First Born: Welcome to The World, Baby! 

Hello, balik lagi. Eh, ada yang nungguin ga seri first born ini? Hehehe… Lama ini lanjutannya ya karena sok sibuk dengan hal lain. Kita lanjut ceritanya ya. Jadi abis pendarahan kemarin itu, tentunya saya dan istri jadi lebih hati-hati dan waspada. Selektif sama makanan, ngikutin mitos-mitos, ya percaya atau engga kita ambil positifnya aja. Istri kadang jadi bingung, karena banyak ga bolehnya.

Periksa lagi ke dokter, ternyata habis pendarahan kemarin posisi plasenta masih di bawah. Tapi, masih bisa naik dengan asupan makanan dan banyak gerak. Dan satu lagi, rajin-rajin ajak ngobrol calon bayi dalam perut. Minta dia biar bawa plasentanya naik. Mungkin aneh, tapi itu ya semacam latihan komunikasi sama bayinya. 

Soal plasenta ini unik, jadi setelah pendarahan masih di bawah. Periksa selanjutnya udah naik normal di atas dan ga ngalangin jalan lahir. Terus di usia kehamilan 30 mingguan, dokter bilang plasentanya ke bawah lagi, dan ngalangin jalan lahir. Dokter udah bilang cuma bisa lewat operasi lahirannya. Istri sempet down denger kabar itu. Saya pun cuma bisa meyakinkan buat terus berdoa, lakuin posisi sujud lebih sering, makan protein lebih banyak. Nah, menjelang pulang ke Garut. Istri kontrol lagi ke dokter. Alhamdulillah, ternyata plasentanya udah naik lagi ga ngalangin jalan lahir. Dokter pun ga komen apa-apa. Cuma bilang kandungannya bagus. Dokter juga bisa keliru kan. 

Akhir November 2016, istri sudah mulai cuti. Saya pun ambil cuti lebih awal. Cuti reguler. Belum bisa ambil cuti melahirkan, karena regulasinya cuti melahirkan bisa diambil pas harinya. HPL alias hari perkiraan lahir bayinya menurut itungan HPHT (hari pertama haid terakhir) itu jatuh di tanggal 26 Desember. Masih 2 minggu dari cuti yang saya ambil. Cuma firasat istri kalau lahirnya bakalan sebelum itu. Dan supaya saya bisa stand by nemenin. Sebagai suami siaga, saya ikutin kemauan istri. Toh saya juga bisa rehat lebih lama dari kerjaan hehe. 

Dua minggu sudah saya di Garut, cuti tinggal seminggu lagi. Dan istri belum ada tanda-tanda mau lahir. Tiap ditanya, udah mules belum? Ada kontraksi ga? Jawabannya engga. Heran. Dan temen-temennya yang barengan hamil, udah pada lahiran. Kok, ini tanda-tandanya ga ada juga. Agak khawatir, soalnya kalo belum lahir pas cuti habis saya harus balik lagi ke Riau. Kalo pas saya balik, istri lahiran ya berabe bolak-balik. 

Tiap pagi saya dan istri jalan-jalan. Ya keliling komplek lah. Katanya kan itu bisa merangsang kontraksi. Nah, pagi itu kita jalan lah ke depan komplek mau cari sarapan. Sampai di gerbang istri ngerasain kayak ada cairan keluar. Kayak pipis gitu lumayan banyak. Sempat nerusin jalan, sampai numpang dulu ke toilet mesjid buat ngecek. Dia bilang cairanya bening kayak keputihan, tapi lebih kental. Ya udah, akhirnya kita balik lagi ke rumah buat ngecek ke bidan. Kebetulan ada bidan di komplek rumah. 

Kita berangkat ke bidan. Kata mertua sekalian aja bawa tas yang udah disiapin buat lahiran. Baju bayi dan lain-lain. Sampai diperiksa di bidan, katanya udah ada pembukaan. Tapi, baru pembukaan 2. Disaranin buat cek ke dokter kandungan aja, mastiin cairan yang keluar. Yang kemungkinannya air ketuban. Jadi, langsung tancap gas ke klinik bersalin Bunda Alya, yang memang dari kemarin kontrolnya ke sini. Diperiksa dokter udah masuk ke pembukaan tiga, dan cairan yang keluar tadi memang air ketuban yang pecah/ rembes. Dokter langsung ngasih rujukan buat tindakan persalinan. Karena istri ga ngerasain kontraksi dan mules, jadinya dikasih tindakan induksi buat merangsang kontraksinya. Jadi, induksi yang dilakuin itu istri diinfus dan dikasih obat entah apa namanya buat merangsang kontraksi. 

Mulai diinduksi dari jam 11 siang dan baru pembukaan tiga. Sampai jam 3 sore udah masuk ke pembukaan 8. Termasuk cepet. Dan ga kayak orang kontraksi lainnya yang pake teriak-teriak, jerit-jerit, istri saya termasuk sholehah. Sakit pun dia cuma meringis tanpa suara. Ya sesekali mencengkram tangan saya. Ga sampe ada adegan pukul memukul, jambak menjambak, karena rambut saya lagi botak. 

Jam setengah 4 sudah masuk ke pembukaan 9. Proses persalinan segera dilakukan. Dan yang boleh tinggal di dalam cuma satu orang. Sepertinya mamah saya akan lebih banyak membantu di dalam daripada saya. Jadi akhirnya saya menunggu di luar dengan cemas dan deg-degan. Walaupun saat itu sedang ada siaran langsung sepak bola, tapi mana bisa konsen nonton bola kalau pikiran ada di ruang bersalin. Di ruang tunggu selain saya ada juga mamah mertua, kakak saya, kakak ipar, bapak saya. Semua ikutan cemas. Setengah jam kemudian, mamah saya yang di dalam keluar. Katanya harus dibantu vacuum karena istri kelelahan dan ga kuat ngeden. Ya apa pun yang penting istri dan bayinya selamat. 

Jam 16:40 terdengar tangisan bayi yang menggelegar memecah keheningan klinik. Tangis itu begitu nyaring dan kencang. Seketika saya berucap syukur. Bayi saya, anak pertama saya sudah lahir. Saya masuk untuk melihat bayinya. Ia begitu mungil. Perempuan jenis kelaminnya. Beratnya 2500 gram, panjangnya 47 cm. Setelah suster membersihkan dan membedonginya, saya mau mengadzaninya. Ada beda pendapat soal ini, tapi saya ngambil baiknya biar suara pertama yang dia kenal adalah lantunan adzan dari ayahnya. Sempat kikuk antara mau gendong atau engga, karena mungil sekali jadi ragu. Akhirnya saya biarkan dia berbaring dan mengadzaninya di telinga kanan, lalu iqomah di telinga kiri. Selamat datang di dunia, anakku! 

Istri masih di dalam ruang bersalin. Dia masih harus menuntaskan proses persalinan. Dijahit tepatnya dan lama sekali. Dari setelah bayi lahir baru selesai jam 6 lebih. Katanya menghabiskan 2 rol benang. Luar biasa. Waktu proses lahiran seperti biasa dia ga teriak dan menjerit, tapi waktu proses jahit teriakannya kencang. Alhamdulillah istri selamat, bayi selamat. Nikmat Tuhan mana yang kau dustakan. Bimbing kami jadi orang tua yang bisa menjaga dan mendidik titipan-Mu dengan baik dan benar, ya Allah. 

Advertisements

2 thoughts on “First Born: Welcome to The World, Baby! 

  1. Iya vi, termasuk cepet katanya itu. Wah udah induksi seharian lebih ya baru 4… pegel pasti da…
    Iya alhamdulillah lancaar

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s