang dari AC Milan diperlakukan seperti itu ketika membela timnas. Sementara para fans AC Milan yang lain banyak yang mendukung apa yang dilakukan tifosi di stadion terhadap Gigio. Menurut mereka pantas saja dia menerima itu setelah apa yang dia lakukan kepada Milan. Drama kenaikan gaji dan perpanjangan kontrak yang terjadi selama ini yang membuat tifosi Milan memaklumi tindakan ultras Milan di San Siro yang notabene juga kandang AC Milan.

Mari kita flashback ke drama Donnarumma ini. Pada tahun 2017 drama ini dimulai ketika perpanjangan kontrak kiper berusia 18 tahun kala itu tidak ada kejelasan. Keinginan sang pemain dan agennya yang meminta kenaikan gaji yang cukup besar menjadi pangkal masalahnya. Sebelumnya Gigio menginginkan hengkang dari AC Milan. Buntut dari drama itu, pada laga Euro U-21 di Polandia antara timnas Italia melawan timnas Denmark, Gigio pun mendapat hujatan dari fans. Karena dianggap mata duitan, ada fans yang melempari Gigio di lapangan dengan uang dollar tiruan. Ada juga fans yang membentangkan spanduk dengan tulisan: “Dollarumma”.

Alotnya proses negoisasi ini akhirnya mencapai kesepakatan perpanjangan kontrak Gigio selama 5 musim dengan gaji 6 juta euro per musim. Nilai ini menjadikan sang kiper muda menjadi pemain dengan gaji tertinggi kedua di AC Milan setelah Ibrahimovic yang digaji 7 juta euro, juga menjadikan Gigio pemain muda dengan bayaran termahal di Serie A.

Drama kedua tentu saja bursa transfer musim 2021 kemarin, Gigio yang akan berkahir masa kontraknya dengan AC Milan belum juga berniat memperpanjangnya. Bahkan Milan sudah menawarkan kenaikan senilai 8 juta euro, tetapi sang pemain dan agennya, Mino Raiola, dikabarkan meminta nilai sebesar 12 juta euro per musim. Fantastis bukan? Negoisasi pun berlangsung tarik ulur antara kedua pihak hingga akhirnya memaksa Milan mengambil keputusan dengan merekrut kiper Perancis Mike Maignan, dan mempersilakan Gigio hengkang jika itu memang keinginan pemain tersebut. Akhirnya Gigio hengkang dengan status free transfer, kemudian menerima tawaran dari PSG dengan nilai 6 juta euro, nilai yang lebih rendah dari yang ditawarkan AC Milan.

Dari dua saga drama transfer Donnarumma sudah cukup untuk tifosi AC Milan melabeli Gigio dengan julukan pengkhianat. Berlebihan kah? Saya rasa tidak. Ada beberapa hal yang menyebabkan julukan itu wajar. Kita tahu Gigio adalah pemain akademi Milan primavera sejak 2013, pemain muda yang kemudian masuk daftar tim utama ketika pra musim 2015 di China oleh pelatih Mihajlovic. Debut resmi berseragam AC Milan pada 25 Oktober 2015 laga Serie A pada usia 16 tahun menjadikannya sebagai kiper termuda di Liga Italia.

Selama berseragam Milan, tidak jarang Gigio memberikan pernyataan bahwa dia ingin menjadi legenda AC Milan, menjadi La Bandiera seperti Maldini, dan ingin menjadi kapten tim AC Milan. Sebuah pernyataan yang sungguh membuai dan membuat tifosi terkagum. Sebagai milanisti juga saya kecewa dengan keputusan Gigio itu jika mengingat apa yang telah terjadi sejak Gigio debut di tim utama Milan. Gigio menjadi kiper yang tak tergantikan, kepiawaiannya di bawah mistar gawang tidak diragukan. Terbukti dengan tidak sedikit Milan meraih kemenangan dengan catatan clean sheet.

Banyak para ‘pengamat’ yang mengatakan bahwa kesalahan Milan lah yang melepas Gigio dengan free transfer. Kenapa Milan tidak mengabulkan keinginan pemain jika pemain itu dibutuhkan Milan? Ada dua hal yang mendasar untuk menjawab pertanyaan tersebut. Pertama kondisi finansial Milan, bukan karena AC Milan tidak punya uang. Perhitungan yang matang dari segi teknis dan non-teknis tentunya. Budget yang ada juga bukan untuk dihabiskan ke satu pemain saja, Milan perlu pemain di segala lini. Kalau perlu belanja pemain kenapa lepas Gigio dengan free transfer? AC Milan masih berharap Gigio akan sepakat dengan tawaran Milan, dan tawaran itu tidak akan berubah. Pun sampai tidak ada kesepakatan, budget Milan tidak hilang.

Dasar kedua tentu saja Maldini’s Factor. La Bandiera Milan ini punya strategi dan prinsip dalam mengelola dan memajukan Milan. Sebagai direktur teknik, Maldini menginginkan komposisi tim yang seimbang sesuai dengan kebutuhan tim. Tentunya dia juga mempunyai pemikiran bahwa jersey Milan untuk mereka yang benar-benar menginginkannya. Jadi, ketika ada pemain yang ingin hengkang atau tidak ada titik temu antara keinginan pemain dengan klub, maka kepentingan klub akan lebih diutamakan. Itulah menurut saya dua dasar utama kenapa Milan tidak begitu ngotot terhadap Donnarumma. Milan melihat keinginan Gigio untuk pergi lebih besar daripada keinginan untuk bertahan di Milan.

Soal pengkhianatan? Bayangkan, seorang anak muda dari didikan akademi Milan diberikan kesempatan masuk ke tim utama pada umur yang belia, 16 tahun, kemudian dipercaya menjadi kiper utama beberapa musim. Pemain inti, pemain didikan akademi yang sering berbicara tentang mimpi menjadi legenda klub, menjadi ikon klub, menjadi kapten tim, mengukir sejarah, dan bahkan pensiun di Milan. Tetapi membuat kisruh di setiap bursa transfer, tanpa sedikit pun menunjukkan langkah untuk mewujudkan impiannya. Apa yang dia lakukan pada perpanjangan kontrak bertolak belakang dengan apa yang dia impikan. Jika saya menjadi Gigio, saya akan meminta agen saya untuk melakukan sesuatu agar saya tetap di Milan, jika agen tidak bisa, kemungkinannya saya akan berganti agen. Bukan hanya menurut keinginan dan atau arahan agen. Sejatinya agen hanya perantara pemain, posisi menentukan tetap ada di pemain itu sendiri.

Agen pemain Mino Raiola juga agennya Ibrahimovic. Ibra dengan tegas menginginkan bertahan di Milan, Raiola mengikuti keinginan Ibra. Kasus yang sama terjadi dengan Romagnioli yang juga diageni oleh Raiola. Baru-baru ini dalam sebuah artikel media Italia, Romagnioli mengatakan dia ingin bertahan di AC Milan, jika tidak bisa dia akan berganti agen. Memang belum terbukti, tetapi menjanjikan. Kenapa Gigio tidak seperti mereka? Bahkan pernyataan keinginan bertahan pun semu.

Pada akhirnya tetap seperti apa yang dikatakan Maldini, kita cuma bisa mendoakan yang terbaik untuknya.

Mercato AC Milan 2021

Musim baru liga Italia Serie A 2021 memang belum dimulai, dalam jeda kompetisi ini selalu dimanfaatkan oleh klub-klub di semua liga untuk berburu pemain, tak terkecuali dengan AC Milan. Istilah mercato sudah lekat sekali dengan penikmat sepak bola, padanan lainnya yaitu transfer market. Perburuan pemain oleh klub sepak bola memang selalu menarik, tidak sedikit banyak drama di dalamnya. Apalagi dengan klub sepak bola yang saya cintai, AC Milan. Dalam beberapa tahun terakhir memang saya tidak terlalu mengikuti mercato AC Milan, terutama jika masih sebatas isu dan rumor karena selalu berujung kekecewaan. Pemain yang digadang-gadang akan direkrut ternyata malah sudah tanda tangan kontrak dengan klub lain. Itulah bagian dari dramanya. Mercato Milan paling menyebalkan tentu saja pada musim 2011 sampai 2013 di mana banyak pemain yang tidak jelas yang masuk tim, sebut saja Djamal Mesbah, Bakaye Traore, Taye Taiwo, Kevin Constant, dan lain-lain. Selain pemain yang tidak jelas latar belakangnya, permainan mereka di lapangan pun sama tidak jelasnya.

Mari kita tinggalkan masa kelam mercato itu sebagai kenangan untuk menjadi bahan lelucon sesama milanisti. Memang sejak saat itu mercato Milan kadang tak tentu arah. Beruntungnya mulai musim 2019 sejak Paolo Maldini bergabung ke klub sebagai direktur teknik, mercato Milan mulai menemukan titik cerah. Perekrutan Theo Hernandez, Ismael Bennacer, Rafael Leao adalah salah satu campur tangan Maldini. Meskipun memang nama-nama pada mercato Milan masih nama-nama yang baru kita dengar, bukan pemain bintang. Namun perekrutan yang dilakukan Maldini seusai dengan kebutuhan tim. Ada beberapa pemain pada mercato musim lalu yang memberikan kejutan, salah satu favorit saya yaitu Alexis Saelemaekers. Pada awal berita transfer anak muda kelahiran 1999 ini saya heran siapa pemain ini, dari mana, tidak pernah mendengar sedikit pun. Ditransfer dari Anderlecht, klub liga pro Belgia, yang semasa di Anderlecht pun catatan penampilannya tidak terlalu memukau dengan mengemas 2 gol dari 16 penampilan. Secara mengejutkan penampilan Alexis berseragam Milan terus berkembang di bawah asuhan Stefano Pioli, permainannya impresif, gaya permainannya yang simple tetapi efektif membuat dia menjadi langganan starting eleven di AC Milan.

Musim baru 2021 patut ditunggu, AC Milan menggeliat di bursa transfer kali ini. Menyudahi drama perpanjangan kontrak Gianluigi Donnaruma yang meminta gaji yang cukup tinggi. Sehingga akhirnya AC Milan melepasnya dengan status free agent karena masa kontraknya habis dan tidak ada perpanjangan, cukup disayangkan memang. Maldini dan AC Milan berprinsip, tidak ada pemain yang melebihi tim. Hal itu pula yang menjadi dasar AC Milan dalam perekrutan pemain musim ini. Tidak ngotot mencari pemain bintang, tetapi mencari pemain yang memang diperlukan tim dengan budget yang sesuai serta skill pemain yang bagus tentunya. Nama-nama yang sudah resmi berseragam AC Milan diantaranya: Fikayo Tomori dipermanenkan dari Chelsea, Brahim Diaz dipermanenkan dari Real Madrid, Alessandro Tonali dipermanenkan dari Brescia, Mike Maignan dibeli dari Lille, Oliver Giroud dibeli dari Chelsea, Fodé Ballo-Touré dibeli dari AS Monaco. Sementara pemain-pemain yang memperpanjang kontrak yaitu Zlatan Ibrahimovic dan Davide Calabria.

Milan masih mengincar beberapa nama untuk mengisi posisi di setiap lini. Banyak nama yang tersebut dalam rumor-rumor tersebut. Saya tidak ingin berspekulasi, dan lebih memilih untuk memantau official statement dari AC Milan. Dari beberapa pemain yang sudah secara resmi bergabung dengan AC Milan bisa menunjukkan titik cerah pada tim di musim depan. Nama Maignan dan Fode memang masih terdengar asing dan saya sendiri belum melihat permainan mereka. Namun jika Maignan didatangkan untuk menggantikan Gigio, rasanya kemampuannya tidak akan jauh berbeda. Sebagai fans saya tidak pernah menaruh harapan tinggi pada pemain baru, karena biasanya mereka butuh adaptasi tidak hanya dalam satu atau dua pertandingan. Contoh saja, Frank Kessie, pada awal kedatangannya banyak diharapkan akan bermain seperti ketika di Atalanta, tetapi permainannya tidak sebagus itu ketika di Milan. Pada musim berikutnya dia menjadi pemain tak tergantikan di lini tengah Milan.

Musim 2021-2022 menarik sekali ditunggu untuk melihat hasil dari perekrutan yang dilakukan Milan, masih menunggu nama-nama baru yang akan hadir, pun beberapa pemain yang belum perpanjang kontrak. Menarik sekali karena AC Milan akhirnya lolos lagi ke Liga Champions setelah absen panjang. Kita bisa lihat sejauh mana Milan bisa bersaing di kompetisi bergengsi Eropa ini. Mengingat performa di kompetisi kasta kedua Eropa atau UEFA League, Milan masih angin-anginan. Sepatutnya AC Milan minimal musim lalu bisa menjadi finalis UEFA. Bahkan sebenarnya Milan bisa meraih scudetto jika saja di paruh kedua musim tidak kehabisan bensin. Setelah memuncaki klasemen di paruh pertama, performa turun karena banyak pemain inti yang cidera dan terinfeksi covid-19, pun strategi Pioli yang sudah terbaca tim lawan.

Adanya pemain baru seperti Giroud yang merupakan pemain berkelas, didatangkan sebagai pelapis Ibra, atau bahkan tidak menutup kemungkinan menjadi tandem Ibra jika menggunakan pola dua striker. Giroud memilih nomor punggung 9 yang selepas Inzaghi pensiun belum ada yang bisa menampilkan permainan terbaiknya dengan nomor itu, semoga Giroud adalah pengecualian. Brahim Diaz pun musim depan akan menggunakan nomor 10, nomor keramat di sepak bola. Semoga Diaz bisa mengeluarkan keajaiban-keajaiban lainnya seperti yang sudah dilakukannya di musim lalu.

Satu-satunya yang membuat miris pada mercato musim ini, juga pada tim Milan keseluruhan adalah kurangnya pemain Italia yang ada di dalam tim, pun rumor mercato jarang sekali menyebutkan pemain Italia yang akan direkrut Milan. Jika melihat dari musim sebelumnya pemain Italia di Milan yang menjadi starting eleven tetap yaitu Gigio Donnaruma dan Davide Calabria. Sebelumnya ada Alessio Romagnioli yang tergeser posisinya sejak cidera dan performanya menurun. Ada nama lain di bangku cadangan yang kesempatan untuk menjadi starter pada tim inti begitu langka; Matteo Gabbia (DF), Alessandro Plizzari (GK), Mattia Caldara (DF), Andrea Conti (DF), Sandro Tonali (MF), Lorenzo Colombo (FW), Daniel Maldini (FW). Rumor pemain Italia yang ada dalam radar perburuan Milan pun terbilang sedikit. Domenico Berardi adalah yang paling santer beritanya, kemudian ada Andrea Belotti, ada rumor juga Milan akan berburu tanda tangan mantan pemain primavera yang bermain apik di EURO 2020 lalu, Manuel Locatelli. Semua rumor itu masih mengambang tidak jelas.

Bagi saya pribadi, pemain Italia di Milan cukup krusial dengan alasan histroik dan sentimental. Secara historis kita semua tahu sejarahnya kenapa sampai muncul tim sekota, Internazionale Milan, karena waktu itu petinggi AC Milan sangat teguh untuk memainkan pemain Italia, sementar petinggi lain ingin ada pemain internasional. Melihat historis itu akan miris rasanya jika di AC Milan, sedikit sekali pemain Italia yang memiliki kualitas bintang. Apalagi melihat EURO 2020 kemarin di mana skuad Italia tidak diisi oleh pemain yang bermain di AC Milan. Ada Donnaruma memang, tapi statusnya waktu itu sudah free agent jadi kita tidak bisa mengklaim dia sebagai pemain Milan. Pemain yang memungkinkan masuk skuad Italia pada EURO 2020 kemarin adalah Calabria jika melihat performanya pada musim lalu, sayangnya pemain ini cidera setelah musim berakhir dan harus menjalani operasi. Secara sentimental, karena saya juga tifosi Gli Azzurri, jadi rasanya ada pemain timnas Italia dari klub AC Milan menjadi kebanggaan tersendiri.

Sepertinya sudah terlalu panjang ini saya berkoar. Sebagai penutup, kita sebagai pecinta AC Milan cuma bisa berharap mercato yang dilakukan Milan untuk bertarung pada musim depan bisa memberikan kejutan-kejutan luar biasa, konsisten dalam permainan, strategi yang fleksibel sesuai kebutuhan, pemain yang siap dalam kondisi apa pun. Pemain-pemain baru yang kita nantikan permainannya, pemain-pemain lama yang terus berkembang. FORZA MILAN!!! MILAN PER SEMPRE!!!

%d bloggers like this: