Pikir Dulu

Suatu pagi ketika saya dalam perjalanan ke site tempat saya bekerja, jalanan ramai dan laju kendaraan sedikit terhambat. Ternyata di depan saya telah terjadi kecelakaan antara truk tangki minyak kelapa sawit dengan bus antar kota antar propinsi. Jika dilihat pada posisinya tabrakan itu bagian depan kedua kendaraan saling beradu. Istilah orang di sini menyebutnya adu kambing. Bukannya tadi yang tabrakan truk sama bis?  

Rekan kerja saya yang duduk di bangku belakang, sudah bisa menyimpulkan bagaimana kecelakaan itu terjadi. Posisi kedua kendaraan, disebutnya ada yang sedang mendahului tapi tidak melihat kendaraan lain dari arah berlawanan. Kendaraan yang lainnya melaju dengan kecepatan tinggi. Sampai adanya korban jiwa. Memang hebat dia, bisa tahu selengkap itu. 

Teringat hal itu, jadi mengingatkan saya bahwa rekan kerja saya memang seperti itu wataknya. Yang diketahuinya hanya depannya saja, tapi bisa bercerita sampai bagian akhir. Ibarat baca buku, baru baca judulnya saja, sudah bisa menceritakan akhir dari buku itu. Yang dia ceritakan hanya asumsi dan khayalan di kepalanya saja. Faktanya dia tidak tahu. Bagaimana mungkin tahu faktanya kalau dia tidak menelusuri lebih lanjut lagi. 

Sama seperti orang baca tautan berita di internet sekarang ini. Yang dibaca hanya judulnya saja, lalu sejurus kemudian langsung membagikan tautan itu kemana-mana. Padahal benar atau tidaknya berita itu belum jelas. Isi beritanya saja tidak dibaca, tapi bisa berkomentar dengan cepat lalu dibagikan ke orang lain. 

Jaman sekarang begitu mudah dan cepat mencari berita. Media online khususnya, bisa dengan mudah memuat sebuah berita hanya berbekal postingan dari seseorang. Misalnya, ada artis yang memuat fotonya di sosial media dengan menambahkan keterangan: liburan di Bali. Hanya dengan sebuah foto dan sepenggal kalimat itu, sudah bisa jadi materi berita. Dengan membuat isi berita sesuai imajinasi si penulis. Tak lupa menyertakan beberapa tanggapan atau komentar yang menarik. 

Bukan hanya sebuah foto, cuitan atau tulisan status di media sosial seperti facebook, twitter, dain lainnya bisa menjadi bahan dasar untuk merangkai kalimat menjadi berita. Yang sepertiya berita itu pun tidak dikonfirmasi dan diklarifikasikan ke subjek berita tersebut. 

Orang-orang sekarang tampaknya lebih senang seperti itu. Membaca judul yang mereka sukai, sebelum dibaca dan dipelajari lagi sudah dibagikan ke orang lain. Padahal setidaknya baca dulu isi beritanya, pahami, lalu pikirkan apakah tulisan itu patut untuk diketahui orang lain. Ada manfaatnya atau tidak. Jika dibagikan apa akan memicu keributan, menimbulkan debat tak tentu arah. 

Dalam menyikapi segala sesuatu, marilah untuk memulai berhenti sejenak untuk berpikir dan memahami sebelum berpendapat. Dan bukankah lebih baik diam jika tidak memahami. Daripada berbicara tetapi asal. Apalagi sampai menimbulkan perdebatan dan keributan. Bukankah Rasulullah mengajarkan kita untuk menghindari perdebatan, sekali pun kita benar. 

Maafkanlah tulisan saya yang ngaco

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s