Honeymoon Trip 1: Lombok

LOMBOK. Itu jawaban saya ketika saya dan istri sedang membahas bulan madu setelah menikah, lalu istri saya meminta saya untuk menebaknya. Ternyata jawaban saya benar. Keinginan saya dan keinginan istri ternyata sama. Bulan madu ke Lombok. Ciyee samaan ciyeeee, jodoh nih kita hahahaha…

Jadi selain merencakan acara resepsi pernikahan, secara paralel kami pun merencakan bulan madu. Cek jadwal kerja dan cuti masing-masing setelah menikah. Berhubung saya kerja merantau di tanah sumatera dengan schedule kerja 7 hari off dan 7 hari on, dan Elva -istri saya, siapa tahu anda belum baca posting sebelumnya- kerja di Bekasi dengan schedule 5 hari on dan 2 hari off di weekend, jadinya kita harus menyesuaikan. Hitung-hitung, maka diputuskan kita akan langsung berangkat ke Lombok setelah acara resepsi. Kami menikah tanggal 25 Oktober 2015, tanggal 26 kami berangkat ke Lombok.

Rencana awal tadinya kita berniat untuk mengeksplore Lombok sendiri, tanpa ikut paket wisata dari tour agent. Tetapi, setelah dipikir-pikir kalau kami berdua sama sekali buta dengan Lombok. Salah-salah malah tersesat atau lebih parah ditipu orang di sana. Jadi mulailah berselancar di dunia maya mencari paketan wisata. Ajegile, paketannya mahal-mahal. Paling murah saja kurang lebih kisaran 4 juta sampai 5 juta. Rencana kami akan melakukan trip 3 hari 2 malam. Fuih. Saya baru teringat kalau ada teman kuliah saya, Ipin yang sekarang kerja di PLN Sumbawa. Memang bukan di Lombok, tapi sering main ke Lombok. Dari dialah akhirnya saya dapat referensi tour guide dengan paketan yang murah.

Namanya DiZet Lombok Trip (ini bukan promosi dan tidak berbayar hehehe). Enaknya paketan ini bisa menyesuaikan dengan keinginan kita. Dari mulai hotel yang seperti apa yang kami mau, tujuan wisata kemana saja yang mau kami kunjungi, bisa dinegoisasikan. Kebanyakan paketan wisata itu mahal di hotel sama di makannya. Atau ada juga yang sekaligus dengan tiket pesawat. Jadilah kami akan trip di Lombok selama 4 hari 3 malam. Mau tahu seperti apa? Silakan baca terus jika berkenan hehe…

26 Oktober 2015

Pagi hari kami sudah siap untuk berangkat dari Garut ke Bandung. Ya, kami terbang dari Bandung ke Lombok flight jam 11:00 WIB. Buat saya rasanya lain. Biasanya saya berangkat naik pesawat sendirian. Kali ini ada orang di samping saya, dan itu orang yang istimewa. Istimewa? Cherrybelle? Hahaha… tentu bukan, ini istri saya.

Saya sempat heran melihat tiket, boarding jam 11:05 dari Bandung, kenapa sampai di Lombok jam 13:15? Saya tanyakan sama istri saya, dia cuma geleng-geleng kepala dan tertawa. “Iyalah, Bandung sama Lombok kan beda satu jam setengah.” Hahahaha saya lupa Lombok itu ada di timur dan punya perbedaan waktu. Maklum saja, ini pertama kalinya saya terbang ke luar pulau Jawa selain ke Sumatera.

Tiba di Lombok. Saya melihat jam tangan saya. Jarum jam menunjukkan jam setengah satu! Lah, katanya setengah dua? Lagi-lagi istri saya tertawa. Jam tangan harus diset manual, ahahahaha. Pertama melihat Lombok, di sekitar bandara itu gersang dan panas. Ya, kami datang memang ketika sedang musim kemarau, jadi ada beberapa daerah yang tandus katanya. Kami segera menghubungi Mas Dino DiZet, tour guide kami selama di Lombok. Dia sudah menunggu di pintu kedatangan bandara.

Karena sudah jam makan siang dan kami pun sudah mulai lapar, tujuan pertama kami diajak makan siang di Rumah Makan Nasi Balap Puyung tidak jauh dari Bandara. Nasi Balap Puyung ini termasuk salah satu kuliner wajib dicoba ketika di Lombok. Memang enak, semacam ayam goreng dengan bumbu khas dan yang penting sambel khas Lomboknya. Kami pesan sambel yang tidak terlalu pedas. Ini saja sudah membuat keringat bercucuran, apa kabar kalau pesan yang pedasnya. -__-”

Setelah perut kenyang kami melanjutkan perjalanan ke tujuan selanjutnya yaitu Desa Sasak Sade. Desa ini merupakan desa adat suku asli Lombok, suku sasak. Desa yang masih mempertahankan rumah-rumah adatnya, serta aturan-aturannya masih mengikuti aturan adat turun-temurun. Di sini kita akan dipandu oleh guide lokal desa, biasanya nanti mereka kita kasih uang tip ya 10 ribu atau 20 ribu.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Rumah di sini lantainya masih pakai lantai dari tanah dan masih pakai
atap dari semacam jerami. Dan kalian tahuOLYMPUS DIGITAL CAMERAmembersihkan lantainya pakai apa? Pakai kotoran sapi. Iya, jadi kotoran sapi yang masih fresh itu buat ngepel lantai. Di desa ini juga para wanitanya masih memintal benang dan menenun kain. Kegiatan menenun ini katanya sih bisa membuat perut langsing. Hasil tenun itu dijual kepada wisatawan yang datang ke desa ini. Harganya bervariasi mulai dari 100 ribu rupiah. Tergantung tingkat kesulitan dan lama pengerjaan kainnya. Ada yang bisa sampai berbulan-bulan kain itu selesai.

Selesai dari Desa Sade kami melanjutkan perjalanan, tentunya dengan menumpang mobil tour guide kami, menuju ke arah selatan. Ke pantai Tanjung Aan. Di pantai ini kita akan ketemu sama ayunan yang ada di pantainya. Entah dibuat sama cafe yang ada di sana karena ada tulisan Sama-Sama Cafe di atasnya. Lihatlah gambar sebelah kiri, ayunan itu tadinya ada dua. Dan setelah saya memaksa menaiki ayunan satu lagi karena begitu tinggi. Bluk! Saya terjatuh saudara-saudara, putuslah ayunannya satu. Belum sehari di Lombok sudah membuat ayunan putus. Terpaksa harus ganti baju.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Sudah ganti baju lalu melanjutkan ke Pantai Seger. Masih satu garis dengan Tanjung Aan. Di Pantai Seger ini ada spot yang bagus untuk menikmati sunset katanya. Dan itu adanya di atas sebuah bukit. Jadi kami harus sedikit hiking ke atas sana. Lumayan 5 menit menanjak ke bukit terbayarkan dengan view yang indah di atas sana. Waktu pun memang sudah menjelang terbenamnya matahari. Nikmat Tuhan yang mana yang kau dustakan? Bisa menikmati indahnya sunset di atas bukit dekat pantai bersama dengan istri tersayang, itu tak akan bisa diganti dengan apa pun 🙂

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Karena sudah mau malam jadi sehabis menikmati sunset di Pantai Seger kita beranjak untuk menuju hotel. Tapi, sebelumnya foto dulu di Pantai Kuta Lombok, sayang kalau dilewatkan spot foto yang bagus ini.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Sebelum ke hotel kita makan malam dulu di rumah makan ayam taliwang khas Lombok. Saya lupa nama tempat dan alamatnya. Yang jelas makanannya enak sekali, sambal khas taliwangnya juga maknyos. Dan plecing kangkungnya itu juara. Segar. Tahu gorengnya juga enak, agak lain dengan tahu biasanya yang ada di Jawa. Perut kenyang dan juga efek dari kangkung mungkin jadi mengantuk. Segeralah kami menuju hotel. Kami menginap di Hotel Idoop. Hotelnya lumayan nyaman, berada di Kota Mataram, dekat dengan Mataram Mall.

27 Oktober 2015

Hari kedua di Lombok. Pagi-pagi saya dan istri sudah sarapan di hotel. Menunggu dijemput sama Mas Dino tour guide kami. Rencana hari ini kita akan ke Pantai Tangsi atau yang lebih sering dikenal dengan pantai pink dari Lombok. Perjalanan ke pantai itu dari kota Mataram kurang lebih sekitar 2 jam. Kata Mas Dino kita bisa saja lewat jalan darat ke Pantai Pink 1, tapi bakal memakan waktu yang lama dan jalannya kurang bagus. Terus hanya bisa menuju pantai pink 1 saja. Ada 3 pantai pink di sini, pink 1, pink 2, dan pink 3. Masih berdekatan memang.

Jadi setelah melalui jalur darat, kami melanjutkan dengan menaiki boat yang sudah disewa. Boat ini akan mengantarkan kami ke menelusuri ketiga pantai pink tadi. Tujuan pertama yaitu ke pantai pink 3. Pantai di sini memang masih belum terjamah banyak orang. Masih sepi dan tidak ada rumah penduduk atau warung-warung yang berjualan. Benarkah pantainya pink? Pasir di sini memang berwarna pink, ada butiran-butiran merah di pasirnya. Sayangnya, memang tidak terlalu jelas warna pinknya.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Lanjut lagi ke pantai pink 2. Pantai ini juga masih sepi, belum banyak orang. Atau kita yang datang pas bukan musim liburan ya hehe… Pasir di pantai pink 2 malah lebih putih, butiran merahnya tidak terlalu kelihatan. Di pantai ini kita istirahat untuk makan siang di bawah pohon yang rindang. Menunya masih ayam goreng. Entah kenapa ayam goreng di Lombok ini bumbunya enak sekali, meresap ke dalam dagingnya. Pedas-pedas tapi manis, gurih.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Selesai makan kita lanjut lagi menuju ke pantai pink 1. Tapi, sebelumnya kita berhenti di salah satu spot dekat sana. Di sana ada goa dalam laut. Ada lubang di dalam laut yang terhubung ke salah satu bukit di dekat pantai. Konon katanya itu ada waktu jaman Jepang. Karena penasaran jadi saya ber-snorkeling untuk melihat goa itu. Awalnya cuma saya yang turun, eh istri akhirnya ikut turun juga.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Puas menikmati ketiga pantai pink yang ada di Lombok. Kami diajak untuk ke tempat yang disebut dengan Pulau Pasir. Jadi, pulau ini seperti pantai, tetapi berada di tengah laut. Dan, hanya akan terlihat dan bisa dikunjungi jika air laut sudah surut, biasanya pada sore hari di atas jam tiga. Pulau pasir ini ketika kami menuju pantai pink 1 tadi belum terlihat, hanya terlihat tiang bendera saja seperti ditancapkan di tengah laut. Di pulau ini kita bisa menemukan bintang laut, ikan-ikan kecil, dan binatang-binatang laut lainnya.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Puas seharian menjadi anak pantai di Pantai Pink 1, Pink 2, dan Pink 3. Kami kembali lagi ke kota Mataram. Sebelumnya kami singgah di pusat oleh-oleh Sasaku. Tempatnya cukup bagus, banyak oleh-oleh yang bisa dibeli di sini. Kebanyakan memang kaos oblong bertuliskan Lombok. Ada juga pernak-pernik lainnya, gantungan kunci, sarung tenun, kain tenun, juga makanan-makanan ringan khas Lombok, dan sambal khas Lombok pun ada. Kami pun belanja oleh-oleh untuk keluarga di rumah. Untuk bapak-bapak dan anak-anak kita kasih sarung dan kaos. Untuk ibu-ibunya kita belikan mutiara Lombok. Bukan mutiara Lombok yang dari laut. Oh, tidak sanggup. Jualannya per gram. Dan 1 gram bisa seharga 250 ribu. 1 gram bisa jadi cuma 1 biji mutiara. Belanja oleh-oleh ini lebih besar daripada ongkos ke Lombok hahahaha…

Dan kuliner malam ini sebelum kembali ke hotel yaitu Sate Rembiga. Warung sate yang ada di Jalan Wahidin Sudirohusodo ini paling terkenal di Lombok. Katanya sih yang asli memang cuma ada di sini. Sate Rembiga itu seperti sate maranggi kalau di Jawa. Tanpa bumbu kacang atau bumbu kecap. Bumbunya sudah ada dalam daging itu sendiri sebelum dibakar. Rasa pedas manis yang ada dalam sate itu membuat lidah kita selalu ingin lagi dan lagi. Dimakan dengan lontong atau pun nasi sama enaknya, dan tentu saja ditambah dengan plecing kangkung. Joss gandos! Sate Rembiga ini termasuk kuliner yang harus dicoba kalau berkunjung ke Lombok.

28 Oktober 2015

Selamat hari sumpah pemuda! Hahahaha… memulai hari dengan memperingati sumpah pemuda dan tentunya sarapan pagi di hotel sebelum dijemput sama tour guide kita dan melanjutkan trip Lombok hari ke-3. Hari ini planning-nya akan mengunjungi 3 gili; Gili Trawangan; Gili Meno; Gili Air.

Perjalanan di mulai menuju ke gili. Dari hotel kami itu menuju ke arah barat. Dalam perjalanan kita juga melewati Pantai Senggigi, Malimbu. Kami tidak singgah dulu untuk mengefektifkan waktu dan mengejar boat penyebrangan ke gili. Ada dua boat yang bisa dipakai buat ke gili. Private boat sama public boat. Tentunya berbeda di harga, jelas private boat lebih mahal ongkosnya.

OLYMPUS DIGITAL CAMERASebelum ke menyebrang kita singgah dulu untuk menikmati pemandangan laut di sebuah villa yang tidak selesai dibangun. Orang-orang menyebutnya dengan Villa Hantu. Sebenarnya tidak ada hantunya di sini, cuma karena sudah lama ditinggalkan dan dibiarkan jadi mungkin biar menyeramkan dan menarik wisatawan jadi dinamakan Villa Hantu. Katanya sebelum dijadikan tempat wisata, villa ini sering disalahgunakan oleh pasangan muda-mudi untuk melakukan hal-hal yang mereka inginkan.

View di villa ini memang bagus. Kita bisa melihat laut dengan gradasi 3 warna yang sangat indah. Tempat ini memang ‘menjual’ spot berfoto-foto yang menarik untuk diabadikan.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Akhirnya kita menyebrang ke Gili Trawangan dengan menggunakan public boat. Public boat ini transportasi dari Bangsal (pelabuhan) ke Trawangan dan sebaliknya. Transportasi ini selain digunakan untuk wisatawan juga untuk warga daerah sana untuk membawa bahan-bahan makanan dan juga air bersih. Karena di gili-gili sulit air bersih. Kurang lebih 30 menit waktu penyebrangan kami sudah sampai di Gili Trawangan. Di sini ramai sekali. Wisatawan asing bertebaran di sini. Jadi pemandangan yang wajar kalau melihat bikini-bikini bertebaran hehehe. Selain hotel dan cottage di Trawangan juga dipenuhi dengan cafe-cafe. Katanya sih kalau malam di sini lebih ramai lagi. Sering ada party-party kayak di night club. Wajar sih, orang kebanyakan turis asing.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Yang ditawarkan di Trawangan selain keindahan pantai dan laut, ada juga paket snorkeling 3 gili dalam satu hari. Ada juga marine walk; jalan-jalan didasar laut. Untuk mengelilingi gili ini hanya ada 2 transportasi, pertama itu cidomo; sejenis delman atau andong, yang kedua itu sepeda sewaan. Saya dan istri saya, Elva, lebih tertarik menyewa sepeda untuk berkeliling. Akhirnya kita sewa sepeda yang tandem. Itu yang satu sepeda ada 2 jok. Kami bersepeda menyusuri jalan yang ada dan berhenti di spot yang menarik untuk foto dan kalau sudah capek.

Tak terasa kami sudah bersepeda hampir setengah pulau. Rasanya sudah capek dan tidak mungkin untuk mengelilingi satu pulau ini. Akhirnya kami mencari jalan untuk memutar kembali dengan bantuan google maps :). Kami tidak sempat berfoto di ayunan villa ombak yang iconic di Trawangan, karena sepertinya lagi ramai dan mengantri untuk foto di sana. Jadi, lebih baik kembali lagi dan sudah waktunya jam makan siang. Di Trawangan ini juga ada es krim gelato, seperti es krim dari Itali. Rasanya enak juga, lumayan segar setelah capek bersepeda.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Setelah makan siang rencananya kita akan menuju ke Gili Meno, tetapi penyebrangan yang ada baru nanti sore. Kalau kesorean nanti kita ketinggalan boat buat kembali ke Bangsal. Jadi kita putuskan untuk kembali ke Bangsal lalu menyebrang lagi ke Gili Air. Sedikit repot memang. Kesalahan sih sebenarnya, karena dari awal seharusnya kita tanyakan ke DiZet aktivitas apa saja yang mau dilakukan di 3 Gili ini. Jadi, akhirnya supaya tidak sia-sia kita minta untuk snorkeling di Gili Meno dari Gili Air. Itu pun dengan harga khusus karena sudah bukan jam operasinya lagi dan kita minta untuk sekalian diantar pulang ke Bangsal.

Snorkeling di Gili Trawangan, Gili Meno, dan Gili Air sebaiknya dilakuan dari pagi menuju siang karena ikan-ikannya lebih banyak dan penyu masih banyak berkeliaran. Alhamdulillah, beruntung kita masih bisa ketemu penyu waktu snorkeling sore hari di Gili Meno. Karang-karangnya bagus dan berwarna. Snorkeling di sini lebih susah berenangnya daripada di pantai pink kemarin. Entah faktor hari yang sudah sore atau memang airnya yang lebih bergelombang.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Karena sudah sore menjelang malam, kita sudahi snorkeling lalu kembali ke Bangsal untuk mandi dan kembali pulang ke hotel. Dalam perjalan pulang, kami disuguhi salah satu makanan khas lagi yaitu sate ikan. Lumayan enak untuk camilan. Entah ikan apa yang digunakan. Trip hari ini berakhir dan kami kembali ke hotel untuk packing pulang esok hari dan beristirahat.

29 Oktober 2015

Hari ke-4. Hari terkahir di Lombok. Penerbangan kembali ke Bandung jam 14:00 WIT. Pagi hari setelah sarapan kami sudah dijemput Mas Dino untuk menuju ke tempat wisata terakhir hari ini. Setelah tiga hari kemarin kami disuguhi surga dunia di pantai-pantai Lombok, hari ini kami akan ke tempat wisata alam yang lebih hijau dan lebih segar. Air Terjun Benang Kelambu.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Untuk menuju air terjun ada dua jalur yang bisa dilalui. Pertama jalur dengan berjalan kaki dan kedua dengan menggunakan motor. Mengingat waktu yang harus dikejar jadi kami memilih jalur dengan motor. Lagi-lagi sewa. Sewanya 50 ribu satu motor. Eh, hitungannya per kepala. Jadi, saya bawa motor sendiri boncengan dengan istri bayarannya tetap sama 100 ribu. Jalur motor ini pun lumayan naik turun dengan kondisi jalan yang tanah berbatu. Setelah sampai pun kami belum bisa melihat air terjun, karena harus menuruni tangga yang lumayan banyak. Kalau di Garut mungkin seperti Curug Orok.

Dinamakan Air Terjun Benang Kelambu karena aliran air yang turun dari atas itu membentuk seperti benang pada kelambu.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Puas menikmati kesegaran di air terjun dan memang waktunya pun semakin dekat ke jam penerbangan, akhirnya kami bergegas pulang untuk menuju bandara. Sebelumnya kami minta untuk diajak ke tempat makan khas Lombok lainnya selain ayam. Kami pun diajak ke tempat makan di sekitar area bandara Lombok. Makanan khas ini bernama Bebalung. Bebalung ini semacam sop iga. Rasanya enak, gurih, dagingnya empuk. Kuah asamnya juga menggugah selera untuk menikmatinya.

Sampai di Bandara Internasional Lombok di Praya. Akhirnya kami harus kembali lagi ke Bandung. Terima kasih Lombok. Semoga ada kesempatan lagi untuk kembali ke sini. Terima kasih juga DiZet sudah menjadi tour guide selama di Lombok.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Baiklah tulisan ini sudah sangat panjang sekali rasanya. Sampai jumpa di tulisan trip yang lainnya. Cita-cita saya ingin bisa keliling tempat-tempat menarik di Indonesia bersama istri saya. Makanya dulu saya tidak pernah jalan-jalan hehe… Mungkin juga suatu saat bisa ke luar negeri… aamiin…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s