Pemberontakan

Saya menulis ini setelah saya selesai menonton film The Giver. Mungkin ada yang sudah nonton di bisokop, tapi maafkan saya karena menontonnya dari copy-an film hasil download-an orang lain yang disimpan di folder dropbox di computer network kantor saya. Bukan salah saya kalo saya jadi tertarik untuk meng-copy-nya dan menontonnya. Oke, saya bukan mau membahas salah atau benar menonton film dari hasil bajakan, itu perdebatan panjang. Saya hanya ingin membahas mengenai film itu. Film The Giver ini, pada awal film membuat saya mengingat film lain seperti Hunger Games, Elysium, dan Divergent, dan mungkin Maze Runner yang memang belum saya tonton, tapi dari trailer-nya mungkin memiliki inti cerita yang sama.

Sebelum ke The Giver mungkin kita bahas sedikit tentang film yang saya sebutkan tadi. Untuk sekadar mengingat saja, saya tahu sebagian dari kalian mungkin sudah hafal sekali jalan ceritanya. Mungkin sudah mengkoleksi novelnya, ya beberapa film tadi diangkat dari cerita sebuah novel. Baiklah, film pertama adalah Hunger Games. Saya ga nonton ini di bioskop lagi-lagi, karena waktu itu tidak tertarik. Saya nonton di TV kabel. Ternyata lumayan seru. Ceritanya ini tentang adanya kesenjangan antara komunitas yang bisa kita bilang borjuis dan rakyat biasa. Orang-orang borju ini bikin game di mana mereka ngumpulin orang-orang biasa dari distrik-distrik atau desa lah istilah umumnya, untuk mengikuti permainan semacam life survival gitu. Dan mereka bisa saling membunuh untuk menjadi pemenangnya. Dan ada satu orang yang menjadi pemberontak, dia tidak mau dijadikan permainan oleh orang borjuis itu. Ya, si gadis api itu. Ceritanya kurang lebih begitu ya. Diceritain semuanya ga cukup nanti.

Terus film lainnya itu, Elysium. Elysium ini ceritanya sebuah tempat, di luar planet bumi. Bumi diceritakan sudah mengalami kehancuran dan kacau keadaannya. Dan orang-orang kaya dan cerdas di bumi pindah dan membuat sebuah tempat yang Elysium. Tempat ya katakan saja lebih bermartabat dan lebih baik daripada bumi yang sudah hancur. Ceritanya juga ada seseorang dari bumi yang mengalami sakit akibat pekerjaannya, sementara penyembuhan hanya ada di Elysium itu. Elysium tempat terlarang bagi orang-orang bumi, karena mereka harus terdaftar di database di Elysium baru bisa masuk ke sana. Maka konflik terjadi ketika orang itu melakukan penerobosan ke Elysium untuk mendapatkan penyembuhan. Dan ternyata ada kisah lain di sana. Kalo mau tahu, tonton aja sendiri.

Divergent. Ceritanya manusia berada dalam satu komunitas yang terdiri dari beberapa kelompok (faksi) yang sesuai dengan kepribadian masing-masing. Ada beberapa faksi, yang saya ingat ya ada faksi orang cerdas, ada faksi orang penolong, ada faksi orang jujur, ada faksi orang bebas, ada juga yang tidak termasuk ke dalam faksi-faksi itu. Semua orang ketika pada saatnya bisa memilih dia mau masuk ke faksi mana sesuai dengan tes kepribadiannya. Dia bisa memilih faksi yang lain dari faksi keluarganya, faksi di mana dia lahir. Komunitas ini mempunyai aturan-aturan sendiri. Bahkan orang-orang yang sudah memilih faksi, kemudian dia tidak bisa beradaptasi dengan faksinya, maka akan diasingkan dan masuk ke dalam golongan non-faksi. Digambarkan seperti gelandangan. Ada seorang perempuan yang ternyata memiliki kepribadian yang berbeda. Dia bisa masuk ke dalam faksi mana saja secara kepribadian, dan dia memiliki kemampuan yang lebih dari faksi-faksi yang ada. Namanya Divergent. Ada banyak divergent ternyata bukan satu saja, nah ada satu faksi yang ingin memusnahkan semua divergent yang ada. Karena dianggap berbahaya. Disanalah konfliknya, selain konflik perebutan kekuasaan atau politik.

Maze Runner. Belum saya tonton jadi saya ga akan ceritain. Film-film yang tadi pun mungkin saya ceritain ga bener, cuma yang seingat saya saja. Kurang lebih garis besarnya begitu. Lalu, The Giver. Ini juga ceritanya manusia dalam satu komunitas yang dikatakan memiliki sistem kesetaraan. Tidak boleh ada perbedaan, tetap harmoni dan damai. Padahal ternyata ada banyak hal yang dihilangkan dari manusia di komunitas ini, terutama emosi. Dan, anak lelaki yang terpilih menjadi Penerima Kenangan dari Pemberi Kenangan, merasakan hal itu lalu kemudian ingin mengembalikan komunitas manusia itu kepada seharusnya. Manusia yang harusnya merasakan sedih, senang, luka, takut, dan cinta.

Saya melihat pada film-film itu ada satu kesamaan inti. Intinya tentang pemberontakan. Mungkin pada dasarnya manusia itu pemberontak. Pemberontakan yang paling sederhana adalah pemberontakan pada diri sendiri. Pencarian jati diri itu masuk ke dalam pemberontakan diri sendiri. Kita ingin menjadi mencari-cari jati diri kita, menjadi sesuatu yang bukan kita, mencoba hal-hal baru, itu menurut saya adalah pemberontakan terhadap diri sendiri. Lalu kita pun kadang melakukan pemberontakan pada keluarga. Hal-hal yang menurut kita salah, pasti kita lawan. Padahal belum tentu hal itu salah.

Lebih global lagi bahwa kita senantiasa berontak pada sistem. Ya sistem. Baik itu di dalam masyarakat, dalam perusahaan, bahkan dalam negara sekali pun. Sudah menjadi dasar manusia sepertinya untuk melawan sesuatu yang salah. Setidaknya menurut pikirannya sendiri hal itu salah. Dibutuhkan keberanian untuk melawan, untuk berontak. Kita lihat sekarang ini di Indonesia, ambil contoh mengenai pilkada langsung yang dicabut dan diganti menjadi pilkada melalui DPRD. Banyak orang yang menilai hal itu salah, dan tidak menerima. Maka terjadilah pemberontakan, mulai dari aksi unjuk rasa, sampai melakukan yudisial review ke Mahkamah Konstitusional. Contoh lain, ada sebagian ‘rakyat’ katanya tidak setuju kalau Bapak Basuki Tjahya Purnama alias Ahok dilantik menjadi Gubernur DKI menggantikan Bapak Jokowi yang terpilih menjadi presiden RI. Maka sebagian ‘rakyat’ itu melakukan aksi unjuk rasa, bahkan sampai melakukan tindakan pengrusakan dan penganiayaan.

Pemberontakan memang bisa dilakukan dengan cara yang baik maupun dengan cara yang tidak baik. Tapi, biasanya cara yang tidak baik akan menghasilkan kekacauan yang lebih tidak baik. Pemberontakan sebaiknya tidak digeneralisasi kepada hal yang buruk. Karena pemberontakan bisa saja merupakan sebuah revolusi yang akan membawa kepada perubahan yang lebih baik. Reformasi contohnya, itu adalah bentuk pemberontakan terhadap tirani yang menggerogoti rakyat sampai rakyat menderita, semua kena efeknya. Hasilnya tergulingnya tirani adalah pencapaian dari proses pemberontakan itu. Sayangnya, setelah pemberontakan itu, perbaikan sistemnya tidak dilakukan dengan baik, jadi seperti hanya menggulingkan penguasa saja. Tapi, itu awal yang bagus. Daripada terus dikuasai oleh orang yang tidak bertanggungg jawab.

Baiklah rasanya ini tulisan semakin panjang dan tidak ada isinya, dan daripada anda makin bingung saya sudahi saja. Pada intinya adalah kita sebagai manusia memiliki sifat pemberontak. Hal itu baik, karena kita bisa mengambil keputusan yang menurut kita baik, memperjuangkannya, dan mempertanggungjawabkan hasil dari perjuangan kita dari pemberontakan tersebut. Karena kita bertanggung jawab atas apa yang sudah kita pilih.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s