STOP DEMO!

STOP DEMO! Think a smart way for convey an aspiration. Gerakan mahasiswa Indonesia saat ini sudah tidak lagi murni pergerakan mahasiswa yang dilatarbelakangi dengan konsep yang matang dan pemikiran yang cerdas. Kita lihat saja sampai detik ini demo yang diprakarsai mahasiswa terus terjadi. Padahal demo bukanlah hal yang baik untuk menyalurkan sebuah pendapat, keluhan, ataupun aspirasi. Kini di Indonesia demo menjadi makanan sehari-hari yang lazim ditemui, dilihat, dan menjadi tontonan umum. Memuncaknya kembali konsep demo untuk menyalurkan aspirasi atau berunjuk rasa dimulai ketika pada Mei 1998, para mahasiswa yang mengatasnamakan ‘reformasi’ berunjuk rasa menuntut agar presiden pada saat itu Pak Soeharto untuk turun dari jabatannya. Demonstrasi besar-besaran saat itu sangat tidak kondusif. Dengan segala macam cara para demonstran berupaya untuk menduduki gedung MPR-DPR RI dan juga Istana Negara. Dengan membawa serta berbagai macam tuntutan, diantaranya dikenal dengan tuntutan reformasi. Demonstrasi ini akhirnya berhasil menggulingkan Pak Harto dari kursi kepemimpinan meskipun memakan banyak korban. Namun, apakah setelah Pak Harto turun reformasi yang diinginkan telah tercapai? Tuntutan yang diberikan telah terpenuhi? Jawabannya TIDAK. Pasca peristiwa Mei 1998 itu, tepatnya sudah 10 tahun. Di Indonesia tidak ada perubahan yang berarti. Presiden pun telah berganti sebanyak empat kali mulai dari B.J. Habibie, Abdurrahman Wahid (Gusdur), Megawati, dan sekarang Susilo Bambang Yudhoyono, namun semuanya hanya pengambilalihan kepemimpinan tanpa adanya perubahan yang dinamis dan seperti tuntutan reformasi kala itu. Bahkan tokoh yang selalu menggemborkan reformasi saat itu untuk menurunkan Soeharto tidak muncul, malah tenggelam dan tidak populer bahkan untuk menjadi presiden saja tidak terpilih. Pasca Mei 1998, berbagai unjuk rasa melalui demonstrasi menjadi trend untuk menyampaikan sebuah keberatan terhadap sesuatu. Mulai dari mahasiswa, pedagang, guru, ormas-ormas, LSM, buruh, sampai siswa-siswa. Semua lantang meneriakkan aspirasinya dan tuntutannya di jalan-jalan, tanpa meneriakan SOLUSI. Saat ini ketika masa jabatan Presiden SBY, banyak sekali demo yang menolak segala kebijakan yang telah dan akan diberlakukan oleh pemerintah. Yang sedang mencuat sekarang yaitu isu kenaikan BBM. Berbagai kalangan dan lapisan masyarakat menolak kenaikan BBM. Sudah tentu jelas, siapa yang menginginkan kenaikan BBM? Mahasiswa yang aktif turun ke jalan untuk meneriakan tuntutan menolak kenaikan BBM. Di hampir semua daerah pasti ada demo yang menolak kenaikan BBM. Demo, demo, demo, dan demo lagi. Apa tidak ada cara yang lebih baik? Kita bisa lihat sekarang di berita-berita media massa baik cetak dan elektronik, demo yang dilakukan mahasiswa tidak semuanya dilakukan dengan tindakan layaknya mahasiswa. Mana ada mahasiswa yang menyampaikan aspirasi dengan teriak-teriakan, dengan membakar ban, memblokir jalan, membajak mobil, bahkan sampai melakukan anarkisme serta bentrokkan. Demo mahasiswa tidak sedikit yang berakhir ricuh dan dengan bentrokkan. Mana Mahasiswa yang katanya ‘AGENT OF CHANGE’? Apa perubahan yang lebih buruk yang diperjuangkan? Aspirasi memang harus disampaikan dan diperjuangkan, tapi bukan dengan demonstrasi yang tidak memberikan solusi apa-apa. Demo yang ada selama ini hanya meneriakkan tuntutan dan penolakan tanpa memberikan solusi yang pasti. Jika demo hanya berisi kata-kata: ‘TOLAK’, ‘TURUNKAN’, dan lain sebagainya hanya seperti pengeras suara yang sekadar dimainkan. Bahkan kita tidak menyadari apakah suara yang kita teriakkan itu didengar oleh wakil-wakil kita? Secara nalar kita, jika kita mendengar orang berteriak-teriak di depan kita atau di depan rumah kita, tentu kita akan merasa terganggu dan tidak menghiraukan apa yang dikatakannya, malah ingin mengusirnya. Daripada menyalurkan aspirasi dengan demonstrasi turun ke jalan dengan massa yang berjubel, hal itu sangat tidak efektif dan efesien. Apalagi dengan demo mogok makan, sungguh suatu tindakan yang tidak cerdas bila dilakukan seorang mahasiswa dan hanya menyiksa diri sendiri. Ada hal yang lebih baik, yaitu dengan mengadakan sebuah pertemuan atau audiensi dengan pihak yang terkait dengan apa yang ingin kita sampaikan. Ada lembaga pemerintahan seperti MPR, DPR, DPRD, DPD, serta perangkat pemerintah lainnya yang bisa kita ajak untuk berdiskusi dan bermusyawarah untuk mencari solusi dan menyelesaikan suatu permasalahan. Bukankah pemerintah dan perangkatnya adalah wakil-wakil kita? Jika kita sebagai rakyat meminta tentunya mereka sebagai pelayan rakyat akan menerima. Bukankah kita bangga dengan demokrasi musyawarah mufakat kita? Kenapa harus berteriak? Dengan melakukan audiensi kita bisa menyalurkan aspirasi, memberikan pemikiran, memberikan sumbangsih pada bangsa ini, dan bukankah cara ini lebih cerdas? Sebagai seorang mahasiswa yang cerdas jika kita merasa mempunyai rasa kebanggaan terhadap bangsa dan ingin bangsa ini berubah, berbuatlah dengan cara yang cerdas. Jika kita tidak setuju dengan kebijakan pemerintah, masuklah ke dalam pemerintahan itu hingga kita bisa merubah dari dalam. Sebuah audiensi dengan menyelenggarakan musyawarah mufakat tentunya akan sangat menguntungkan kedua belah pihak, baik aspirator dan yang menerima aspirasi. Tidak akan ada ketegangan otot. Hasil yang diperoleh juga dengan keputusan bersama dan mufakat. Bangkitkan kembali musyawarah mufakat yang menjadi kebanggaan bangsa. Hentikan demo ke jalan! Ada sebuah pepatah mengatakan jangan mencubit orang lain sebelum mencubit diri sendiri. Artinya jangan menuntut orang lain sebelum kita menuntut pada diri sendiri. Jika kita tidak bisa merubah negara, rubahlah propinsimu, jika kita tidak bisa merubah propinsi, rubahlah kabupatenmu, jika kita tidak bisa merubah kabupetan, rubahlah kotamu, jika kita tidak bisa merubah kota, rubahlah keluargamu, jika kita tidak bisa merubah keluarga, rubahlah dirimu sendiri. Kita jangan pernah berniat untuk merubah orang lain sebelum merubah diri sendiri. Seperti apa yang dikatakan Aa Gym, gunakan prinsip 3M, mulai dari hal yang terkecil, mulai dari saat ini, mulai dari diri sendiri. Untuk Indonesia yang lebih baik, wahai para mahasiswa yang cerdas, civitas akademik, social control, tonggak masa depan bangsa, mulai dari diri sendiri dan mulai saat ini hentikanlah demonstrasi ke jalan yang hanya berteriak dan membawa propaganda. Hentikan demo! Hentikan demo! Hentikan demo! Hentikan demo! Bandung, 29 Mei 2008 freesoul

Advertisements

2 thoughts on “STOP DEMO!

  1. terima kasih mas, wah maaf baru dibalas komennya. saking stucknya menulis, jadi jarang buka blog…

    mahasiswa sekarang tidak ubahnya seperti boneka yang bisa diatur oleh dalang yang berkuasa dan memiliki ‘kekuasaan’

    Like

  2. betul mas pola pikir mahasiswa sekarang beda dengan dulu. Dulu mahasiswa berjuang demi idealisme untuk masyarakat tapi sekarang mereka terjebak dalam pikiran sempit dan orientasi jangka pendek. Saya setuju dengan pendapat anda
    Salam 🙂

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s