Menantang Diri

Hello! Salam hangat kepada siapa pun yang meluangkan waktunya untuk membaca tulisan ini. Sudah lama saya tidak menulis di blog ini, karena sibuk dan kadang juga tidak tahu mau menulis tentang apa. Atas dasar itulah sepertinya saya harus menantang diri saya sendiri untuk konsisten dalam menulis. apakah satu hari satu tulisan dapat saya lakukan? Mungkin saya akan coba tantangan itu dalam satu bulan ke depan.

Menulis sebenarnya sudah menjadi ketertarikan saya sejak SMP. Lama-lama menjadi hobi. Ketertarikan saya bermula ketika saya membaca novel Lupus karangan Hilman Hariwijaya, yang baru meninggal 9 Maret 2022 kemarin. Gaya bahasa yang ditampilkan pada novel itu sangat enak dibaca, humornya memang pas pada jamannya, serta memiliki karakter-karakter yang sangat kuat personanya.

Waktu SMP saya pernah membuat sebuah cerpen yang saya kirimkan ke majalah Aneka Yess! dan tentu saja cerpen itu gagal muat karena tidak sesuai kriteria majalah, katanya. Mungkin cerpennya memang tidak bagus, saya pun hampir lupa cerpen apa yang saya tulis waktu itu. Saya juga pernah membuat cerpen waktu di SMA untuk dipajang di mading alias majalah dinding, entah anak sekarang masih mengenal mading atau tidak? cerpen itu dipajang di mading memang, tetapi saya tidak tahu respon terhadap cerpen itu.

Terakhir yang saya ingat saya menulis cerpen untuk dijadikan sebuah koleksi perpustakaan, entah ada atau tidak yang membaca. Selain cerpen saya lebih banyak menulis puisi. Entah karena cerpen tidak berhasil bagi saya. Apakah puisi berhasil? Saya tidak tahu pasti, sepertinya cukup berhasil. Dari beberapa puisi yang saya buat dan dibaca oleh teman-teman mendapat respon yang bagus. Puisi-puisi itu pernah saya cetak sendiri dan dijlid sendiri menjadi buku. Buku itu dulu dipinjam teman-teman untuk dibaca dan sampai sekarang entah di mana keberadaannya. Sehingga saya tidak ada dokumentasi puisi-puisi lama saya. Puisi yang masih ada, beberapa saya posting di blog ini.

Blog ini saya buat juga sebagai sarana penyaluran hobi menulis saya. Cuma memang konsistensinya masih belum teratur. Entah kenapa, mungkin saya masih memikirkan feedback. Kadang saya merasa, tulisan saya ini bagus atau tidak, menarik atau tidak. Seharusnya saya tidak memikirkan itu. Jika kembali mengingat ketika saya SMA, saya punya satu buku semacam blog manual, karena belum mengenal blog kala itu. Jadi buku itu isinya seperti buku catatan harian tentang hal-hal yang saya alami. Menyenangkan menulis di sana, bisa mengekspresikan segala hal.

Sepertinya saya harus kembali ke konsep itu. Tulis saja semua ekspresi yang saya alami dengan gaya saya. Maka dari itu saya menantang diri saya sendiri untuk menulis secara konsisten. Satu hari satu tulisan? Semoga berhasil.

Sampai jumpa di tulisan saya selanjutnya!

Membuat Akta Kelahiran di Disdukcapil Kab. Garut

Sudah terlalu lama rasanya tidak menulis di sini. Kebetulan sekali ada tema yang ingin saya bagikan kepada teman-teman pembaca. Alhamdulillah baru saja saya diberikan kepercayaan lagi oleh Tuhan untuk memiliki anak kedua, seorang bayi laki-laki yang lahir melalui persalinan section caesare karena posisi bayi tidak berada di jalan lahir. Kelahiran ini tentu saja harus segera saya urus dokumennya supaya anak saya tercatat oleh negara. Saya harus mengurus akta kelahiran anak. Akta ini sangat penting untuk anak kita ke depannya. Akta selalu diminta dalam setiap pengurusan administrasi dalam hal apa pun, seperti daftar sekolah, buka rekening bank, melamar pekerjaan, pembuatan KTP, dan lain-lain. Untuk anak kedua ini saya berencana untuk mengurusnya oleh saya sendiri.

Untuk membuat akta kelahiran tentunya ada beberapa dokumen yang perlu disiapkan. Saya kutip dari persyaratan dukcapil yang saya unduh di pandu-online.garutkab.go.id, dokumen yang diperlukan antara lain;

  • Surat keterangan kelahiranya dari rumah sakit/ puskesmas/ fasilitas kesehatan/ dokter/ bidan atau surat keterangan kelahiran dari nahkoda kapal laut/ kapten pesawat terbang, atau dari kepala desa/ lurah jika lahir di rumah/ tempat lain, antara lain: kebun, sawah, angkutan umum.
  • Buku nikah/ kutipan akta pernikahan/ bukti lain yang sah.
  • Kartu Keluarga di mana anak akan didaftarkan sebagai anggota keluarga.

Sekarang bagaimana urutannya untuk membuat akta kelahiran anak baru lahir? Jadi setelah saya mengantri berjam-jam di disdukcapil Garut, untuk membuat akta kelahiran anak harus update kartu keluarga (KK) dengan memasukan data anak yang baru lahir ke dalam KK sehingga anak itu memiliki Nomor Induk Kependudukan (NIK). Saya tadinya ingin satu hari saja menyelesaikan urusan dukcapil ini, tetapi ternyata harus ada Surat Keterangan Lahir dari kelurahan atau lazim disebut komsen. Selain itu, saya juga harus mengisi formulir F-2.01 yang harus ada tanda tangan dan cap dari kelurahan. Formulir F-2.01 ini kemarin saya dapatkan dari kantor dukcapil, jika saja saya bisa mendapatkan secara online akan lebih mudah. Dan jika saja penjelasan tentang urutan pembuatan ini saya ketahui lebih dulu akan efesien.

Agar teman-teman yang membaca ini bisa mengikuti alur yang benar menurut saya, akan saya paparkan urutan yang seharusnya dilakukan.

  1. Siapkan dan lengkapi formulir F-2.01.
  2. Buat komsen/ surat keterangan lahir dari keluharan, sekaligus pengesahan formulir F-2.01 yang sudah diisi.
  3. Di kantor dukcapil update KK dengan memasukan nama dan data kelahiran anak agar mendapatkan NIK.
  4. Setelah data anak masuk dalam KK yang baru, lakukan proses pembuatan akta kelahiran anak.

Satu hal lagi mengenai formulir F-2.01 akan saya coba terangkan beberapa poin yang harus di isi.

  • Data bayi/anak. Pada bagian ini isi data anak yang baru lahir dengan lengkap sesuai form yang ada.
  • Data ibu. Pada bagian ini isi data ibu dari anak yang baru lahir dengan lengkap sesuai form yang ada.
  • Data ayah. Pada bagian ini isi data ayah dari anak yang baru lahir dengan lengkap sesuai form yang ada.
  • Data pelapor. Pada bagian ini isi data dari pelapor pembuatan anak yang baru lahir dengan lengkap sesuai form yang ada. Jika yang melapor ayahnya, isikan kembali data ayahnya.
  • Data saksi. Pada bagian ini isi data saksi-saksi (ada 2 saksi) kelahiran anak yang baru lahir dengan lengkap sesuai form yang ada.

Lengkapi formulir F-2.01 dengan lengkap dan jelas, ditanda-tangani oleh pelapor dan lurah. Sertakan juga fotokopi KTP dari Ibu, Ayah, Pelapor, dan Saksi untuk diserahkan di kantor dukcapil. Heran, sudah KTP-el masih saja perlu fotokopi ya. Seperti itu lah langkah untuk membuat akta kelahiran anak yang baru lahir. Setiap dokumen yang disiapkan, usahakan untuk fotokopi minimal 2 lembar untuk jaga-jaga jika diminta oleh petugas dukcapil.

Tadinya saya ingin membuat ini melalui online, apa daya situs dukcapil Garut pandu-online.garutkab.go.id sudah saya akses tetapi malah membingungkan. Entah ada kesalahan pada server-nya atau pada algoritma situsnya. Ketika meminta nomor antrian tidak ada tombol yang bisa diklik selain TUTUP. Berbeda dengan situs-situs dukcapil di kota lain yang saya cari di mesin pencari Google, sangat lancar, informasi lengkap, bahkan formulir yang diperlukan bisa diunduh langsung di sana. Semoga saja ada perbaikan, repot soalnya kalau harus langsung ke dukcapil. Saya harus mengantri panjang sampai mengular untuk mendapatkan nomor antrian, yang kemudian antri lagi untuk mendapatkan pelayanan sesuai nomor antrian yang didapat, lalu nanti antri lagi dipanggil untuk menerima hasil dari pelayanan. Melelahkan.

Itu saja, semoga bermanfaat.

formulir F-2.01 bisa diunduh di

http://dukcapil.sragenkab.go.id/download_formulir/16-formulir-f-201

Saga Drama Donnarumma

Gianluigi Donnarumma kiper timnas Italia yang akrab disapa Gigio sedang menjadi perbincangan panas di media sosial. Pada laga semi final UEFA Nations League antara timnas Italia melawan timnas Spanyol (07/10/2021) yang digelar di Stadion San Siro, Milan terjadi sebuah insiden yang melibatkan tifosi Italia, khususnya tifosi AC Milan yang melakukan ‘booing‘ kepada mantan kiper AC Milan tersebut. Hal ini pun memicu banyak perdebatan di media sosial, terutama tifosi Gli Azzuri yang juga tifosi Milan dan tifosi Gli Azzuri di luar tifosi Milan. Banyak yang mengkambinghitamkan booing itu menjadi salah satu penyebab Italia kalah 1-2 dari Spanyol.

Tifosi Italia di luar Milanisti banyak yang menyayangkan perlakuan Milanisti pada insiden di San Sirotersebut. Mereka berpendapat bahwa Gigio sedang berlaga membela timnas tidak sepantasnya dicemooh seperti itu. Banyak yang menyebut fans Milan kekanak-kanakan jika hanya karena Gigio hengkang dari AC Milan diperlakukan seperti itu ketika membela timnas. Sementara para fans AC Milan yang lain banyak yang mendukung apa yang dilakukan tifosi di stadion terhadap Gigio. Menurut mereka pantas saja dia menerima itu setelah apa yang dia lakukan kepada Milan. Drama kenaikan gaji dan perpanjangan kontrak yang terjadi selama ini yang membuat tifosi Milan memaklumi tindakan ultras Milan di San Siro yang notabene juga kandang AC Milan.

Mari kita flashback ke drama Donnarumma ini. Pada tahun 2017 drama ini dimulai ketika perpanjangan kontrak kiper berusia 18 tahun kala itu tidak ada kejelasan. Keinginan sang pemain dan agennya yang meminta kenaikan gaji yang cukup besar menjadi pangkal masalahnya. Sebelumnya Gigio menginginkan hengkang dari AC Milan. Buntut dari drama itu, pada laga Euro U-21 di Polandia antara timnas Italia melawan timnas Denmark, Gigio pun mendapat hujatan dari fans. Karena dianggap mata duitan, ada fans yang melempari Gigio di lapangan dengan uang dollar tiruan. Ada juga fans yang membentangkan spanduk dengan tulisan: “Dollarumma”.

Alotnya proses negoisasi ini akhirnya mencapai kesepakatan perpanjangan kontrak Gigio selama 5 musim dengan gaji 6 juta euro per musim. Nilai ini menjadikan sang kiper muda menjadi pemain dengan gaji tertinggi kedua di AC Milan setelah Ibrahimovic yang digaji 7 juta euro, juga menjadikan Gigio pemain muda dengan bayaran termahal di Serie A.

Drama kedua tentu saja bursa transfer musim 2021 kemarin, Gigio yang akan berkahir masa kontraknya dengan AC Milan belum juga berniat memperpanjangnya. Bahkan Milan sudah menawarkan kenaikan senilai 8 juta euro, tetapi sang pemain dan agennya, Mino Raiola, dikabarkan meminta nilai sebesar 12 juta euro per musim. Fantastis bukan? Negoisasi pun berlangsung tarik ulur antara kedua pihak hingga akhirnya memaksa Milan mengambil keputusan dengan merekrut kiper Perancis Mike Maignan, dan mempersilakan Gigio hengkang jika itu memang keinginan pemain tersebut. Akhirnya Gigio hengkang dengan status free transfer, kemudian menerima tawaran dari PSG dengan nilai 6 juta euro, nilai yang lebih rendah dari yang ditawarkan AC Milan.

Dari dua saga drama transfer Donnarumma sudah cukup untuk tifosi AC Milan melabeli Gigio dengan julukan pengkhianat. Berlebihan kah? Saya rasa tidak. Ada beberapa hal yang menyebabkan julukan itu wajar. Kita tahu Gigio adalah pemain akademi Milan primavera sejak 2013, pemain muda yang kemudian masuk daftar tim utama ketika pra musim 2015 di China oleh pelatih Mihajlovic. Debut resmi berseragam AC Milan pada 25 Oktober 2015 laga Serie A pada usia 16 tahun menjadikannya sebagai kiper termuda di Liga Italia.

Selama berseragam Milan, tidak jarang Gigio memberikan pernyataan bahwa dia ingin menjadi legenda AC Milan, menjadi La Bandiera seperti Maldini, dan ingin menjadi kapten tim AC Milan. Sebuah pernyataan yang sungguh membuai dan membuat tifosi terkagum. Sebagai milanisti juga saya kecewa dengan keputusan Gigio itu jika mengingat apa yang telah terjadi sejak Gigio debut di tim utama Milan. Gigio menjadi kiper yang tak tergantikan, kepiawaiannya di bawah mistar gawang tidak diragukan. Terbukti dengan tidak sedikit Milan meraih kemenangan dengan catatan clean sheet.

Banyak para ‘pengamat’ yang mengatakan bahwa kesalahan Milan lah yang melepas Gigio dengan free transfer. Kenapa Milan tidak mengabulkan keinginan pemain jika pemain itu dibutuhkan Milan? Ada dua hal yang mendasar untuk menjawab pertanyaan tersebut. Pertama kondisi finansial Milan, bukan karena AC Milan tidak punya uang. Perhitungan yang matang dari segi teknis dan non-teknis tentunya. Budget yang ada juga bukan untuk dihabiskan ke satu pemain saja, Milan perlu pemain di segala lini. Kalau perlu belanja pemain kenapa lepas Gigio dengan free transfer? AC Milan masih berharap Gigio akan sepakat dengan tawaran Milan, dan tawaran itu tidak akan berubah. Pun sampai tidak ada kesepakatan, budget Milan tidak hilang.

Dasar kedua tentu saja Maldini’s Factor. La Bandiera Milan ini punya strategi dan prinsip dalam mengelola dan memajukan Milan. Sebagai direktur teknik, Maldini menginginkan komposisi tim yang seimbang sesuai dengan kebutuhan tim. Tentunya dia juga mempunyai pemikiran bahwa jersey Milan untuk mereka yang benar-benar menginginkannya. Jadi, ketika ada pemain yang ingin hengkang atau tidak ada titik temu antara keinginan pemain dengan klub, maka kepentingan klub akan lebih diutamakan. Itulah menurut saya dua dasar utama kenapa Milan tidak begitu ngotot terhadap Donnarumma. Milan melihat keinginan Gigio untuk pergi lebih besar daripada keinginan untuk bertahan di Milan.

Soal pengkhianatan? Bayangkan, seorang anak muda dari didikan akademi Milan diberikan kesempatan masuk ke tim utama pada umur yang belia, 16 tahun, kemudian dipercaya menjadi kiper utama beberapa musim. Pemain inti, pemain didikan akademi yang sering berbicara tentang mimpi menjadi legenda klub, menjadi ikon klub, menjadi kapten tim, mengukir sejarah, dan bahkan pensiun di Milan. Tetapi membuat kisruh di setiap bursa transfer, tanpa sedikit pun menunjukkan langkah untuk mewujudkan impiannya. Apa yang dia lakukan pada perpanjangan kontrak bertolak belakang dengan apa yang dia impikan. Jika saya menjadi Gigio, saya akan meminta agen saya untuk melakukan sesuatu agar saya tetap di Milan, jika agen tidak bisa, kemungkinannya saya akan berganti agen. Bukan hanya menurut keinginan dan atau arahan agen. Sejatinya agen hanya perantara pemain, posisi menentukan tetap ada di pemain itu sendiri.

Agen pemain Mino Raiola juga agennya Ibrahimovic. Ibra dengan tegas menginginkan bertahan di Milan, Raiola mengikuti keinginan Ibra. Kasus yang sama terjadi dengan Romagnioli yang juga diageni oleh Raiola. Baru-baru ini dalam sebuah artikel media Italia, Romagnioli mengatakan dia ingin bertahan di AC Milan, jika tidak bisa dia akan berganti agen. Memang belum terbukti, tetapi menjanjikan. Kenapa Gigio tidak seperti mereka? Bahkan pernyataan keinginan bertahan pun semu.

Pada akhirnya tetap seperti apa yang dikatakan Maldini, kita cuma bisa mendoakan yang terbaik untuknya.

%d bloggers like this: