Macetnya

Pulang ke Garut kali ini memang memberikan banyak cerita. Garut kota kelahiran yang saya cintai memang selalu berubah setiap saya kembali ke sini dari mana pun saya. Akhirnya saya bisa lebaran 2013 alias 1434 di tahun hijriah ini saya bisa lebaran di kampung saya, setelah tahun lalu ga bisa karena on duty dan ga dapet ijin cuti. Yang paling banyak berubah dari kota ini yaitu lalu lintasnya. Ya, macet yang biasanya cuma ada di kota-kota besar, kini beralih ke kota kecil ini. Apalagi di pusat-pusat kota dan jalan-jalan menuju ke tempat wisata. Memang ga bisa dipungkiri, Garut beberapa tahun terakhir sering mendapat sorotan di media-media. Selain berita miring soal Bupatinya, tempat-tempat wisata di Garut pun menjadi bahan berita di TV jadi wajar saja jika pada akhir pekan dan hari-hari libur, Garut menjadi sangat padat.

Dominasi kendaraan dengan plat nomor dari luar kota seperti Bandung, Jakarta, Bogor, Cirebon, bahkan sampai daerah-daerah dari Jawa Tengah dan Jawa Timur serta beberapa dari luar pulau Jawa pun menghiasi jalanan kota Garut. Selain dari meningkatnya jumlah kendaraan dari luar kota yang memadati Garut, kendaraan di Garut sendiri pun sudah meningkat jumlahnya. Mungkin orang Garut sudah pada kaya, aamiiin. Kemacetan pun terjadi memang karena kesemrawutan lalu lintas di Garut. Mungkin kita belum siap dengan kunjungan-kunjungan kendaraan dari luar kota yang membludak. Ditambah juga perlikau-perilaku pengendaranya sendiri yang tidak mengindahkan peraturan lalu lintas.

Memang tidak bisa menyalahkan keberadaan kendaraan umum yang sudah ada lebih dulu di kota ini. Angkot alias angkutan kota menjadi salah satu faktor terjadinya kemacetan. Angkot ini sering berhenti seenaknya. Ya ini tidak terlepas dari penumpangnya yang menghentikan angkot sembarangan. Supir angkot seharusnya memberhentikan angkot ga nanggung, setengah di bahu jalan, setengah di jalan. Ini sering bikin macet.

Motor juga sering menjadi penyebab macet. Ini balik lagi ke perilaku pengendaranya. Para pengguna motor ini sering ngebut ketika jalanan ramai, ditambah sering bermanuver secara tiba-tiba. Berhenti mendadak, belok tiba-tiba. Masuk ke jalan besar tidak melihat-lihat. Mepet di antara kendaraan besar. Memang harus ekstra hati-hati menghadapi pengendara motor, apalagi jika kita membawa mobil. Banyak-banyak ngelus dada aja dah.

Selain angkot dan motor, kendaraan tradisional yang ada di Garut juga sering bikin macet. Delman dan becak. Delman ini selain jalannya lambat, mereka sering berada di tengah jalan, jadinya bikin kendaraan di belakangnya sulit buat nyalip. Mau nyalip di depan udah ada kendaraan. Dikasih tanda pake klakson eh tukangnya malah balik marah. Repot. Becak juga sama. Ini lebih parah, becak itu kebal sama rambu lalu lintas. Sering mereka masuk ke jalan satu arah dari arah yang berlawanan. Ya hasilnya macet.

Itu dari kendaraannya. Sekarang infrastrukturnya pun mendukung kemacetan. Jalan-jalan yang rusak bisa bikin macet. Di pusat kota alias pengkolan, banyak mobil dan motor yang parkir di pinggir jalan, ini bikin macet. Di Garut memang tempat belanja itu sering ga ada tempat parkir, dan juga ga ada gedung khusus tempat parkir. Di persimpangan jalan ga ada traffic light, jadi kendaraan berebutan jalan, stuck di tengah-tengah jadinya macet. Yang ada traffic light-nya juga tetep macet, masalahnya programnya salah. Selalu ada 2 lampu hijau yang nyala, ya jadinya sama, kadang-kadang kendaraan ketemu di tengah, berebut, macet lagi.

Lebaran ini macet di Garut kayaknya paling parah deh. Apalagi jalur kota sekarang dipake jalur alternatif orang mudik. Jumlah kendaraan terus meningkat dan faktor-faktor tadi itu makin bikin macet tambah parah. Sistem tutup buka sama Polisi pun bikin antrean kendaraan bisa nyampe 10 km lebih. Pusat-pusat kemacetan lebaran ini ada di daerah Maktal, Simpang Lima, Warung Peuteuy, Leles, Kadungora, Bunderan Suci, dan Bunderan STM Negeri. Beberapa jalur alternatif seperti jalur Banyuresmi pun malah menjadi macet. 

Ya, itulah Garut sekarang. Orangnya semakin berkembang, tapi kotanya tidak. Sekarang menjelang pilbup Garut, cabup-cabup malah narsis foto. Visi dan Misi mereka saya ga tau, padahal calonnya ada 10 (kalo ga salah). Dari foto-foto itu ga ada wajah yang meyakinkan juga :). Sudahlah, itu politik ribet. Yang bisa kita lakuin sebagai warganya ya cuma melakukan hal-hal baik saja. Untuk yang sering berkendaraan, ya taatilah peraturan lalu lintas. Ajari rekan, kawan, sahabat, teman, keluarga, istri, adik, kakak, pacar, dan yang kalian kenal buat mematuhi peraturan. Kasih contoh ya, jangan cuma ceramah 😀

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s