Get Married.

25 Oktober 2015. Tanggal ini buat saya momen spesial, tapi bukan martabak. Saya menikah. Akhirnya. Memang sudah saatnya, memang sudah waktunya saya menikah. Dan memang target saya menikah di usia saya sekarang, 27 tahun. Lalu siapa perempuan yang berkenan menemani sisa hidup saya, berani mau berbagi kehidupan dengan saya, berani menerima saya sebagai lelakinya, sebagai suaminya? Perempuan itu bukanlah orang baru dalam hidup saya, bukan orang yang hanya satu atau dua tahun saya kenal. Dia itu pacar pertama saya. Cinta monyet orang bilang. Padahal itu konsep frase yang tidak saya pahami (kita bahas nanti soal cinta monyet ya). Oke, saya sebutkan saja: Elva Martiani.

Kita punya kisah yang panjang menuju titik ini. Saya kasih gambaran saja timeline kita bisa sampai di titik ini:

1995: Pertama kita kenal, jaman masih SD. Kita tetanggaan, Elva sama keluarganya pindahan baru. Dan kita sama-sama mengaji di mesjid yang sama. Lalu, kepisah karena Elva dan keluarganya pindah rumah lagi.

2001: Kita tiba-tiba bertemu di SMP yang sama. Dan di sinilah cinta monyet itu bermula. Ya, pacaran yang dua-duanya juga nggak tahu harus gimana. Anak kecil sudah pacaran. Kelakuan. Hahaha. Sempat putus-nyambung terus pisah lagi lama.

2007: Setelah putus dan sama sekali nggak ada komunikasi, kita tetiba ketemu lagi di satu kampus yang sama. Dari sini lah komunikasi mulai terbuka lagi. Tapi, dua-duanya waktu itu masing-masing punya cerita sendiri.

2011: Di tahun ini, kita mulai pendekatan lagi. Komunikasi lebih intens dari yang biasanya. Kita pernah kencan, tapi bukan pacaran. Hampir menjurus menuju hubungan yang lagi-lagi kayak martabak, spesial. Tapi, entah belum saatnya jadi menguap begitu saja.

2014:  Tuhan dengan segala cara selalu bisa mempertemukan kami. Di tahun ini kami bertemu untuk pertama kalinya lagi di resepsi pernikahan saudara saya setelah 3 tahun tidak pernah bertatap muka langsung.

2015: Tahun ini saya nggak mau lagi menyianyiakan kesempatan yang ada. Jadi, 2015 timeline-nya begini:

  • 9 Maret 2015. Ulang tahun Elva. Saya sudah prepare buat ngasih kejutan dan melamar dia di hari ini. Langsung ngajak nikah, tanpa ngajak pacaran. I’m asked her to marry me. Ngelamar pake ngasih lagunya Yovie & Nuno, Janji Suci. Saya yang nyanyi, direkam sih hahaha. Belum dijawab langsung hari itu juga, entah mikir-mikir entah cari momen. Katanya sih mau hari itu juga jawab, tapi nggak ketemu momen (pengakuannya sih gitu hehehe).
  • 14 Maret 2015. Seminggu kemudian ngasih jawaban. Kotak kalung, yang juga dikasih waktu ngelamar dia, dibalikin lagi ke saya. Damn, ditolak. Begitulah kira-kira pikiran saya, deg-degan dan cemas. Dan ketika dibuka, di kotak itu ada tulisan: I Do. Alhamdulillah Gusti…..img-20151215-wa0006
  • 11 April 2015. Saya memberanikan diri untuk ‘meminta’ Elva ke orang tuanya. Dan sekaligus meminta ijin membawa keluarga untuk melamar Elva secara resmi.
  • 9 Mei 2015. Hari lamaran. Tunangan. Hari dimana saya dan Elva mengubah status dari single available menjadi single taken. Me taken by her and she taken by me. img-20150511-wa0002
  • 25 Oktober 2015. Get Married! Kenapa 25 Oktober? Karena tanggal yang sama tahun lalu adalah momen pertama lagi bertemu tatap muka langsung.

Buat yang sudah menikah pasti mengalami momen-momen gregetnya persiapan sebelum nikah. Kita menyebut proses ini dengan pusing-pusing lucu. Kita mau terlibat langsung dalam segala proses persiapannya. WO pun kita pilih bukan yang semuanya dikerjain WO, hanya rias, baju, catering, dan foto yang dari WO. Dan WO-nya pun yang memang mau ngikutin kemauan kita, jadi enak. Selama proses persiapan kalau dibilang lancar-lancar saja juga ya nggak semulus itu. Pasti bakalan ada beberapa momen yang bikin kita adu argumen. Bakal ada salah paham, emosi yang nggak stabil. Biasa dan wajar, karena selain kita -pengantin- ada juga keluarga kita yang ikut mempersiapkan. Dan itu nggak mudah buat menyamakan persepsi. Siasatnya adalah salah satunya harus bisa menenangkan, biasanya sih yang emosinya lebih tidak stabil perempuan. Jadi, sebagai calon suami yang baik, lelaki harus bisa meredam itu.

DSC_0608wm

Alhamdulillah, dengan segala macam dilematika dan problematika ketika proses persiapan semuanya terbayarkan ketika acara berlangsung. Berjalan lancar, sangat lancar malahan. Saya merasa dimudahkan ketika ijab kabul. Saya yang biasanya sering grogi dan terbata-bata kalau bicara di depan banyak orang, ketika melantangkan “Saya terima nikahnya putri bapak, Elva Martiani dengan mas kawin perhiasan emas sebesar 25 gram dibayar kontan” hanya dalam satu tarikan nafas tanpa terbata-bata.

DSC_0706_rewm

Lalu kenapa saya memilih Elva? Jawaban simple-nya saya akan bilang: sudah takdirnya kita berjodoh. Serius. Kalau saya dan Elva tidak ditakdirkan berjodoh, apa mungkin selalu dipertemukan lagi dan lagi walaupun sudah terpisah lama? Selain itu, ada satu momen yang membuat saya sadar bahwa selama ini yang saya butuhkan adalah dia. Kenapa? First of all, yang saya cari adalah kenyamanan. Saya selalu nyaman bersama dia. Kalau kita tidak merasa nyaman sama pasangan kita, apa kita mau menghabiskan waktu bersama dia? Apa mau kita berbagi suka duka bersama dia? Saya nyaman bersama dengan Elva. Lalu kenapa Elva memilih saya? Sebaiknya tanyakan sama orangnya ya hehehe…

Menikah itu babak baru dalam perjalanan kami. Akan ada babak-babak baru lainnya dalam perjalanan ini. Belajar untuk terus saling memahami satu sama lain. Seperti kata orang bilang, mencintai itu mudah yang sulit mempertahankannya. Dan terima kasih, istriku Elva (ciyee istri ciyeee :D). Terima kasih sudah mau dan berani menjadi istri saya.

Te Amo, 93!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s