Garutku Sayang, Garutku Malang

Garut. Kota dimana saya dilahirkan dan dibesarkan kini sedang ramai menjadi perbincangan seluruh Indonesia. Bukan tentang pariwisata dan keindahan kota ini yang memang biasanya diliput oleh stasiun-stasiun TV sebagai bahan berita mereka. Kali ini tentang hal yang sangat mengecewakan dan memalukan bagi warga Garut khususnya. Ya, akhir-akhir ini di TV dan media massa lainnya sedang memperbincangkan sosok nomor satu di kota kami, Bupati. Sayangnya bukan mengenai prestasi dan kebanggaan, tapi malah aib dan kenistaan yang dibuatnya sendiri. Diberitakan bahwa sang bupati, sebut saja Aceng Fikri, telah menikahi seorang gadis remaja berusia 18 tahun, tetapi kemudian diceraikannya hanya dalam waktu 4 hari setelahnya. Itu pun kabarnya hanya melalui pesang singkat alias SMS. Pada awalnya berita ini saya dengar, saya nggak terlalu terganggu. Tetapi, ketika beirta ini hampir setiap hari ada di TV, di berita, dan bahkan di infotainment. Saya jadi terusik.

Terusik karena setiap hari tv cuma nanyangin dia lagi, dia lagi, dia lagi. Terusik karena sekalinya bupati Garut muncul ke permukaan, bukan tentang prestasi dan kebanggaan. Bupati sebelumnya muncul ke permukaan karena kasus korupsi, yang ini muncul karena kekonyolan tingkah lakunya. Kenapa saya bilang konyol? Gini, kemarin bapak yang terhormat itu (pppfffffttt) diwawancarai live di salah satu stasiun tv swasta nasional. Dalam wawancara itu pun, kalau anda nonton, sudah pasti anda akan melihat raut muka orang yang sedang berupaya memutar-balikkan fakta, dan berupaya untuk membela diri, padahal dirinya dalam kondisi bersalah. Bapak Aceng mengaku bahwa dirinya menikahi gadis tersebut atas promosi dari kiyai yang dimintanya untuk mencarikan istri. Dan beliau hanya bertemu dengan calon istrinya itu dua kali. Setelah pernikahan baru beliau merasakan ada sesuatu yang tidak sesuai, yang tentunya tidak dijelaskan dengan gamblang oleh dia. Ini sih bukan pikiran orang yang berlabel bupati, orang yang harusnya cerdas.

Ada kabar yang menyebutkan bahwa sang bupati menceraikan gadis itu karena setelah menikah baru ketahuan kalau istrinya tidak perawan. Ya iyalah sudah nggak perawan, yang malam pertama sama dia siapa pak? Banyak sekali pernyataan bapak bupati ini yang memang nggak masuk logika. Kemarin di tv dia memberi pernyataan kalau dirinya menikah lagi untuk mennghindari dari perzinahan. Entah ada masalah disharmonis apa dengan istrinya, yang katanya sudah mengijinkan dia menikah lagi. Di beberapa media, disebutkan bahwa bapak bupati memberikan pernyataan bahwa beliau menghabiskan uang sekitar ratusan juta hanya untuk meniduri satu malam, katanya meniduri artis saja tidak sampai ratusan juta. Loh, bagaimana bisa bapak menyebutkan meniduri artis tidak sampai ratusan juta? Kalau bapak belum pernah melakukannya, katanya menghindari perzinahan.

Kalau disebutkan satu-satu kekonyolannya yah, nggak cukup juga. Permasalahannya bukan pada dia menikah lagi, sama gadis remaja, terus diceraikan setelah 4 hari, dan lewat sms. Bukan itu, hal yang seperti itu mungkin bukan dia saja yang pernah melakukannya, tapi masalahnya dia melakukan hal itu dengan status dia sebagai seorang pemimpin, bupati. Yang terikat pada aturan hukum dan kenegaraan. Bahkan kasus ini sampai menjadi perhatian Mendagri, menurut mendagri bapak Aceng yang kaya, ganteng, dan bupati itu telah melanggar undang undang, (bisa dibaca beritanya disini), undang-undang tentang perkawinan, yaitu pasal yang menyebutkan bahwa setiap pernikahan harus dicatatkan. Sedangkan beliau seorang bupati melakukan pernikahan siri. Maka atas itu, bupati bisa diberhentikan dari jabatannya. Ini yang diharapkan.

Dalam wawancara di tv itu, bapak yang kaya, ganteng, dan seorang bupati itu mengatakan kalau kasus ini dimunculkan ada unsur politisasi untuk menjatuhkan namanya. Padahal namanya sudah jatuh sebelum ada kasus ini. Sudah lama sekali warga Garut memintanya mundur dari jabatan bupati, karena toh tidak perubahan yang berarti di kota Garut sendiri. Lagipula, Aceng ini naik jadi bupati bukan karena dia bener-bener bagus dan kompeten menurut saya. Dia maju dari jalur independen non-partai, sebuah prestasi dari jalur independen bisa memenangi pemilihan. Tapi, menurut saya faktor terbesar Aceng bisa terpilih itu karena wakil yang digandengnya, Dicky Chandra. Kepopuleran dan keramahan Dicky menjadi salah satu kekuatan terbesar pasangan ini bisa meraih suara terbanyak saat pemilihan. Setelah Dicky mundur menjadi wakil, semakin kelihatan kinerja sang bupati. Jadi, kalau mau dibilang politisasi, ya warga Garut pun jika dia mencalonkan lagi, sudah pasti tidak akan memilih dia.  Bahkan kalau kasus nikah siri ini tidak muncul pun, masyarakat memang sudah nggak bakal milih dia lagi.

Sekarang sudah jadi bahan omongan orang, sudah jadi bahan cibiran orang, jadi bahan candaan orang. Nggak jadi masalah kalau yang dijadikan objek candaan itu si bapak yang kaya, ganteng, dan seorang bupati itu, silakan saja kalau itu. Cuman, jadi agak sedikit sensitif, sedih, malu ketika yang menjadi bahan candaannya itu Garut, kota yang saya cintai.

Ah sudahlah, terlalu panjang, nanti isinya jadi makian saja untuk si bapak itu. Biarlah semoga Tuhan menghukumnya. Semoga ke depan akan ada orang yang lebih baik lagi yang bisa memimpin kota Garut. We Love You Garut.

Advertisements

2 thoughts on “Garutku Sayang, Garutku Malang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s