Perspektif, Persepsi, dan Opini

Sebelum membahas apa yang saya maksud, mari kita lihat dulu pengertian dari ketiga kata itu dalam definisi formal dari kamus besar Bahasa Indonesia:

  • Perspektif menurut kamus besar Bahasa Indonesia (KBBI): [1] cara melukiskan suatu benda pada permukaan yang mendatar sebagimana terlihat oleh mata dengan tiga dimensi (panjang, lebar, dan tingginya); [2] sudut pandang; pandangan.
  • Persepsi menurut KBBI: [1] tanggapan (penerimaan) langsung dari sesuatu; serapan; [2] proses seseorang mengetahui beberapa hal melalui panca inderanya.
  • Opini menurut KBBI: pendapat; pikiran; pendirian.

Lebih gampangnya coba kita perhatikan gambar di bawah ini:

fb_img_1476287575097

Gambar di atas menunjukkan sebuah perspektif, gambaran silinder atau tabung yang merupakan bentuk 3 dimensi lalu dituangkan dalam media 2 dimensi. Dari gambar itu juga menunjukkan sebuah perspektif atau sudut pandang. Pada sisi biru yaitu sisi lingkaran, orang yang berada di sisi ini akan melihat silinder atau tabung itu hanya berbentuk lingkaran. Sedangkan pada sisi oranye yaitu sisi badan silinder, orang yang berada dari sisi ini akan melihat silinder atau tabung berbentuk seperti kotak atau persegi panjang.

Dengan sudut pandang berbeda menghasilkan bentuk yang berdeda. Bentuk lingkaran dan bentuk kotak itulah yang dinamakan persepsi. Penerimaan langsung dari apa yang dilihat. Anggapan dari satu sudut pandang. Apakah salah? Tentu tidak, pada dasarnya mereka mengambil kesimpulan dari apa yang dilihatnya pada sudut pandang tertentu. Dari satu sisi mata kita melihat satu bentuk. Dan kita berkesimpulan itulah bentuknya.

Dari apa yang kita lihat itu kemudian kita menyimpulkan bahwa bentuknya lingkaran atau kotak. Inilah yang namanya opini. Kita bisa mengeluarkan pendapat setelah melakukan observasi, literasi, atau mendengarkan. Dari kasus tabung di atas, pendapat kita diperoleh dari hasil penglihatan satu sudut pandang pada tabung.

Supaya kita tahu apa sebenarnya yang kita lihat, tentu tidak bisa dari satu sisi. Kita harus melihat keseluruhan benda itu. Barulah kita bisa melihat bahwa sebenarnya benda itu adalah tabung.

Mari lihat lagi gambar untuk kasus kedua di bawah ini:

perspektif69

Pada gambar di atas kasusnya adalah sebuah angka, perspektifnya adalah orang di sebelah kiri dan orang di sebelah kanan. Persepsinya adalah orang di sebelah kiri melihat itu angka 6 dan orang di sebelah kanan melihat itu angka 9. Kemudian masing-masing memberikan opini mengenai yang dilihatnya yaitu angka 6 dan angka 9. Siapa yang benar? Keduanya benar, karena mereka melihat dari sudut pandang masing-masing yang berbeda, tentunya lagi-lagi akan menghasilkan persepsi dan opini yang berbeda.

Opini mereka tidak akan bisa diubah selama tidak mengubah perspektif mereka. Cara untuk menyelesaikan kasus ini yaitu harus adanya aturan yang jelas mengenai bagaimana melihat angka ini. Aturannya bisa mengenai sudut pandang, dari mana harus kita lihat, kanan atau kiri. Atau dengan melihat bagian lainnya. Misalnya, jika sebelum dan sesudah angka itu atau kita sebut saja angka x ada angka-angka lainnya, maka perlu diperhatikan lagi polanya.

Jika sebelum angka x ada angka 1, 2, 3, 4, 5 kemudian angka x. kita bisa melihat polanya bahwa itu adalah deret angka beruntut. Jadi angka x bisa kita ambil kesimpulan adalah angka 6. Jika sebelum angka x itu ada angka 7, 8, lalu angka x. Dengan pola yang sama berarti itu adalah angka 9. Atau jika di depan angka x ada angka 1, 3, 5, 7, dan x. Kita bisa menilai bahwa polanya adalah angka ganjil, maka kita bisa menentukan kalau angka x itu adalah angka 9.

Pola-pola angka tadi itu merupakan gambaran keseluruhan yang membangun sudut pandang. Deret angka berurut atau deret angka ganjil merupakan sebuah sudut pandang yang jelas, sehingga persepsi kita pada angka x dapat diarahkan dengan benar sesuai polanya. Selama tidak ada polanya, tidak ada perspektif yang sama, maka akan selalu ada dua persepsi. Dan tidak bisa disalahkan karena tidak ada aturan yang jelas, tidak ada polanya.

Perspektif akan membangun persepsi dan persepsi akan menghasilkan opini. Orang akan mempertahankan opini mereka sesuai dengan persepsinya. Persepsi bisa benar atau salah tergantung dari perspektif. Maka perspektif menurut saya kunci untuk beropini. Jadi, jangan menilai sesuatu dari satu sisi saja, karena akan menimbulkan persepsi yang tidak sempurna. Perhatikan sisi-sisi yang lainnya, perhatikan juga aturannya, pola-polanya, itu akan membangun persepsi-persepsi yang lainnya sehingga opini yang kita dapatkan bukan opini membabi buta karena hanya melihat di satu sisi saja.

Tulisan saya ini juga hasil dari perspektif atau pandangan. Pandangan saya mengenai saya dan orang-orang lain mengeluarkan pendapatnya. Bagaimana mereka sangat mempertahankan pendapatnya. Dan Anda pun bisa mengambil perspektif, persepsi, dan opini yang lain dari tulisan saya ini.

enda42

Disclaimer: gambar-gambar ditulisan ini saya lupa dari mana sumbernya, kalau ada yang tahu bisa kasih tahu saya. Terima kasih.

Advertisements

Pikir Dulu

Suatu pagi ketika saya dalam perjalanan ke site tempat saya bekerja, jalanan ramai dan laju kendaraan sedikit terhambat. Ternyata di depan saya telah terjadi kecelakaan antara truk tangki minyak kelapa sawit dengan bus antar kota antar propinsi. Jika dilihat pada posisinya tabrakan itu bagian depan kedua kendaraan saling beradu. Istilah orang di sini menyebutnya adu kambing. Bukannya tadi yang tabrakan truk sama bis?  

Rekan kerja saya yang duduk di bangku belakang, sudah bisa menyimpulkan bagaimana kecelakaan itu terjadi. Posisi kedua kendaraan, disebutnya ada yang sedang mendahului tapi tidak melihat kendaraan lain dari arah berlawanan. Kendaraan yang lainnya melaju dengan kecepatan tinggi. Sampai adanya korban jiwa. Memang hebat dia, bisa tahu selengkap itu. 

Teringat hal itu, jadi mengingatkan saya bahwa rekan kerja saya memang seperti itu wataknya. Yang diketahuinya hanya depannya saja, tapi bisa bercerita sampai bagian akhir. Ibarat baca buku, baru baca judulnya saja, sudah bisa menceritakan akhir dari buku itu. Yang dia ceritakan hanya asumsi dan khayalan di kepalanya saja. Faktanya dia tidak tahu. Bagaimana mungkin tahu faktanya kalau dia tidak menelusuri lebih lanjut lagi. 

Sama seperti orang baca tautan berita di internet sekarang ini. Yang dibaca hanya judulnya saja, lalu sejurus kemudian langsung membagikan tautan itu kemana-mana. Padahal benar atau tidaknya berita itu belum jelas. Isi beritanya saja tidak dibaca, tapi bisa berkomentar dengan cepat lalu dibagikan ke orang lain. 

Jaman sekarang begitu mudah dan cepat mencari berita. Media online khususnya, bisa dengan mudah memuat sebuah berita hanya berbekal postingan dari seseorang. Misalnya, ada artis yang memuat fotonya di sosial media dengan menambahkan keterangan: liburan di Bali. Hanya dengan sebuah foto dan sepenggal kalimat itu, sudah bisa jadi materi berita. Dengan membuat isi berita sesuai imajinasi si penulis. Tak lupa menyertakan beberapa tanggapan atau komentar yang menarik. 

Bukan hanya sebuah foto, cuitan atau tulisan status di media sosial seperti facebook, twitter, dain lainnya bisa menjadi bahan dasar untuk merangkai kalimat menjadi berita. Yang sepertiya berita itu pun tidak dikonfirmasi dan diklarifikasikan ke subjek berita tersebut. 

Orang-orang sekarang tampaknya lebih senang seperti itu. Membaca judul yang mereka sukai, sebelum dibaca dan dipelajari lagi sudah dibagikan ke orang lain. Padahal setidaknya baca dulu isi beritanya, pahami, lalu pikirkan apakah tulisan itu patut untuk diketahui orang lain. Ada manfaatnya atau tidak. Jika dibagikan apa akan memicu keributan, menimbulkan debat tak tentu arah. 

Dalam menyikapi segala sesuatu, marilah untuk memulai berhenti sejenak untuk berpikir dan memahami sebelum berpendapat. Dan bukankah lebih baik diam jika tidak memahami. Daripada berbicara tetapi asal. Apalagi sampai menimbulkan perdebatan dan keributan. Bukankah Rasulullah mengajarkan kita untuk menghindari perdebatan, sekali pun kita benar. 

Maafkanlah tulisan saya yang ngaco

Mana Tahaaaaaan

Mana Tahan adalah judul film pertama Warkop pada tahun 1979. Film yang mengisahkan tentang problematika anak kuliah dan anak perantauan di Jakarta. Film ini sangat sukses pada jamannya, ditambah pamor Warkop, yang waktu itu masih bernama Warkop Prambors, yang beranggotakan Dono, Kasino, Indro, dan Nanu sedang ngetop-ngetopnya.

Bukan karena sekarang lagi tayang Warkop DKI Reborn saya jadi ngebahas film warkop. Justru bukan tentang filmnya yang saya mau bahas. Di film Mana Tahan itu ada salah satu soundtrack lagu yang menggelitik nalar pikiran saya. Dengan judul yang sama Mana Tahan. Kalau anda penggemar Warkop sudah tidak perlu dijelaskan lagu yang mana dan seperti apa, tapi bagi yang baru tahu Warkop dan atau tidak familiar dengan lagu-lagunya bisa googling di youtube. Eh, searching di youtube. Karena saya baik, Saya kasih deh nih link youtube-nya Mana Tahan. Plus lirik lagunya kurang lebih seperti ini.

Mana mana tahan mana mana tahan lihat jaman sekarang

Pemuda pemudi berani pacaran di tengah jalan

Mana mana tahan mana mana tahan cara pakaiannya

Jikalau bergaya jikalau bergaya aduh seksinya

Lihat mana tahaaan

Kalau gadis-gadis sekarang pacaran maunya di jalan

Lihat pemuda yang tampan dia saling berkedip-kedipan

Mana tahan mana tahan lihat gadis jaman sekarang

Mana tahan mana tahan keadaan jaman sekarang

Lagu ini hadir di film tahun 1979, tapi makna pada liriknya masih relevan dengan kondisi di tahun 2016 ini. Bahkan bisa jadi lebih parah. Kita bisa cerna pada lirik itu kalau pada tahun 70-an pacaran di jalanan saja sudah disebut berani dan dianggap kurang beretika mungkin pada jaman itu. Mari kita bandingkan dengan jaman kekinian ini. Pacaran di jalan bahkan sudah menjadi lumrah dan biasa saja. Bukan sesuatu yang luar biasa sehingga bisa disebut berani. Bukan hanya di taman saja, bahkan di fly over di jalanan yang rame kendaraan. Belum lagi yang di semak-semak, eh.

mana-tahan-4mana-tahan-2

Jaman dulu bisa pegangan tangan pun bisa jadi sesuatu yang luar biasa, sekarang hal yang biasa saja. Lebih parahnya sambil rangkulan, pelukan di tempat umum. Jaman sekarang bukan saja hanya berani pacaran di jalanan, lebih berani lagi pacaran di kamar berduaan, atau berendam bersama di Jacuzzi, pelukan, ciuman, foto-foto, dibuat videonya, lalu disebarkan di media sosial untuk konsumsi publik.

mana-tahan-6mana-tahan-5

Jangankan di tahun 2016, jaman saya saja ada dua orang beda kelamin dalam satu kamar, orang sudah bisa menduga macam-macam. Apalagi kamarnya ditutup. Dan jika pelukan, ciuman saja mereka tidak malu untuk melakukannya di tempat umum bahkan sampai dipertontonkan untuk konsumsi publik, apa yang bisa dilakukan mereka di ruangan tertutup hanya berdua saja? Ditambah lagi sekarang ini, tidak hanya beda kelamin berada berduaan di kamar yang dicurigai, kelamin sejenis saja dicurigai sekarang mah.

Lirik selanjutnya yang menggelitik saya yaitu cara pakaiannya jikalau bergaya aduh seksinya. Tahun 70an image seksi itu seperti apa? Tahu yang namanya Eva Arnaz, itu sosok yang sering disebut sebagai artis bom seks tahun 70-an sampai 80-an. Gaya berpakaian di film-filmnya memang terbuka, apalagi film-filmnya kategori film panas yang vulgar pada waktu itu. Film vulgar jaman dulu laku dan tidak kena sensor, luar biasa. Sekarang mah kalau ada film macam itu lagi, belum tayang sudah rame didemo orang berkedok ormas mencari keuntungan.

mana-tahan-7

Kalau dilihat lagi di film Mana Tahan, gaya pakaian para pemain wanita bisa dibilang tertutup. Nyaris tidak ada yang terlalu terbuka. Rok pun sebatas lutut. Baju dengan model lengan potong alias yang keteknya keliatan. Itu pun bagian dada masih tertutup rapat. Yang disebut seksi pada jaman itu memang yang terbuka seperti Eva Arnaz itu. Atau yang terlalu mengekspos bagian paha dan dada.

Jaman sekarang. Kita terbiasa melihat pakaian u can see alias tanktop dengan rok mini di atas lutut berseliweran di tempat-tempat umum. Yang menonjolkan belahan dada perempuan pun tidak sedikit. Seksi memang tak melulu soal pakaian. Tapi, seksi di mata lelaki simple-nya ya terbuka. Paling tidak paha dan dada bisa terpampang jelas di mata lelaki, sudah bisa masuk kategori seksi. Ditambah dengan jaman media social saat ini. Tidak bisa dipungkiri, perempuan seksi bisa dengan mudah dilihat. Bisa di twitter, instagram, atau Bigo.

Poin saya adalah bahwa lagu tadi muncul tahun 1979 sudah menggambarkan tentang gaya pacaran yang buka-bukaan di public sampai gaya berpakaian yang seksi, dan sampai 37 tahun dari lagu itu ternyata kondisinya masih sama. Gaya pacaran yang buka-bukaan dan gaya berpakaian yang seksi. Perilaku orang dulu dengan yang sekarang tidak berbeda jauh. Bedanya sekarang lebih bebas lagi dan lebih terekpose. Lebih tidak ada rasa malu lagi untuk menunjukkan sesuatu yang sebenarnya masih dibilang vulgar dan tabu. Seandainya pun dulu ada internet dan media sosial yang mudah sekali untuk menjadi media berekspresi, mungkin kita bisa lihat Eva Arnaz live di Bigo memamerkan bulu keteknya.

Perjalanan

23 Desember 2015

Hari ini saya sudah menjadwalkan untuk pulang ke Jawa. Ke tempat istri saya di Bekasi. Jadi, pagi buta tepatnya subuh sekali jam 4 bahkan sebelum adzan subuh menggema saya sudah berangkat dari tempat kerja saya di Bangko, Riau. Dengan memacu kuda besi kesayangan saya si putih scoopy, saya menembus dinginnya cuaca subuh yang merasuk ke dalam sanubari…cielaah kemana atuh sanubariiiii! hahahaha… Si putih saya pacu untuk mengejar waktu sampai di Duri paling lambat jam setengah 6 pagi. Karena saya mau berangkat lagi dengan travel jam 7 pagi.

Perjalanan Bangko – Duri biasanya memakan waktu sekitar 1.5 sampai 2 jam lamanya. Dengan kecepatan sedang antara 60 km/jam – 80 km/jam, ya kecepatan si scoopy paling banter juga cuma sampai 90 km/jam. Itu pun gasnya udah poooool banget. Jam 5 saya singgah dulu di pom bensin untuk buang air dan shubuhan dulu. Setelah itu melanjutkan perjalanan. Terjadi sedikit tragedi waktu ke luar dari pom bensin. Karena jalanan licin berpasir, entah kenapa motor jadi sedikit slip sampai terjatuh. Untungnya (orang Indonesia selalu saja masih ada untungnya), saya langsung loncat jadi hanya motor yang jatuh. Cuma korbannya si putih sedikit lecet-lecet, handle rem sebelah kanan bengkok, juga dengan spionnya. Meskipun begitu harus tetap lanjut mengejar waktu, langsung tancap gas pol lagi ber-scoopy ria.

Jam setengah 6 lebih sedikit saya sudah sampai di Duri. Langsung beres-beres barang yang mau dibawa pulang, lalu mandi. Sudah ganteng dan keren tinggal menunggu jemputan travel. Dan, penyakit kalau sedang menunggu mau berangkat begini, selalu mules menyerang -_-*. Jadi, sambil menunggu ya harus bongkar muat dulu supaya tidak terjadi salah paham nantinya.

Travel datang jam 7:15. Mobilnya kijang innova, penumpangnya full dan saya kebagian duduk di belakang. Mobil langsung melaju dengan cepat ke Pekanbaru. Penerbangan saya memang jam 13:05, tapi lebih cepat sampai lebih baik. Apalagi jalanan Duri – Pekanbaru sering tidak terduga. Kadang macet tiba-tiba gegaranya ada truk yang terguling di tepi jalan. Apalagi kalau sedang pekerjaan perbaikan jalan, walah macetnya parah bisa sampai 12 jam lebih.

Alhamdulillah, jalanan pada saat itu sedang baik dan lancar jaya. Perjalanan normal Duri – Pekanbaru ditempuh dalam waktu kurang lebih 3 jam sampai 4 jam tergantung kecepatan dan keahlian memotong kendaraan lain. Supir-supir travel ini jangan diragukan lagi soal itu, lihai sekaligus menakutkan sih. Sering mepet-mepet kendaraan lain. Apalagi kendaraan di jalan ini kebanyakan truk-truk besar dan bus-bus AKAP. Mengerikan.

Jam 10:45 sudah sampai lagi di Sultan Syarif Kasim II International Airport Pekanbaru. Masih lama ke penerbangan saya jam 13:05. Lumayan bisa makan pagi sekaligus makan siang di restoran cepat saji di dalam area bandara. Sambil menunggu waktu memang kadang-kadang asik sendiri memperhatikan perilaku-perilaku orang di bandara ini. Macam-macam memang kelakuan orang Indonesia.

Jam 13:15 baru boarding ke pesawat citilink, terlambat 10 menit dari jadwal seharusnya. Sampai di pesawat pun masih harus delay ketika take off. Entah menunggu giliran atau karena apa, jadi take off kira-kira jam setengah 3. Kira-kira karena waktu saya tidak pakai jam, dan hp kan dimatikan semua. Dalam pesawat ini saya tidak bisa cerita banyak, karena saya tidur sampai mau landing. 😀

1 jam 45 menit adalah waktu yang ditempuh pesawat dari Pekanbaru ke Jakarta (Tangerang sih harusnya bukan Jakarta). Dan ya, saya sampai di bandara Cengkareng jam 16:00. Tujuan saya belum selesai, dari Soetta saya masih melanjutkan perjalanan ke Bekasi. Dari bandara saya naik bis Damri tujuan Bekasi Barat untuk turun di terminal Kayuringin. Saya baru sadar, kalau saya pulang ini di saat long weekend dan liburan anak sekolah. Pastinya macet!

Bis Damri yang biasanya 15 menit atau 30 menit saya menunggu, kali ini harus dengan ekstra sabar menunggunya. Ada beberapa bis damri Bekasi Barat yang tiba, tapi tidak mengangkut penumpang. Karena bis itu yang baru datang ke bandara dan harus menurunkan penumpang yang mau berangkat. Jadi, dia harus memutar dulu baru kembali lagi ke tempat saya untuk menjemput penumpang yang akan menuju Bekasi. Tetapi, sudah ada sekitar 5 bis damri Bekasi yang lewat tidak satu pun yang mau menaikan penumpang, karena belum memutar. Bis yang tadi itu masih terjebak kemacetan di area bandara. Gila. Memang di area bandara volume kendaraan begitu banyak. Mobil-mobil pribadi mendominasi jalanan bandara.

Akhirnya saya dapat bis juga jam setengah 6 sore. Itu pun bukan bis Bekasi Barat. Bis jurusan lebak bulus dialihkan untuk membantu penumpang Bekasi yang memang sudah menumpuk. Di terminal 1C, tempat saya menunggu ada sekitar 15 lebih orang yang masuk ke bis itu. Lalu bis menuju terminal 2, seketikaa bis itu langsung penuh tanpa sisa. Entah, kemana bis Bekasi Barat yang dari tadi sudah lewat itu.

Dapat bis bukan berarti sudah selesai. Untuk keluar dari area bandara Soetta pun penuh perjuangan. Macetnya parah sekali! Lalu lintas saat itu memang sedang luar biasa hebat macetnya. Keluar dari tol bandara masuk ke tol menuju dalam kota, seingat saya dari gerbang tol Angke sudah langsung disuguhi padatnya kendaraan yang tidak bergerak. Panjang! Tol alias jalan bebas hambatan alias jalan jalur cepat, tidak ada bedannya dengan jalanan umum biasa non-tol. Mobil cuma bergerak paling panjang sekitar 5 meter. Edan!

Semua perkiraan meleset. Mulai dari saya tiba Soetta harusnya jam 3 sore jadi jam 4 sore. Yang harusnya saya sudah tiba di Bekasi jam 5 sore, sampai jam 7 malam saya masih di jalan tol. Oke, skip perjalanan macet yang tiada ujungnya itu. Akhirnya saya sampai Bekasi di Terminal Kayuringin jam 12 malam!!!! Edan banget…. Bandara Soetta – Bekasi ditempuh dengan hanya 6 jam saja. Biasanya juga paling lambat 2 jam. Pantat sudah tidak beraturan bentuknya.

Jam 12 malam. Yang tadinya istri saya mau jemput di terminal, dari jam 9 sudah saya suruh menunggu di kosan saja. Dari terminal saya langsung ke kosan pakai ojek dengan harga 25 rebu rupiah. Ah, berapa pun terserah yang penting sampai kosan. Sudah kangen istri, lapar, dan capek sekali, gerah, ingin mandi biar segar. Setengah satu malam dini hari, sampai di kosan. Disambut istri, cuci-cuci, makan, mandi, kangen-kangenan lalu istirahat. Luar biasa capek! Besok masih ada perjalanan lagi…

Luar biasa memang macet ini. Parah. Volume kendaraan yang banyak, kebanyakan mobil pribadi. Tujuannya adalah rekreasi karena libur panjang. Dengan banyaknya mobil kendaraan pribadi, ini membuktikan bahwa sebenarnya tingkat ekonomi masyarakat Indonesia sudah banyak yang di atas rata-rata. Paling tidak jika itu bukan mobil pribadi, mobil rental katakan, tentunya dengan merental mobil dengan harga 300 ribu paling murah. Memang tidak ada yang melarang sih orang liburan, salah saya mungkin pulang di hari orang libur. Baiklah, nanti saya akan menjadwalkan liburan di mana orang tidak libur. 🙂