Obrolan Ringan

Sudah dua hari ini dapet obrolan tentang cinta, khususnya NIKAH. Ada apakah dengan itu? Ah yang jelas ambil pelajarannya aja yah. Obrolan pertama itu hari Selasa kemarin (7 Juni). Obrolan santai di security post tempat kerja sama bapak-bapak security yang jaga. Habis makan siang itu, biasa lah ngobrol ngalor-ngidul yang ga jelas, ketawa-ketawa. Sampai ngebahas satu teman kerja saya yang baru beberapa bulan lalu ini menikah. Menikahnya sih biasa, tapi yang bikin kaget bapak-bapak security itu masalah jarak suami istri baru itu. Ya lintas pulau yang lumayan jauh lah. (maaf nama dan lokasi tidak disebutkan demi menjaga privasi, takut yang bersangkutan baca hehehehehe)

Bapak-bapak itu menyayangkan pernikahan dengan jarak yang jauh seperti itu. Dalam pandangan mereka, yang tentunya lebih berpengalaman, jarak yang begitu jauh untuk menjalani sebuah rumah tangga sangat tidak menyenangkan. Mungkin awal-awal pernikahan belum terasa, tapi ke depannya akan sangat terasa. Kata bapak-bapak itu, ya selain kebutuhan ‘suami-istri’ tidak tersalurkan, ketenangan pun kayaknya jadi kurang. Salah satu analogi dibilangnya begini; misal saja ketika kita pulang kerja ke rumah. Sampai di rumah tidak ada yang membukakan pintu, menyambut dengan senyuman, mencium tangan. Padahal kita punya sudah menikah, punya istri.

Mungkin pada awal-awalan pernikahan tidak terasa dan masih bisa mengatasi, tapi ketika sudah punya anak? Kata si bapak security itu, lebih tidak menyenangkan lagi. Katakanlah kita bisa bertemu istri dalam satu tahun itu sekitar 2 atau 3 kali. Bagaimana anak bisa mendapatkan kasih sayang bapaknya? Jangan-jangan nanti anak itu malah panggil Om sama bapaknya. Bapak-bapak itu menambahkan lagi ketidakenakan menjalani hubungan suami istri jarak jauh, potensi terjadinya PERSELINGKUHAN. Wah, ini mah udah sangat gawat.

Kata mereka seh, sekuat-kuatnya kalo dengan jarak yang jauh dan intensitas tatap muka yang minim, potensi selingkuh itu rentan. Baik dari lelaki maupun perempuannya. Ini yang lebih bahaya lagi. Kalo udah ada selingkuh sih, udah ga bener. Menarik juga obrolan ringan itu, tapi punya pelajaran yang berharga buat saya :D.

Obrolan kedua besok harinya, Rabu (8 Juni). Berlangsung di dalam mobil, dalam perjalanan menuju tempat kerja saya. Pelakunya, driver dan teman sejawat saya (lagi nama dan lokasi tidak disebutkan, menjaga privasi :p). Saya tidak menjadi pelaku obrolan, karena saya hanya mendengarkan, lagian suka males ngomong kalo pagi-pagi hahaha.

Seperti biasa, obrolan pasti ngalor ngidul entah kemana-mana. Entah dari apa yang dilihatnya, apa yang pernah dialaminya, entah dari baca berita di Koran, pokoknya obrolan itu selalu ada. Sampai ketika driver kami itu ngomongin tentang istrinya yang sangat cemburuan. Ya, setiap driver itu terima telepon, atau menyapa cewek, atau lihat cewek, pasti istrinya itu bertanya-tanya dengan nada agak marah, katanya.

Teman sejawat saya pun menyahut, kalo pada awal-awal pernikahan dulu, istrinya terkadang gitu juga. Kadang-kadang cemburuan. Tapi, pengakuan teman saya itu bilang kalo kehidupan rumah tangganya itu gaul, enak maksudnya. Dia sama istrinya mempunyai komitmen, komunikasi dan keterbukaan. Mengingat usia mereka masih muda, dan mereka pun menikah di usia yang sangat muda. Jadi dari awal ditekankan untuk terbuka. Kalo ada apa-apa harus langsung dibicarakan satu sama lain. Dipikir-pikir emang bener juga sih, keterbukaan itu membuat segalanya mudah. Apalagi dalam menjalin hubungan. Kalo kita sama pasangan kita nggak terbuka untuk mengungkapkan apa yang ada dalam pikiran kita masing-masing, kita nggak bakalan pernah menemukan satu solusi apa pun. Kembali lagi obrolan ngalor-ngidul ga jelas, karena saya yang ngelamun hehehe…

Nah, obrolan ketiga neh, masih tentang pernikahan. Terjadi di post security lagi, pelakunya bapak security dan satu pegwai kontraktor. Saya lagi-lagi cuma dengerin aja hahaha. Ini obrolan yang aneh, dari obrolan yang kesana-kemari (bosen ngalor-ngidul aja hahaha), tiba-tiba si bapak security ini bilang kalo orang kaya saya mau menikah dan mencari orang yang sekampung, harus ditegaskan dulu.

Nah loh ditegaskan apa? Saya jadi heran. Bapak itu bilang, ya mesti ditegaskan dulu, ini kerjaan saya, ini tempat saya bekerja, mau ga ikut sama saya di tempat saya kerja yang kondisinya seperti ini, hutan, jauh dari peradaban (hehehe), dan jauh dari orang-orang tersayang dikampung. Jedug, otak saya kembali dibuat mikir (padahal jarang dipake tuh). Bener juga ya, dan memang itu yang saya cari-cari. Ada yang minat? Hahahahaha….

Sudah ah kepanjangan, nanti kalo ada obrolan yang menarik lagi akan saya ceritakan. Itu pun kalo ga males :p

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s