Sukuisme (part 2)

Mungkin udah ada yang pernah baca tulisan saya yang judulna: SUKUISME. Bisa jadi bikin sebagian orang ngambek, ya walaupun ga seberani saya untuk diungkapkan (meski cuma lewat tulisan). Mungkin saja orang yang ‘merasa’ diceritakan di tulisan saya itu -walaupun tidak subjektif- sudah membacanya juga, dan menjadi antipati terhadap saya. Terus terang tulisan itu bukan untuk memicu konflik SARA, yang memang kalo di negeri kita ini begitu sangat sensitif. Hal-hal kecil saja bisa jadi konflik kalo nyangkut tentang si SARA itu. Tulisan saya di sukuisme itu, cuma mengungkapkan apa yang ada dipikiran saya, yang saya alami, dengan maksud agar pikiran kita terbuka satu sama lain untuk dapat saling menghargai perbedaan yang ada.

Sukuisme yang saya sebutkan di tulisan pertama itu merupakan ekspresi kekecewaan saya terhadap beberapa kelompok masyarakat kita, Indonesia, yang masih selalu menjunjung tinggi fanatisme kedaerahan ketika berada di lingkup yang lebih luas. Artinya, bukan tidak boleh kita membawa atribut kedaerahan kita di mana pun kita berada, itu wajar dan kewajiban untuk melestarikan adat daerah kita. Tapi, kita mesti memiliki tenggang rasa jika kita sudah bertemu dengan kelompok-kelompok lain yang diluar daerah kita. Saling menghargai, saling membaur, saling berkomunikasi dengan bahasa persatuan. Ya, BAHASA PERSATUAN, percuma ada istilah itu kalo nggak pernah sama sekali digunakan. Percuma tiap tahun, tiap tanggal 28 Oktober diperingati SUMPAH PEMUDA kalo nyatanya pernyataan-pernyataan sakral di dalamnya tentang keingingan menjadikan INDONESIA SATU, SATU INDONESIA tidak pernah kita lakukan. Sebenarnya perbedaan adat di Indonesia itu indah. Justru karena perbedaan itulah kita bisa hidup. Ga kebayang kalo Tuhan nyiptain manusia itu sama satu sama lain. Bisa bisa kita ketuker semua. Perbedaan itu yang harus menyatukan kita, bukan malah menjadikan masyarakat terkotak-kotak.

Saya sebenernya ga tau, apa ada orang yang setuju atau tidak setuju mengenai tulisan saya yang pertama, atau sama tulisan Sukuisme part 2 ini, karena dari statistik yang saya lihat banyak juga orang yang baca, tapi ga memberikan komentar apa-apa. Entah mereka marah, setuju dengan saya, atau malah menilai saya buruk, cuma Tuhan dan mereka sendiri yang tahu. Saya menulis hanya mengungkapkan apa yang ada dipikiran saya dan apa yang saya alami, dengan hati-hati agar tulisan saya tetap objektif terhadap sebuah perkara bukan menjadi subjektif menilai orang perorangan atau pun kelompok.

Sekali lagi mungkin saya perlu mengingatkan, kalau tulisan SUKUISME saya itu intinya ingin mengajak kita untuk lebih peka jiwa toleransi kita, terutama kalo kita sudah berada di suatu lingkup yang luas, artinya bukan lingkup kedaerahan, sebaiknya kita tinggalkan segala macam atribut daerah masing-masing demi terciptanya kerukunan, kebersamaan, persatuan, tentunya kenyamanan pun akan sama-sama kita rasakan. Analoginya seperti kita nonton pertandingan sepak bola, kita pasti mempunyai klub-klub kesayangan sendiri, yang kebanyakan merupakan fanatisme kedaerahan. Seperti supporter Persija dari Jakarta, Persib dari Bandung, PSPS dari Pekanbaru, PSMS dari Medan, Persis dari Solo, Persebaya dari Surabaya, Persisam dari Samarinda, Arema dari Malang, dan lain sebagaianya. Tapi, ketika kita menonton pertandingan dengan judul INDONESIA, hilangkanlah semua atribut supporter klub-klub daerah kita itu, ganti dengan warna MERAH PUTIH INDONESIA. Akan tampak terlihat seragam dan indah bukan?

Cukup rasanya menumpahkan isi otak ini, semoga bisa diterima dan dipahami secara dewasa.

Advertisements

One thought on “Sukuisme (part 2)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s