First Born: Bad News

Melanjutkan postingan sebelumnya dalam seri First Born. Sebelum masuk bulan puasa kemarin istri pulang ke Garut, niatnya mau munggahan di sana. Saya ga ikut karena udah jadwal masuk kerja di Riau. Khawatir sih istri lagi hamil perjalanan jauh sendirian pula. Tapi, ya resiko mau gimana lagi. Ga ada yang aneh waktu istri di Garut, biasa aja dan normal-normal aja. Sehari sebelum masuk hari pertama puasa, jam 5 subuh pas saya pulang dari masjid di HP ada beberapa panggilan tak terjawab, dari mamah mertua dan dari mamah saya. Agak heran keduanya menelpon sepagi itu. Langsung saya telepon balik mamah. 

Mamah cerita istri sekarang lagi di bidan dekat rumah. Tadi subuh katanya pendarahan, keluar darah banyak. Dan mau dibawa ke rumah sakit buat di USG dan diperiksa sama dokter kandungan di sana. Seketika gemetar, pikiran ga karuan. Cuma bisa berdoa sama Allah. Jarak yang jauh bikin suasana makin tidak berdaya. Informasinya memang belum jelas, intinya istri mengalami pendarahan dan kalo hasil periksa sama bidan katanya belum ada pembukaan. Waktu itu usia kandungan masih sekitar 12 minggu. Masih dalam usia yang rentan untuk kehamilan. Tapi, saya coba berpikir positif, berdoa, dan tawakal.

Jam 6 pagi sudah ada di RSIA Bunda Alya Garut, tapi baru jam 8an diperiksa dokter. Dari pertama dapat kabar saya belum nelepon istri, takutnya dia malah tambah shock. Jadi saya cuma komunikasi sama mamah. Jam 9 mamah ngabarin hasil periksa dokter. Katanya kandungannya selamat, janinnya sehat, detak jantung masih ada. Alhamdulillah. Memang ada pendarahan yang bisa dikategorikan sebagai ancaman keguguran. Penyebabnya ga pasti karena bisa banyak faktor. Bisa infeksi, bisa kecapean, bisa dari makanan atau minuman. Istri harus rehat dulu dan ga bisa puasa, karena kita khawatir sama kondisi janin juga ibunya. 

Seminggu istirahat di Garut, istri balik lagi ke Bekasi. Karena khawatir, jadi ditemani mamah mertua sampe saya pulang ke Bekasi. Seminggu saya di sana, semuanya normal saja. Memang lebih diperhatiin lagi pilihan makanan sama minuman. Yang mitos-mitos ga boleh dimakan pun kita ikutin. Pas saya mau balik lagi ke Riau, pagi hari istri bilang kayaknya nge-flek lagi. Ya, ada darah lagi keluar. Ga banyak, tapi kentel. Saya yang pagi itu harusnya ke bandara dan pulang ke Riau, langsung cancel dan minta ijin bos buat balik besok. 

Pagi itu kita nyari lagi dokter, karena sebelumnya di RS AB banyak testimoni ga menyenangkan dari temen-temen istri. Dan hasil dari gosipan istri dan temen-temennya, akhirnya kita mutusin buat cek ke RS Hermina Bekasi. Siang dicek dokter Lilia di sana, dari hasil USG emang keliatan ada pendarahan di kandungannya. Kata dokter sih kecil bisa ilang sendiri, selama belum menyebar. Jadi, istri disuruh istirahat lagi. 

Beruntung setelah dapet surat dokter, kantor istri bahkan menyarankan untuk lanjut istirahat sampai lebaran sampai kondisi membaik. Jadi, pulang lagi ke Garut buat istirahat total di sana. 

Setelah beberapa lama, istri saya baru inget. Sebelum pulang ke Garut mau munggahan itu, dia minum es kelapa muda. Ya, air kelapa muda emang bagus, tapi untuk usia kandungan yang masih renta, di trisemester awal sebaiknya memang dihindari saja. Plus emang ada faktor kelelahan juga. 

Ya, buat yang lagi hamil dijaga baik-baik apalagi di usia kandungan yang masih muda. 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s