Di Mana Pun Wajahmu Ada

Puisi Hr. Bandaharo

(1)
namamu awal segala upaya
puji hakmu tiada bertara
kepadamu kembali kalam dan karya
aku hanya pengemis mesra

(2)
di mana pun wajahmu ada
dan kasihmu melihat si hina-dina
sebagai yang berhak atas kehadirannya.

apakah mayapada
selain padang hijau ruang dan waktu
taman beraneka kehidupan mendapat bentuknya
yang sempurna
dalam kehadirannya yang sementara.

dan setiap burung bernyanyi, setiap suara berlagu
setiap dahan dan buah, setiap daun dan bunga
mencerminkan wajahmu
yang ada senantiasa.

(3)
wajahmu ada
dalam siang dan malam
silih berganti.

wajahmu jua
hari disusul hari
‘tiasa ada.

wajahmu saksi
dari s’gala derita
hidup dan hadir.

(4)
hidup manusia berulang meningkat
dari satu tingkat ke satu tingkat
ke pada wajahmu bertambah dekat.

hadir adalah berbuat
dalam spiral berpusat
ke pada wajahmu.

(5)
mata melihat menampak cahayamu
telinga mendengar menangkap kalammu
hati terbuka menampung kasihmu.

dan cahya pun
dan kalam pun
dan kasih pun
adalah satu: wajahmu.

(6)
ketika kelam mataku
mencari cahyamu
melihat kehidupan dalam sebutir padi
dan kematian pada sekaki bunga.

ketika sunyi telingaku
menyimak kalammu
mendengar pesan pagi hari
dan keluhan risau hari senja.

hati ini hampa menganga
megap rindu
dambakan kasihmu.

(7)
ingat anak ingat istri
kelengangan mengisi hati.

mana rumahku?
ke mana tujuku?
rasa terasing mencekik leherku.

tertawa lebar laki-laki itu datang
mengulurkan sesuatu kepadaku
dia pendeta, di tangannya terpegang
sepucuk surat dari istriku.

beberapa kalimat tanda selamat
meskipun jauh tetap diingat.
di sekitarku alam berbunyi
ke pada wajahmu semua memuji.

tak pernah terduga
lewat seorang pendeta.
terkabul doa.

(8)
ada yang datang bergant-ganti
membawa namamu
menyerukan kalammu.
tapi yang diucapkan kata-kata mati
membawa zulum ke dalam hati.

mata tidak membiaskan cahyamu
karena mata itu dikabusi dosa;
lidah tidak menyampaikan kalammu
karena lidah itu dibasahi dusta;
hati tidak membawa kasihmu
karena hati itu dikuasai ria.

(9)
sinar matahari menikam benak
peluh mengalir menganak-air
lidah kering terasa membengkak.

tubuh letih seperti dipanggang
napas tersekat di batang leher
lapar mengigit sampai ke tulang.

alangkah nyaman sepotong ubi
seteguk air dan angin sepoi.
hati menilai ragu-ragu:
dayarasa nyaman ini
apakah ini bukan mimpi
tapi benar curahan kasihmu?

(10)
butir-butir pasir di tepi wailata
membiaskan sejuta matahari.
kaki menapak rasa terbakar
mata memandang silau berdenyar.

air mengalir hijau jernih
terasa di tubuh lembut sejuk.
hilang penat hilang letih
rasa mengkal seperti dipujuk.

hati berkata ragu-ragu:
bukankah ini curahan kasihmu?

(11)
bagi mata iman
terkilat cahyamu.
bagi telinga iman
terlintas kalammu.
tapi iman pun
semata rahmatmu.

insan tenggelam dalam kasihmu
diumbang-ambing alun nikmatmu.
hanya hati yang ditumbuhi cinta
datang menyerah tergapah-gapah
mendekat padamu
hasrat bertemu.

dengan cinta lewat kasihmu
insan mungkin menatap wajahmu.

(12)
pandang tidak hanya mencari
tapi meneliti.
mendengar tidak hanya menyimak
tapi menjajaki.
cinta tidak hanya merindu
tapi menikmati.

‘aku ini jadi terlepas
dari daya tarik bumi
mengapung laksana kapas
bebas dari batas-batas
masuk ke dalam ketiadaan
di luar ruang dan waktu.

ketiadaan semata yang ada
dipenuhi wajahmu.
mata, telinga, dan hati
tiada berdaya lagi.

cahyamu, kalammu, kasihmu
terasa mengisi setiap pori.

Buru, 1973

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s