Kampanye Partai

Musim kampanye neh, udah hampir sepekan. Nonton berita ga? Mcem2 cara kampanye dilakukan, tapi yang gue lihat ga ada perubahan dari dulu. Platform-nya sama, pattern-nya gitu2 aja. Kalo kampanye terbuka, pasti ada panggung yang dihadiri sama simpatisan partai dan di isi sama orasi politik, dan pastinya hiburan. Kalo ga artis terkenal, apalagi kalo bukan DANGDUT. Musik rakyat Indonesia, musik aseli Indonesia.

Di media massa udah mulai panas kabar-kabar mengenai pelanggaran kampanye parpol-parpol ini. Paling banyak, yaitu keikutsertaan peserta kampanye yang tidak mempunyai hak pilih, atau dalam hal ini lebih banyak ditekankan pada anak-anak alias yang belum mencapai usia pemilih. Salah siapa? Parpol kah yang tidak memberi imbauan, atau orang tua yang tidak melarang, atau iming-iming uang jika ikut kampanye?

Kampanye terbuka yang diadakan di lapangan, dengan banyak orang datang -katanya sih simpatisan partai-, ditengah cuaca panas dan terik matahari yang menyengat, cuma mendengarkan orasi politik, janji-janji yang mungkin mereka sendiri memperhatikan atau tidak. Masa yang datang ke tempat kampanye itu, sebagian memang simpatisan parpol yang benar-benar loyal terhadap parpol, tapi jangan lupa ada sebagian pula yang bukan simpatisan parpol itu.

Sering gue lihat ada orang yang ikut kampanye bukan hanya satu parpol, tapi lebih dari satu, bahkan lebih dari dua. Apa yang terjadi? Hal ini bisa terjadi karena orang-orang tersebut adalah orang-orang bayaran, yang sengaja diharapkan untuk mengikuti kampanye agar terlihat massa partainya banyak. Di beberapa media pun sering disebutkan, ada beberapa parpol yang membayar setiap orang yang datang ke kampanye mereka. Lagi-lagi money politic, ya buat masyarakat money politic itu sebuah berkah. Mereka bisa dapat rejeki hanya dengan ikut kampanye. Masyrakat tidak memikirkan apa-apa selain mereka mendapatkan uang.

Buat gue, money politic yang dilakuin beberapa parpol itu sih terserah parpolnya, dan masyarakat pun pasti tidak menolak bila dikasih uang. Hanya saja yang tidak bisa diterima itu, bila parpol yang memberikan uang itu memaksakan kehendak kepada masyarakat untuk memilihnya. Logikanya, masyarakat butuh uang, itu jelas, kalo ada yang ngasih uang kenapa mesti menolak. Masalah memilih parpol, itu urusan nanti…

Masalahnya sekarang, jika parpol melakukan money politic, kecenderungan nantinya parpol itu bisa mungkin melakukan tindakan penggelapan untuk mengganti uang yang mereka keluarkan buat mendapat suara. Ini yang mesti dihindari dari money politic. Masyarakat pun harus jeli memilih partai.

So, pilihlah partai yang menurut lu parpol itu punya sistem yang baik, legalisasi yang baik, nama yang baik, serta dihuni orang-orang yang mumpuni. Kalo gue jujur, lebih memilih parpol yang ada dari pemilu 2004 lalu, kalo ga salah ada 24 partai kan??? Atau memilih partai yang lebih banyak memberikan kontribusi pada pemerintah, ga cuma menjelek-jelekan pemerintah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s