First Born: Good News

Udah lama ga nulis, mumpung lagi cuti dalam rangka menjadi suami siaga menunggu istri melahirkan anak pertama kami. Jadi, mau sedikit bercerita tentang serba-serbi pengalaman baru ini.

Sebagai pasangan yang baru menikah, tentunya punya keinginan untuk mendapatkan keturunan. Saya dan istri sempat berdiskusi mengenai hal ini, kapan mau punya anak, mau cepat atau ditahan dulu. Sebenarnya sih prinsip kami ya segimana dikasih sama Allah. Pengennya jangan terlalu cepet, jangan terlalu lama juga. Rata-rata saja seperti kebanyakan orang.

Terlalu cepet juga kan kita masih pengantin baru yang masih pengen pacaran berduaan hehe… terlalu lama juga bakalan kesel nanti sama pertanyaan-pertanyaan orang kalo ketemu. Pertanyaan seperti istri sudah isi belum? Pertanyaan yang sebenarnya basa-basi yang ga perlu, toh kalo istri nanti hamil pun bakalan tahu dengan sendirinya mereka itu. Apalagi jaman media sosial, tinggal update status atau upload foto udah bisa tahu orang-orang sedunia.

April 2016, tepatnya tangga 28 April, saya pulang dari Riau ke Bekasi. Seperti biasa memang, dua mingggu sekali saya pulang. Tidak ada hal yang aneh hari itu. Sampai di rumah saya keliling rumah. Mencari sesuatu yang aneh, ya siapa tahu seperti sebelumnya ada tulisan welcome home dalam kertas post-it ditempel di cermin, atau ada cheese cake di kulkas sebagai hadiah selamat datang. Sayangnya ga nemu.

20160428_042800Tapi, pas duduk dan mau ngambil cemilan di meja. Kok, ada benda aneh yang mencurigakan di sana. Itu test pack! Itu loh alat buat cek kehamilan dari urin. Dan ada selembar kertas di sana yang bertuliskan: Welcome Home, daddy to be. From Mommy to be… Seketika kaget, dan lihat di test pack itu memang ada dua strip merah yang artinya positif hamil. Langsung sujud syukur.

Sore harinya sepulang istri dari kantor biar memastikan lagi, kami pergi ke dokter kandungan di RS Awal Bros Bekasi. Alasannya karena lebih deket dari kantor dan rumah. Hasil periksa lewat USG sama dokter, istri memang sedang hamil dan sudah terbentuk kantung hamilnya. Usianya diperkirakan sudah 5 mingguan. Dokter ngasih obat penguat rahim dan vitamin. FYI aja ini mah di RS Awal Bros mahal cuy. Periksa dokter plus USG dan obat resep ngabisin hampir 1 juta. Tanpa cetak foto USG. Nanti cari rumah sakit lain lah.

Alhamdulillah, akhirnya istri hamil. Tinggal ngejaga kandungannya biar sehat. Yang penting ibunya sehat, kandungannya pun ikut sehat. 6 bulan setelah menikah, dikasih kepercayaan dapat keturunan, sesuai ga terlalu cepet, ga terlalu lama dapatnya.

Segitu dulu aja, nanti cerita lain lagi. Tulisan ini bakalan berseri dalam satu judul inti First Born. Daaah…

Perspektif, Persepsi, dan Opini

Sebelum membahas apa yang saya maksud, mari kita lihat dulu pengertian dari ketiga kata itu dalam definisi formal dari kamus besar Bahasa Indonesia:

  • Perspektif menurut kamus besar Bahasa Indonesia (KBBI): [1] cara melukiskan suatu benda pada permukaan yang mendatar sebagimana terlihat oleh mata dengan tiga dimensi (panjang, lebar, dan tingginya); [2] sudut pandang; pandangan.
  • Persepsi menurut KBBI: [1] tanggapan (penerimaan) langsung dari sesuatu; serapan; [2] proses seseorang mengetahui beberapa hal melalui panca inderanya.
  • Opini menurut KBBI: pendapat; pikiran; pendirian.

Lebih gampangnya coba kita perhatikan gambar di bawah ini:

fb_img_1476287575097

Gambar di atas menunjukkan sebuah perspektif, gambaran silinder atau tabung yang merupakan bentuk 3 dimensi lalu dituangkan dalam media 2 dimensi. Dari gambar itu juga menunjukkan sebuah perspektif atau sudut pandang. Pada sisi biru yaitu sisi lingkaran, orang yang berada di sisi ini akan melihat silinder atau tabung itu hanya berbentuk lingkaran. Sedangkan pada sisi oranye yaitu sisi badan silinder, orang yang berada dari sisi ini akan melihat silinder atau tabung berbentuk seperti kotak atau persegi panjang.

Dengan sudut pandang berbeda menghasilkan bentuk yang berdeda. Bentuk lingkaran dan bentuk kotak itulah yang dinamakan persepsi. Penerimaan langsung dari apa yang dilihat. Anggapan dari satu sudut pandang. Apakah salah? Tentu tidak, pada dasarnya mereka mengambil kesimpulan dari apa yang dilihatnya pada sudut pandang tertentu. Dari satu sisi mata kita melihat satu bentuk. Dan kita berkesimpulan itulah bentuknya.

Dari apa yang kita lihat itu kemudian kita menyimpulkan bahwa bentuknya lingkaran atau kotak. Inilah yang namanya opini. Kita bisa mengeluarkan pendapat setelah melakukan observasi, literasi, atau mendengarkan. Dari kasus tabung di atas, pendapat kita diperoleh dari hasil penglihatan satu sudut pandang pada tabung.

Supaya kita tahu apa sebenarnya yang kita lihat, tentu tidak bisa dari satu sisi. Kita harus melihat keseluruhan benda itu. Barulah kita bisa melihat bahwa sebenarnya benda itu adalah tabung.

Mari lihat lagi gambar untuk kasus kedua di bawah ini:

perspektif69

Pada gambar di atas kasusnya adalah sebuah angka, perspektifnya adalah orang di sebelah kiri dan orang di sebelah kanan. Persepsinya adalah orang di sebelah kiri melihat itu angka 6 dan orang di sebelah kanan melihat itu angka 9. Kemudian masing-masing memberikan opini mengenai yang dilihatnya yaitu angka 6 dan angka 9. Siapa yang benar? Keduanya benar, karena mereka melihat dari sudut pandang masing-masing yang berbeda, tentunya lagi-lagi akan menghasilkan persepsi dan opini yang berbeda.

Opini mereka tidak akan bisa diubah selama tidak mengubah perspektif mereka. Cara untuk menyelesaikan kasus ini yaitu harus adanya aturan yang jelas mengenai bagaimana melihat angka ini. Aturannya bisa mengenai sudut pandang, dari mana harus kita lihat, kanan atau kiri. Atau dengan melihat bagian lainnya. Misalnya, jika sebelum dan sesudah angka itu atau kita sebut saja angka x ada angka-angka lainnya, maka perlu diperhatikan lagi polanya.

Jika sebelum angka x ada angka 1, 2, 3, 4, 5 kemudian angka x. kita bisa melihat polanya bahwa itu adalah deret angka beruntut. Jadi angka x bisa kita ambil kesimpulan adalah angka 6. Jika sebelum angka x itu ada angka 7, 8, lalu angka x. Dengan pola yang sama berarti itu adalah angka 9. Atau jika di depan angka x ada angka 1, 3, 5, 7, dan x. Kita bisa menilai bahwa polanya adalah angka ganjil, maka kita bisa menentukan kalau angka x itu adalah angka 9.

Pola-pola angka tadi itu merupakan gambaran keseluruhan yang membangun sudut pandang. Deret angka berurut atau deret angka ganjil merupakan sebuah sudut pandang yang jelas, sehingga persepsi kita pada angka x dapat diarahkan dengan benar sesuai polanya. Selama tidak ada polanya, tidak ada perspektif yang sama, maka akan selalu ada dua persepsi. Dan tidak bisa disalahkan karena tidak ada aturan yang jelas, tidak ada polanya.

Perspektif akan membangun persepsi dan persepsi akan menghasilkan opini. Orang akan mempertahankan opini mereka sesuai dengan persepsinya. Persepsi bisa benar atau salah tergantung dari perspektif. Maka perspektif menurut saya kunci untuk beropini. Jadi, jangan menilai sesuatu dari satu sisi saja, karena akan menimbulkan persepsi yang tidak sempurna. Perhatikan sisi-sisi yang lainnya, perhatikan juga aturannya, pola-polanya, itu akan membangun persepsi-persepsi yang lainnya sehingga opini yang kita dapatkan bukan opini membabi buta karena hanya melihat di satu sisi saja.

Tulisan saya ini juga hasil dari perspektif atau pandangan. Pandangan saya mengenai saya dan orang-orang lain mengeluarkan pendapatnya. Bagaimana mereka sangat mempertahankan pendapatnya. Dan Anda pun bisa mengambil perspektif, persepsi, dan opini yang lain dari tulisan saya ini.

enda42

Disclaimer: gambar-gambar ditulisan ini saya lupa dari mana sumbernya, kalau ada yang tahu bisa kasih tahu saya. Terima kasih.

Pikir Dulu

Suatu pagi ketika saya dalam perjalanan ke site tempat saya bekerja, jalanan ramai dan laju kendaraan sedikit terhambat. Ternyata di depan saya telah terjadi kecelakaan antara truk tangki minyak kelapa sawit dengan bus antar kota antar propinsi. Jika dilihat pada posisinya tabrakan itu bagian depan kedua kendaraan saling beradu. Istilah orang di sini menyebutnya adu kambing. Bukannya tadi yang tabrakan truk sama bis?  

Rekan kerja saya yang duduk di bangku belakang, sudah bisa menyimpulkan bagaimana kecelakaan itu terjadi. Posisi kedua kendaraan, disebutnya ada yang sedang mendahului tapi tidak melihat kendaraan lain dari arah berlawanan. Kendaraan yang lainnya melaju dengan kecepatan tinggi. Sampai adanya korban jiwa. Memang hebat dia, bisa tahu selengkap itu. 

Teringat hal itu, jadi mengingatkan saya bahwa rekan kerja saya memang seperti itu wataknya. Yang diketahuinya hanya depannya saja, tapi bisa bercerita sampai bagian akhir. Ibarat baca buku, baru baca judulnya saja, sudah bisa menceritakan akhir dari buku itu. Yang dia ceritakan hanya asumsi dan khayalan di kepalanya saja. Faktanya dia tidak tahu. Bagaimana mungkin tahu faktanya kalau dia tidak menelusuri lebih lanjut lagi. 

Sama seperti orang baca tautan berita di internet sekarang ini. Yang dibaca hanya judulnya saja, lalu sejurus kemudian langsung membagikan tautan itu kemana-mana. Padahal benar atau tidaknya berita itu belum jelas. Isi beritanya saja tidak dibaca, tapi bisa berkomentar dengan cepat lalu dibagikan ke orang lain. 

Jaman sekarang begitu mudah dan cepat mencari berita. Media online khususnya, bisa dengan mudah memuat sebuah berita hanya berbekal postingan dari seseorang. Misalnya, ada artis yang memuat fotonya di sosial media dengan menambahkan keterangan: liburan di Bali. Hanya dengan sebuah foto dan sepenggal kalimat itu, sudah bisa jadi materi berita. Dengan membuat isi berita sesuai imajinasi si penulis. Tak lupa menyertakan beberapa tanggapan atau komentar yang menarik. 

Bukan hanya sebuah foto, cuitan atau tulisan status di media sosial seperti facebook, twitter, dain lainnya bisa menjadi bahan dasar untuk merangkai kalimat menjadi berita. Yang sepertiya berita itu pun tidak dikonfirmasi dan diklarifikasikan ke subjek berita tersebut. 

Orang-orang sekarang tampaknya lebih senang seperti itu. Membaca judul yang mereka sukai, sebelum dibaca dan dipelajari lagi sudah dibagikan ke orang lain. Padahal setidaknya baca dulu isi beritanya, pahami, lalu pikirkan apakah tulisan itu patut untuk diketahui orang lain. Ada manfaatnya atau tidak. Jika dibagikan apa akan memicu keributan, menimbulkan debat tak tentu arah. 

Dalam menyikapi segala sesuatu, marilah untuk memulai berhenti sejenak untuk berpikir dan memahami sebelum berpendapat. Dan bukankah lebih baik diam jika tidak memahami. Daripada berbicara tetapi asal. Apalagi sampai menimbulkan perdebatan dan keributan. Bukankah Rasulullah mengajarkan kita untuk menghindari perdebatan, sekali pun kita benar. 

Maafkanlah tulisan saya yang ngaco